Beritakota.id, Jakarta – Film horor Indonesia terus berevolusi. Jika selama ini layar lebar identik dengan kisah hantu, kutukan, atau makhluk gaib, film Monster Pabrik Rambut menawarkan ketakutan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat modern: tekanan kerja yang berlebihan dan sistem yang dianggap semakin tidak manusiawi.

Film karya sutradara Edwin tersebut menghadirkan perpaduan antara fantasi gelap dan body horror untuk menggambarkan realitas yang banyak dialami pekerja di era modern. Alih-alih mengandalkan sosok supranatural, ketakutan dalam film ini lahir dari rutinitas yang selama ini dianggap biasa.

Bagi Edwin, horor sejatinya selalu berangkat dari keresahan manusia terhadap kondisi sosial yang sedang berlangsung.

“Ketika berbicara tentang sistem kerja yang tidak manusiawi dan budaya kerja berlebihan, hal itu sendiri sudah menjadi sumber ketakutan yang sangat kuat untuk diterjemahkan ke dalam film horor,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (1/6/2026).

Baca juga: Review Film Colony; Ketakutan Yang Tak Pernah Mati

Horor yang Lahir dari Dunia Kerja

Fenomena bekerja hingga larut malam, tekanan target, kelelahan fisik, hingga hilangnya keseimbangan hidup menjadi tema utama yang diangkat dalam film ini.

Edwin menilai ketakutan masyarakat modern tidak selalu berasal dari dunia mistis. Dalam banyak kasus, rasa takut justru muncul dari tekanan yang terjadi setiap hari di lingkungan kerja maupun kehidupan sosial.

Menurutnya, sejarah perfilman horor dunia juga menunjukkan bahwa banyak karya besar lahir dari respons terhadap perubahan sosial dan ekonomi pada masanya.

Film-film klasik seperti Dracula maupun Nosferatu, kata dia, tidak sekadar menghadirkan sosok monster, tetapi juga merefleksikan kecemasan masyarakat terhadap perubahan zaman.

“Horor selalu berhubungan dengan ketakutan manusia terhadap sistem dan realitas yang sedang mereka hadapi,” katanya.

Eka Kurniawan: Kehidupan Sehari-hari Bisa Lebih Menyeramkan dari Hantu

Penulis skenario Eka Kurniawan mengungkapkan bahwa gagasan awal film ini muncul dari keinginan menghadirkan horor yang lebih dekat dengan pengalaman masyarakat.

Menurut penulis novel-novel populer tersebut, kehidupan sehari-hari sering kali menyimpan ketakutan yang jauh lebih nyata dibandingkan kisah-kisah supranatural.

Lingkungan kerja, rutinitas yang berulang, tekanan ekonomi, hingga hubungan manusia dengan benda-benda di sekitarnya menjadi sumber inspirasi utama dalam penulisan cerita.

“Kehidupan sehari-hari juga bisa sangat horor. Banyak hal yang kita jalani setiap hari sebenarnya menyimpan tekanan yang tidak kita sadari,” ujar Eka.

Dalam film ini, suasana pabrik dan proses produksi rambut palsu (wig) menjadi latar utama yang membangun atmosfer mencekam sekaligus simbolis.

Rambut Sebagai Simbol Tekanan dan Eksploitasi

Salah satu elemen yang paling menonjol dalam film ini adalah penggunaan rambut sebagai simbol utama cerita.

Bagi Edwin, rambut bukan sekadar bagian tubuh manusia, melainkan representasi kondisi fisik dan psikologis seseorang.

Ketika seseorang mengalami tekanan berat, stres berkepanjangan, atau kelelahan ekstrem, perubahan pada rambut sering menjadi salah satu tanda yang paling mudah terlihat.

Mulai dari kerontokan, perubahan warna, hingga kerusakan rambut sering kali menjadi refleksi dari kondisi tubuh yang sedang berada di bawah tekanan.

Baca juga: Review Film Normal; Misteri Kota Kecil Yang Agak Laen 

Karena itu, rambut dipilih sebagai metafora untuk menggambarkan dampak sistem kerja yang eksploitatif terhadap manusia.

“Rambut memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kondisi fisik dan mental seseorang. Dari situ simbolisme dalam film ini berkembang,” kata Edwin.

Body Horror dan Kritik terhadap Sistem Modern

Monster Pabrik Rambut juga mengusung pendekatan body horror, subgenre horor yang menampilkan perubahan fisik tubuh sebagai sumber ketakutan.

Namun di balik visual yang mengganggu tersebut, film ini menyimpan kritik sosial mengenai relasi manusia dengan sistem kerja modern.

Tekanan produktivitas, tuntutan ekonomi, dan eksploitasi tenaga kerja menjadi isu yang secara perlahan dibangun melalui narasi maupun visual film.

Pendekatan tersebut membuat film ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga ruang refleksi bagi penonton terhadap realitas yang mereka hadapi sehari-hari.

Tayang Setelah Berlinale 2026

Sebelum dirilis di Indonesia, Monster Pabrik Rambut telah lebih dulu menjalani pemutaran perdana dunia dalam ajang Berlinale 2026, salah satu festival film paling bergengsi di dunia.

Partisipasi di festival internasional tersebut menjadi sinyal bahwa perfilman Indonesia semakin mendapat perhatian global, terutama untuk karya-karya yang berani mengangkat isu sosial melalui pendekatan sinematik yang berbeda.

Film ini diproduseri Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy dengan naskah yang ditulis oleh Eka Kurniawan.

Deretan pemain yang terlibat antara lain Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Kev, Sal Priadi, hingga Didik Nini Thowok.

Horor yang Mengajak Penonton Merenung

Berbeda dari film horor konvensional yang mengandalkan kejutan dan penampakan, Monster Pabrik Rambut berupaya meninggalkan kesan yang bertahan setelah lampu bioskop menyala.

Para kreatornya berharap penonton tidak hanya merasa takut selama menonton, tetapi juga membawa pulang pertanyaan tentang kehidupan, pekerjaan, dan sistem yang mereka jalani setiap hari.

Dengan pendekatan tersebut, Monster Pabrik Rambut berpotensi menjadi salah satu film horor Indonesia paling unik pada 2026, sekaligus memperluas definisi horor sebagai medium kritik sosial yang relevan dengan realitas masyarakat modern.

Film ini dijadwalkan mulai tayang di seluruh bioskop Indonesia pada 4 Juni 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *