Beritakota.id, JAKARTA — Di atas meja tidak tersaji hidangan mewah. Tidak pula menu yang rumit sebagaimana lazimnya sebuah acara peringatan tokoh nasional.

Yang hadir justru sederet kudapan sederhana: serabi dengan sirup gula merah, pastel daging yang disantap bersama kecap asin dan irisan cabai rawit, serta kroket kentang hangat.

Masing-masing ditempatkan dalam sebuah booklet kecil. Tidak hanya menjelaskan nama makanan, tetapi juga mengisahkan mengapa hidangan itu menjadi bagian dari keseharian Rahmi Hatta.

Di situlah sore itu terasa berbeda.

Afternoon Tea Talkshow “Sebuah Legacy”, yang digelar Yayasan Meutia Hatta di Perpustakaan Nasional RI, Rabu (1/7), tidak sekadar mengajak tamu mengenang satu abad kelahiran Rahmi Hatta (1926–2026). Acara itu mengajak para undangan memasuki ruang keluarga Bung Hatta melalui sesuatu yang paling sederhana: makanan kesukaan sang nyonya rumah.

Sebuah pendekatan yang jarang dipilih dalam peringatan tokoh nasional.

Alih-alih membangun jarak melalui seremoni, panitia justru membawa sejarah menjadi dekat. Para tamu diajak membayangkan bagaimana percakapan-percakapan keluarga Hatta mungkin pernah berlangsung ditemani secangkir teh dan kudapan rumahan yang sama.

Booklet itu bahkan menuliskan sebuah kalimat sederhana:

“Afternoon Tea Talkshow ini tidak hanya sekadar diskusi, namun membawa kita ke masa lalu. Di ruang tamu kediaman keluarga Hatta, dijamu dengan kudapan favorit Ibu Rahmi Hatta.”

Kalimat itu menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa warisan tidak selalu hadir dalam bentuk pidato atau monumen. Kadang ia hidup melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang diwariskan lintas generasi.


Keteladanan yang Tumbuh dari Kehidupan Sehari-hari

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi, mengatakan peringatan satu abad Rahmi Hatta bukan sekadar mengenang perjalanan hidup seorang tokoh.

Momentum tersebut, menurutnya, menjadi kesempatan merefleksikan nilai-nilai yang diwariskan Rahmi Hatta kepada bangsa Indonesia.

Nilai-nilai itu bukan hanya berbicara mengenai perannya sebagai pendamping Proklamator Mohammad Hatta, tetapi juga tentang integritas, kesederhanaan, semangat belajar sepanjang hayat, penghormatan terhadap martabat manusia, hingga kepedulian kepada sesama.

Menurut Arifatul, nilai tersebut tetap relevan dengan arah pembangunan Indonesia saat ini, terutama dalam membangun sumber daya manusia, memperkuat keluarga, memberdayakan perempuan, serta menghadirkan pembangunan yang inklusif.

“Keberhasilan pembangunan nasional tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari sejauh mana pembangunan mampu menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat, termasuk perempuan dan anak,” ujarnya.

Ketua Yayasan Meutia Hatta, Prof. Dr. Meutia Hatta Swasono, juga mengingatkan bahwa masyarakat tidak boleh mengenal Rahmi Hatta hanya sebagai istri Bung Hatta.

Menurutnya, Rahmi merupakan perempuan Indonesia yang memiliki keteguhan, integritas, serta dedikasi terhadap keluarga maupun bangsa.

Warisan itu pula yang ingin diperkenalkan kembali kepada generasi muda melalui rangkaian peringatan satu abad kelahirannya.


Dari Ruang Diskusi hingga Catwalk

Talkshow berlangsung hangat dipandu Putri Indonesia 2018, Berliana Permata Sari.

Diskusi menghadirkan Meutia Hatta, Dewi Motik, dan Prilly Latuconsina. Ketiganya berbicara dari sudut pandang berbeda: sebagai keluarga, tokoh perempuan, dan representasi generasi muda.

Materi diskusi pun tidak hanya berkisar pada sejarah.

Rahmi Hatta dipotret sebagai sosok yang mencintai buku, musik, busana, seni budaya, hingga keindahan alam Indonesia. Perspektif itu membuat sosoknya tampil lebih manusiawi dan dekat.

Pendekatan tersebut sejalan dengan panduan moderator yang disusun panitia, yakni menghadirkan Rahmi Hatta sebagai pribadi utuh yang mencintai budaya, memiliki integritas, serta mewariskan nilai yang tetap relevan bagi perempuan Indonesia masa kini.

Nuansa itu kemudian diteruskan melalui Fashion Show “Legacy of Rahmi Hatta”.

Busana yang diperagakan bukan reproduksi pakaian masa lalu, melainkan interpretasi modern terhadap gaya berpakaian Rahmi Hatta yang tetap mempertahankan akar budaya Indonesia.

Warisan, pada akhirnya, tidak diperlakukan sebagai benda museum.

Ia diberi ruang untuk hidup kembali.


Legacy yang Tidak Berhenti di Satu Perayaan

Ketua Pelaksana Fajrin Saadi mengatakan Afternoon Tea Talkshow hanyalah salah satu rangkaian menuju puncak peringatan Satu Abad Rahmi Hatta yang akan berlangsung di Tennis Indoor Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 5 September 2026.

Rangkaian tersebut akan melibatkan berbagai unsur masyarakat melalui pagelaran seni, pembacaan puisi, pertunjukan teater, bazar UMKM halal, donor darah, hingga nikah massal.

Knowledge Partner Desma Center bersama Yayasan Meutia Hatta juga ingin menghadirkan lebih banyak seniman, akademisi, tokoh perempuan, serta figur publik agar warisan Rahmi Hatta tidak berhenti menjadi cerita sejarah.

Barangkali itulah makna paling menarik dari sore itu.

Sebab sejarah ternyata tidak selalu dimulai dari arsip yang tebal.

Kadang ia dimulai dari aroma teh yang masih hangat, sepotong serabi, dan sebuah ruang tamu yang, meski hanya dihadirkan lewat imajinasi, mampu membuat para tamu merasa pulang ke rumah keluarga Hatta. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *