Beritakota.id, Jakarta – Pasar minyak global akhirnya mendapatkan kabar yang selama berminggu-minggu ditunggu para pelaku pasar: Selat Hormuz kembali dibuka, blokade maritim terhadap Iran mulai dicabut, dan kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran memberi harapan bahwa salah satu jalur energi paling penting di dunia dapat kembali beroperasi normal.

Respons pasar berlangsung cepat. Harga minyak Brent langsung tergelincir ke bawah US$80 per barel, level yang belum terlihat selama lebih dari empat bulan terakhir. Ketegangan geopolitik yang sebelumnya mendorong harga energi melonjak mendadak kehilangan daya dorongnya. Namun, di balik meredanya ketegangan Timur Tengah, muncul cerita lain yang justru lebih penting bagi masa depan pasar minyak dunia. Cerita itu datang dari China.

Baca juga : Wall Street Menguat Setelah Kesepakatan AS-Iran, Harga Minyak Turun

Selama bertahun-tahun, China merupakan mesin permintaan energi terbesar di dunia. Ketika ekonomi global melemah, ketika Eropa mengalami perlambatan, atau ketika Amerika Serikat memasuki fase penyesuaian, pasar minyak selalu memiliki satu harapan yang sama yakni China akan terus membeli. Kini asumsi tersebut mulai dipertanyakan.

Permintaan Turun, Alarm Dari China Menyala

Data terbaru menunjukkan aktivitas pengolahan minyak mentah di China turun 9,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi sekitar 12,7 juta barel per hari. Angka tersebut merupakan salah satu penurunan terdalam dalam beberapa tahun terakhir dan membawa tingkat operasi kilang ke posisi terendah sejak 2022.

Penurunan ini tidak terjadi tanpa alasan. Margin pengolahan yang tertekan, lemahnya permintaan bahan bakar domestik, serta pembatasan ekspor produk energi membuat banyak kilang mengurangi aktivitasnya. Situasi itu menciptakan efek berantai yang lebih luas terhadap permintaan minyak mentah.

Data impor juga menunjukkan arah yang sama. Arus minyak mentah yang masuk ke pelabuhan-pelabuhan China sepanjang Juni kembali turun dibandingkan bulan sebelumnya. Bahkan setelah mencapai titik terendah dalam beberapa tahun terakhir pada Mei, impor minyak belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang berarti.

Bagi pasar energi global, sinyal ini jauh lebih penting dibandingkan pergerakan harga harian. Perang dapat menaikkan harga minyak dalam hitungan jam. Namun, permintaan yang melemah mampu mengubah tren pasar selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Yang menarik, pelemahan tersebut tidak hanya terlihat pada sektor energi. Penjualan ritel China tercatat mengalami kontraksi untuk pertama kalinya sejak pandemi COVID-19. Konsumen yang sebelumnya menjadi pilar pemulihan ekonomi mulai menunjukkan kehati-hatian yang lebih besar dalam membelanjakan uang mereka.

Dalam konteks energi, perlambatan konsumsi rumah tangga sering kali menjadi indikator awal bahwa aktivitas ekonomi yang lebih luas sedang kehilangan momentum. Ironisnya, sinyal pelemahan permintaan ini muncul pada saat pasokan global justru mulai membanjir.

Di Timur Tengah, normalisasi jalur pelayaran membuat minyak dari kawasan Teluk kembali mengalir ke pasar Asia. Perusahaan energi nasional Uni Emirat Arab, ADNOC, dilaporkan telah menjual puluhan juta barel minyak mentah ke pembeli Asia sepanjang Juni. Qatar juga bersiap mengembalikan kapasitas produksi gas alam cairnya setelah gangguan akibat konflik regional.

Sementara itu, Rusia mencatat ekspor minyak laut tertinggi sepanjang tahun ini. Serangan terhadap sejumlah kilang domestik justru mendorong lebih banyak minyak mentah dialihkan ke pasar ekspor. Di Afrika Utara, Libya kembali mempercepat pengembangan proyek eksplorasi baru bersama sejumlah perusahaan energi Eropa.

Dari Norwegia hingga Yunani, perusahaan-perusahaan energi juga mulai mengambil posisi untuk memanfaatkan prospek pasokan yang lebih stabil pasca meredanya ketegangan geopolitik.

Dengan kata lain, dunia sedang menghadapi kombinasi yang jarang disukai produsen minyak yakni pasokan bertambah ketika permintaan melemah. Kondisi inilah yang menjelaskan mengapa sejumlah bank investasi besar mulai mengubah pandangan mereka terhadap harga minyak.

Pertumbuhan Melambat, Proyeksi Harga Lebih Rendah

Goldman Sachs dan Morgan Stanley termasuk di antara lembaga yang menurunkan proyeksi harga Brent untuk akhir tahun. Langkah tersebut bukan semata-mata didasarkan pada optimisme terhadap perdamaian di Timur Tengah, melainkan pada perubahan fundamental yang lebih mendasar: pasar mulai meragukan kekuatan permintaan global, terutama dari China.

Selama dua dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi China menjadi fondasi utama kenaikan konsumsi energi dunia. Ketika negara itu membangun kota-kota baru, memperluas jaringan transportasi, dan mengembangkan sektor manufaktur, kebutuhan minyak meningkat secara konsisten.

Kini, mesin pertumbuhan tersebut tampak mulai bergerak lebih lambat.

Tentu masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa China sedang memasuki fase penurunan permanen dalam konsumsi energi. Pemerintah Beijing masih memiliki berbagai instrumen stimulus yang dapat digunakan untuk menopang aktivitas ekonomi. Selain itu, kebutuhan energi negara tersebut tetap termasuk yang terbesar di dunia.

Namun pasar tidak bergerak berdasarkan kondisi hari ini saja. Pasar bergerak berdasarkan ekspektasi terhadap masa depan. Dan saat ini, ekspektasi tersebut sedang berubah. Selama beberapa pekan terakhir, perhatian investor tersedot oleh kemungkinan eskalasi konflik di Timur Tengah. Risiko geopolitik menjadi tema dominan yang menggerakkan harga minyak, gas, hingga logam industri.

Kini, setelah ancaman tersebut mulai mereda, perhatian pasar perlahan bergeser ke pertanyaan yang jauh lebih mendasar. Jika dunia kembali memiliki cukup minyak, siapa yang akan mengonsumsinya?. Jawaban atas pertanyaan itu mungkin tidak lagi berada di Hormuz, Teheran, atau Washington. Jawaban tersebut kemungkinan berada di Beijing. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *