Beritakota.id, – Senja turun perlahan di lereng Gunung Klotok, Kediri, Jawa Timur. Warna langit berubah menjadi ungu keabu-abuan, sementara pepohonan di sekitar kawasan Goa Selomangleng mulai tertutup bayang-bayang. Pada waktu seperti ini, suasana di sekitar goa terasa berbeda dari siang hari ketika pengunjung datang silih berganti.

Langkah kaki yang menyusuri jalur batu terdengar lebih jelas. Dedaunan yang tertiup angin seperti berbisik pelan. Bagi sebagian orang, tempat ini bukan sekadar objek wisata sejarah, melainkan ruang hening yang menyimpan kisah lama tentang pilihan hidup seorang putri kerajaan.

Legenda yang berkembang di masyarakat menyebut nama Dewi Kilisuci, putri dari Kerajaan Kediri yang diperkirakan hidup sekitar abad ke-11. Ia dikenal sebagai bangsawan yang memilih meninggalkan kehidupan istana dan menjalani pertapaan di Goa Selomangleng.

Dalam cerita rakyat Jawa Timur, keputusan itu berkaitan dengan lamaran seorang raja sakti yang dikenal sebagai Lembu Suro. Lamaran tersebut bukan sekadar persoalan pribadi, tetapi juga bagian dari kepentingan politik dan aliansi kekuasaan.

Bagi sebagian besar putri kerajaan pada masa itu, pernikahan semacam ini merupakan bagian dari strategi dinasti. Namun menurut legenda yang berkembang, Kilisuci memilih jalan berbeda: meninggalkan istana dan mengasingkan diri dari pusat kekuasaan.

Baca juga : 9 Destinasi Wisata di Kediri yang Cocok untuk Menikmati Liburan Slow Living

Cerita Dari Lereng Gunung Klotok

Goa Selomangleng terletak di lereng Gunung Klotok, sekitar beberapa kilometer dari pusat Kota Kediri. Struktur goa ini tidak megah seperti kompleks candi besar di Jawa. Bangunannya sederhana, tersusun dari batu andesit dengan ruang utama yang dipahat langsung pada dinding batu. Nama Selomangleng sendiri berasal dari bahasa Jawa, yakni “selo” yang berarti batu dan “mangleng” yang berarti menjorok atau miring.

Pada dinding goa terdapat sejumlah relief bergaya Hindu-Buddha yang diyakini berasal dari periode Jawa kuno. Pahatan tersebut menampilkan figur-figur dewa, tokoh pewayangan, serta simbol-simbol religius yang mencerminkan pengaruh budaya Hindu pada masa Kerajaan Kediri. Sebagian detail relief memang telah mengalami kerusakan akibat usia dan faktor alam. Namun bentuk dasar pahatan masih terlihat jelas, memperlihatkan teknik ukiran batu yang khas dari periode klasik Jawa Timur.

Pada malam hari, ketika cahaya redup dan hanya lampu kecil atau senter yang menerangi dinding batu, kontur pahatan terlihat lebih dramatis. Bayangan yang terbentuk di permukaan relief menciptakan kesan seolah gambar-gambar kuno itu bergerak pelan di permukaan batu. Bagi sebagian pengunjung, pengalaman tersebut memberikan sensasi yang berbeda dibandingkan kunjungan pada siang hari.

Cerita rakyat setempat menyebut bahwa kawasan lereng Gunung Klotok sejak lama dikenal sebagai tempat pertapaan para resi dan tokoh spiritual. Sebelum dikenal sebagai destinasi wisata, kawasan ini diyakini sebagai ruang laku—tempat seseorang mencari ketenangan batin atau melakukan tirakat. Lingkungan alam yang relatif sepi, dipenuhi pepohonan dan batuan bukit, menciptakan suasana yang terpisah dari keramaian kota.

Dalam konteks legenda, kondisi alam inilah yang dipercaya menjadi alasan Dewi Kilisuci memilih lokasi tersebut sebagai tempat bertapa. Masyarakat sekitar masih memandang Goa Selomangleng sebagai situs yang memiliki nilai spiritual. Pada waktu-waktu tertentu, terutama malam satu Suro atau Jumat Kliwon, ada orang yang datang untuk berdoa atau berdiam diri di dalam goa.

Keyakinan tersebut tidak selalu berkaitan dengan praktik mistis. Bagi sebagian orang, tempat seperti ini hanya dipandang sebagai ruang refleksi—lokasi untuk menenangkan pikiran dan menjauh sejenak dari rutinitas kehidupan sehari-hari.

Goa Selomangleng, Kediri. (Lukman Hqeem/Beritakota.id)

Antara Wisata dan Ruang Kontemplasi

Saat ini Goa Selomangleng dikelola sebagai salah satu destinasi wisata sejarah di Kabupaten Kediri. Kawasan sekitarnya telah dilengkapi taman, jalur pejalan kaki, serta area terbuka yang sering dimanfaatkan pengunjung untuk beristirahat.

Pada siang hari, pengunjung biasanya datang bersama keluarga, rombongan sekolah, atau komunitas pecinta sejarah. Mereka mengamati relief batu, berfoto di area taman, atau mendengarkan penjelasan tentang legenda Dewi Kilisuci.

Namun di sisi lain, identitas tempat ini sebagai ruang pertapaan tidak sepenuhnya hilang. Pada waktu-waktu tertentu, masih ada orang yang datang untuk duduk tenang di dalam goa atau melakukan doa secara personal.

Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana mengatakan pemerintah daerah mendukung berbagai aktivitas positif yang memperkuat nilai sejarah dan refleksi budaya di kawasan tersebut.

“Kegiatan yang mengajak masyarakat untuk introspeksi diri dan memahami sejarah daerah tentu menjadi hal yang positif,” ujarnya.

Perubahan zaman memang menggeser fungsi ruang. Tempat yang dahulu cenderung tertutup kini menjadi ruang publik yang terbuka bagi siapa saja. Namun pergeseran tersebut tidak menghapus makna awalnya. Goa Selomangleng kini memuat beberapa lapisan fungsi sekaligus: sebagai situs sejarah, ruang budaya, dan bagi sebagian orang tetap menjadi tempat kontemplasi.

Goa Selomangleng berada di lereng bawah Gunung Klotok, sekitar 3–5 kilometer dari pusat Kota Kediri. Dari Alun-Alun Kediri, perjalanan menuju kawasan ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar 10–15 menit menggunakan kendaraan. Jalan menuju lokasi sudah beraspal dan dapat diakses kendaraan roda dua maupun roda empat. Dari area parkir, pengunjung perlu berjalan kaki menyusuri jalur taman menuju mulut goa.

Bagi wisatawan dari luar kota, Kediri dapat dijangkau melalui jalur darat maupun kereta api menuju Stasiun Kediri. Alternatif lainnya adalah melalui Bandara Internasional Dhoho Kediri yang melayani penerbangan domestik. Kemudahan akses ini membuat Goa Selomangleng menjadi salah satu situs sejarah yang relatif mudah dikunjungi oleh wisatawan.

Hingga hari ini, kisah Dewi Kilisuci tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Kediri. Terlepas dari batas antara legenda dan sejarah, cerita tersebut memuat simbol yang kuat: tentang seorang putri yang memilih menjauh dari pusat kekuasaan dan mencari ruang sunyi untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Di lereng Gunung Klotok, di antara batu-batu tua Goa Selomangleng, kisah itu terus bergaung—pelan, namun tetap bertahan melintasi waktu. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *