Beritakota.id, Jakarta – Di tangan Hollywood modern, kota kecil tidak lagi selalu menjadi simbol kedamaian. Tidak ada lagi pagar putih yang menenangkan, sheriff bijak yang dicintai warga, atau tetangga ramah yang saling mengenal satu sama lain. Dalam banyak film Amerika beberapa tahun terakhir, small town justru berubah menjadi ruang dingin tempat manusia menyembunyikan rahasia, kemarahan, dan kekerasan di balik senyum sopan. Atmosfer inilah yang terasa begitu kuat dalam Normal.
Disutradarai Ben Wheatley dan ditulis oleh Derek Kolstad, film ini sejak awal memang tidak mencoba menjadi action blockbuster yang bersih dan glamor. Sebaliknya, Normal tampil seperti neo-western modern yang dingin, brutal, dan penuh rasa tidak percaya terhadap dunia di sekitarnya.
Baca juga : Review Film Hokum : Teror Sunyi di Penginapan Terkutuk
Menariknya, film ini tidak menjual misteri dengan cara penuh kejutan murahan. Ketegangannya justru lahir dari rasa paranoia yang terus tumbuh. Penonton dibuat merasa bahwa tidak ada satu pun tempat yang benar-benar aman. Bahkan meja makan, kantor sheriff, hingga jalanan kecil bersalju terasa menyimpan ancaman.
Dan di situlah Normal bekerja sangat efektif.
Film ini sebenarnya memiliki DNA western klasik yang sangat kuat. Jika diperhatikan lebih jauh, formula ceritanya mengingatkan pada kisah koboi lama: seorang pria asing datang ke kota kecil yang hukumnya mulai runtuh, lalu perlahan menemukan bahwa kota tersebut sudah rusak dari dalam.
Bedanya, Normal memindahkan seluruh elemen itu ke era modern.
Tidak ada gurun pasir dan revolver. Yang ada adalah salju tebal, shotgun, assault rifle, dan wajah-wajah dingin yang tampak lelah terhadap hidup. Sheriff bukan lagi simbol heroisme romantis, melainkan manusia biasa yang terseret ke dalam kekacauan yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Inilah yang membuat Normal terasa lebih dekat dengan tradisi neo-western modern seperti No Country for Old Men atau Hell or High Water dibanding film action Hollywood konvensional.
Film-film seperti ini tidak lagi percaya pada institusi. Polisi bisa korup. Warga kota bisa berbohong. Tetangga bisa berubah menjadi ancaman. Dunia mereka dipenuhi manusia yang mencoba bertahan hidup dengan moralitas abu-abu.
Dan Normal tampaknya sadar betul akan hal tersebut.
Baca juga: Review Film Colony; Ketakutan Yang Tak Pernah Mati
Yang menarik, kekuatan film ini justru muncul dari kesunyiannya. Ben Wheatley membangun atmosfer dengan tempo yang kadang lambat, tetapi penuh rasa gelisah. Kota bersalju dalam film ini terasa hampir seperti karakter hidup: dingin, kosong, dan menekan.
Putihnya salju membuat setiap ledakan kekerasan terlihat lebih brutal.
Ada sesuatu yang sangat neo-noir dalam cara film ini memotret ruang. Jalan kecil yang sepi, bangunan tua, hingga lampu kota yang redup menciptakan kesan bahwa manusia-manusia di dalamnya hidup tanpa kehangatan emosional. Semua orang tampak terisolasi, bahkan ketika mereka berdiri sangat dekat satu sama lain.
Dan mungkin di situlah lapisan sosial film ini mulai terasa.
Karena Normal bukan hanya berbicara tentang baku tembak atau kriminalitas. Film ini seperti sedang berbicara tentang hilangnya rasa percaya dalam masyarakat modern. Tentang bagaimana komunitas kecil yang dulu dianggap sebagai simbol solidaritas kini justru dipenuhi kecurigaan dan kebusukan tersembunyi.
Hollywood modern memang semakin sering memotret kota kecil Amerika dengan cara seperti ini.
Dari Wind River hingga True Detective, Amerika pedalaman tidak lagi terlihat romantis. Ia menjadi lanskap psikologis yang dipenuhi trauma sosial, keterasingan, dan kekerasan diam-diam.
Normal terasa berjalan di jalur yang sama.
Sinopsis Film Normal
Normal mengikuti kisah Ulysses Richardson, seorang sheriff sementara yang datang ke kota kecil bernama Normal, Minnesota. Ketika sebuah perampokan bank gagal terjadi, ia mulai menemukan berbagai kejanggalan yang tersembunyi di balik ketenangan kota tersebut. Seiring penyelidikannya berkembang, Ulysses berhadapan dengan jaringan kriminal, praktik korupsi, serta rahasia yang melibatkan banyak warga setempat. Situasi yang semakin rumit membuatnya harus memilih antara bertahan hidup atau mempertahankan prinsip yang masih ia pegang.
Film ini tidak mencoba terlihat keren sepanjang waktu. Ia kotor, dingin, dan pahit. Tetapi justru dari kekacauan itulah identitasnya terbentuk.
Pada akhirnya, Normal mungkin bukan film action paling megah tahun ini. Namun sebagai neo-western modern, film ini berhasil menghadirkan sesuatu yang lebih menarik daripada sekadar baku tembak brutal: potret tentang dunia yang kehilangan rasa percaya terhadap dirinya sendiri.
Bob Odenkirk dan Kemampuan Aktingnya
Bob Odenkirk dikenal luas berkat perannya sebagai Better Call Saul dan Breaking Bad. Selama bertahun-tahun, ia identik dengan karakter cerdas dan penuh intrik dalam drama kriminal. Namun dalam beberapa tahun terakhir, Odenkirk berhasil memperluas jangkauan aktingnya ke genre action, terutama setelah membintangi Nobody. Kemampuannya memerankan sosok pria biasa yang terjebak dalam situasi berbahaya membuatnya menjadi salah satu aktor yang menarik perhatian dalam film-film action modern.
Yang membuatnya semakin menarik adalah kehadiran Bob Odenkirk sebagai pusat cerita. Setelah sukses mengejutkan banyak penonton lewat Nobody, Odenkirk tampaknya menemukan persona baru dalam sinema action modern: pria tua lelah yang tidak banyak bicara, tetapi sangat berbahaya ketika dipaksa bertindak.
Di era ketika banyak film action sibuk menjual ledakan CGI dan pahlawan sempurna, karakter seperti Ulysses Richardson terasa jauh lebih manusiawi. Ia bertahan bukan karena dirinya suci, melainkan karena masih memiliki sisa prinsip di dunia yang mulai kehilangan moralitas. Dan mungkin itu sebabnya Normal terasa begitu maskulin tanpa harus berteriak keras tentang maskulinitas. (Lukman Hqeem)

