Beritakota.id, Jakarta Pusat – Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menilai strategi hilirisasi industri dan reformasi birokrasi yang dijalankan pemerintah menjadi fondasi penting untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi nasional. Di tengah target pertumbuhan ekonomi jangka menengah sebesar 5,8–6,5 persen, bahkan menuju 8 persen pada 2028–2029, konsistensi kebijakan dinilai menjadi faktor utama dalam menjaga kepercayaan investor dan keberlanjutan investasi.

Ekonom Perbanas Dr. Aviliani, S.E., M.Si. mengatakan berbagai kebijakan pro-pertumbuhan (pro-growth) yang ditempuh pemerintah telah memberikan sinyal positif bagi sektor riil maupun industri keuangan. Menurutnya, arah kebijakan tersebut membuka ruang lebih besar bagi ekspansi dunia usaha, peningkatan investasi, serta penguatan daya saing ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Momentum penguatan ekonomi perlu terus dijaga melalui kebijakan yang konsisten dan memberikan kepastian kepada pelaku usaha,” ujar Aviliani.

Optimisme tersebut sejalan dengan capaian investasi nasional yang terus menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, realisasi investasi tercatat mencapai Rp1.931,2 triliun, tumbuh 12,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan melampaui target pemerintah. Angka tersebut mencerminkan masih kuatnya minat investor terhadap prospek ekonomi Indonesia, meski dunia masih dibayangi perlambatan pertumbuhan dan tingginya tensi geopolitik.

Dr. Aviliani, S.E., M.Si. dari PERBANAS (Perhimpunan Bank Nasional). (Lukman Hqeem/Beritakota.id)
Dr. Aviliani, S.E., M.Si. dari PERBANAS (Perhimpunan Bank Nasional). (Lukman Hqeem/Beritakota.id)

Dalam pandangan Perbanas, keberhasilan menjaga momentum investasi tidak cukup hanya melalui insentif fiskal. Kepastian regulasi, penyederhanaan perizinan, dan komunikasi kebijakan yang konsisten menjadi faktor yang menentukan keputusan investasi jangka panjang. Stabilitas tersebut diyakini mampu memperkuat kepercayaan pasar sekaligus menciptakan iklim usaha yang lebih kompetitif.

Baca juga : Lapas Brebes Perkuat Reformasi Birokrasi

Perbanas juga menilai program hilirisasi telah berkembang menjadi salah satu motor utama transformasi ekonomi nasional. Data investasi menunjukkan sektor hilirisasi menyumbang Rp584,1 triliun, atau sekitar 30,2 persen dari total investasi nasional, dengan pertumbuhan mencapai 43,3 persen secara tahunan.

Menurut Aviliani, pencapaian tersebut menunjukkan bahwa strategi membangun industri pengolahan di dalam negeri mulai menghasilkan nilai tambah yang nyata. Berbagai komoditas mineral, termasuk nikel, kini tidak lagi hanya diekspor sebagai bahan mentah, tetapi diproses menjadi produk bernilai ekonomi jauh lebih tinggi sehingga mampu meningkatkan daya saing industri nasional sekaligus memperbesar penerimaan devisa.

Selain memperkuat struktur industri, hilirisasi dinilai memberikan efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian. Bertambahnya investasi mendorong pembangunan kawasan industri, membuka lapangan kerja baru, memperluas permintaan terhadap jasa keuangan, logistik, hingga sektor usaha pendukung lainnya. Kondisi tersebut pada akhirnya menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas dibandingkan mengandalkan ekspor komoditas mentah.

Di sisi lain, sektor perbankan memiliki peran strategis dalam memastikan transformasi tersebut berjalan berkelanjutan. Sebagai lembaga intermediasi, perbankan berfungsi menyalurkan pembiayaan kepada proyek-proyek produktif sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan agar ekspansi dunia usaha dapat berlangsung secara sehat.

Karena itu, Aviliani menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, sektor perbankan, dan pelaku usaha. Menurutnya, kolaborasi yang kuat akan memastikan berbagai reformasi ekonomi tidak berhenti pada tataran kebijakan, tetapi benar-benar menghasilkan investasi baru, meningkatkan produktivitas industri, menciptakan lapangan kerja, serta memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Dengan konsistensi reformasi struktural dan keberlanjutan agenda hilirisasi, Perbanas optimistis Indonesia memiliki peluang memperkuat fondasi ekonomi nasional dalam jangka panjang. Tidak hanya mengejar pertumbuhan yang lebih tinggi, tetapi juga membangun struktur ekonomi yang memiliki nilai tambah lebih besar, daya saing yang semakin kuat, dan ketahanan yang lebih baik menghadapi dinamika ekonomi global. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *