Beritakota.id, Jakarta Pusat – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan menjelang penutupan Juni 2026. Mata uang Garuda bergerak mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Saat berita ditulis, berada pada posisi 17.957. Pelemahan terjadi seiring masih kuatnya dolar AS di pasar global. Serrta meningkatnya ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS (Federal Reserve) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.

Pada perdagangan Selasa (30/06/2026), rupiah bergerak di kisaran Rp17.900 per dolar AS. Jika tren tersebut berlanjut hingga akhir bulan, rupiah diperkirakan mencatat pelemahan bulanan kembali sekaligus mengakhiri kuartal II 2026 dengan penurunan sekitar 5 persen terhadap dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah terjadi ketika indeks dolar AS (DXY) tetap bertahan di level tinggi. Pelaku pasar masih menilai peluang penurunan suku bunga The Fed dalam waktu dekat semakin terbatas setelah sejumlah data ekonomi AS menunjukkan ketahanan aktivitas ekonomi dan inflasi yang belum sepenuhnya mereda.

Baca juga : Pelemahan Rupiah, Bukan Sinyal Indonesia Krisis

Di tengah tekanan tersebut, pernyataan pejabat senior Bank Indonesia yang menegaskan kesiapan menggunakan seluruh instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar belum mampu mengubah sentimen pasar. Investor masih lebih memilih aset berbasis dolar AS yang menawarkan imbal hasil lebih menarik dibandingkan aset negara berkembang.

Padahal, dari sisi arus modal, fundamental Indonesia sebenarnya masih menunjukkan daya tarik. Hingga akhir Juni, investor asing tercatat membukukan pembelian bersih sekitar US$9 miliar pada Surat Berharga Negara (SBN) dan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Namun, derasnya aliran modal tersebut belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan eksternal yang berasal dari penguatan dolar AS.

Di sisi lain, penurunan harga minyak dunia menuju level sebelum konflik Iran sempat memuncak juga belum mampu memberikan dukungan berarti bagi rupiah. Secara teori, harga minyak yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan impor energi dan membantu memperbaiki posisi fiskal pemerintah. Namun, faktor global masih menjadi penentu utama arah pergerakan nilai tukar.

Pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi domestik yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan, terutama data inflasi Mei yang diperkirakan meningkat dan mendekati batas atas sasaran inflasi Bank Indonesia. Angka tersebut akan menjadi salah satu indikator penting bagi investor dalam menilai ruang kebijakan moneter BI pada semester kedua tahun ini.

Selain itu, perhatian juga tertuju pada kinerja perdagangan Indonesia. Surplus neraca perdagangan April tercatat menjadi yang terkecil sejak 2020. Kondisi tersebut mengurangi salah satu penopang utama rupiah, yakni pasokan devisa dari ekspor.

Secara keseluruhan, kombinasi penguatan dolar AS, ekspektasi suku bunga tinggi The Fed, serta mulai berkurangnya surplus perdagangan membuat tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. Selama sentimen global belum berubah, volatilitas nilai tukar diperkirakan tetap tinggi, sementara level Rp18.000 per dolar AS menjadi area psikologis yang terus dicermati pelaku pasar dan otoritas moneter.

Bukan Sekadar Persoalan Domestik

Meski pelemahan rupiah menuju level Rp18.000 per dolar AS memicu kekhawatiran, sejumlah ekonom menilai kondisi saat ini berbeda dengan krisis nilai tukar yang pernah dialami Indonesia pada akhir 1990-an. Tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi perubahan lanskap keuangan global daripada memburuknya fundamental ekonomi domestik.

Dalam beberapa tahun terakhir, dolar AS menikmati apa yang sering disebut sebagai “super dollar cycle”, yaitu periode ketika mata uang AS menguat terhadap sebagian besar mata uang dunia akibat kombinasi suku bunga tinggi, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang relatif lebih kuat, serta meningkatnya permintaan aset-aset berdenominasi dolar sebagai instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian global.

Fenomena tersebut tidak hanya dirasakan Indonesia. Sejumlah mata uang negara berkembang di Asia maupun kawasan lain juga mengalami tekanan serupa karena investor global cenderung memindahkan dana ke aset dolar yang menawarkan imbal hasil lebih menarik sekaligus dianggap lebih aman.

Di sisi lain, fondasi ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang relatif baik. Inflasi tetap berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia, sektor perbankan memiliki tingkat permodalan yang kuat, sementara cadangan devisa masih berada pada level yang memadai untuk mendukung stabilitas pasar keuangan. Pemerintah juga masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas fiskal meskipun menghadapi tantangan perlambatan ekonomi global.

Namun demikian, kondisi tersebut tidak berarti risiko dapat diabaikan. Pelemahan rupiah yang berlangsung terlalu lama berpotensi meningkatkan biaya impor, menambah tekanan inflasi, serta memperbesar beban pembayaran utang luar negeri bagi pelaku usaha yang memiliki kewajiban dalam dolar AS. Karena itu, fokus pasar dalam beberapa bulan mendatang tidak hanya tertuju pada langkah Bank Indonesia, tetapi juga pada arah kebijakan Federal Reserve. Selama bank sentral AS belum memberikan sinyal kuat mengenai dimulainya siklus pelonggaran moneter, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, diperkirakan masih akan bertahan.

Dengan kata lain, level Rp18.000 bukan sekadar angka psikologis. Angka tersebut menjadi cerminan tarik-menarik antara kekuatan fundamental ekonomi Indonesia dengan dominasi dolar AS di pasar keuangan global. Arah pergerakan rupiah pada semester kedua 2026 akan sangat ditentukan oleh seberapa cepat keseimbangan tersebut mulai berubah. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *