Beritakota.id, Palestina – Tragedi kemanusiaan kembali menyelimuti Jalur Gaza. Serangan udara yang terjadi pada Senin (8/6/2026) dini hari dilaporkan menghancurkan empat unit apartemen warga sipil dan menyebabkan korban jiwa serta puluhan orang mengalami luka-luka.

Di tengah puing-puing bangunan yang hancur, kisah pilu seorang anak perempuan bernama Hala Labad menjadi simbol duka yang terus menghantui warga Gaza. Bocah tersebut dilaporkan menjadi satu-satunya anggota keluarga yang selamat setelah rumahnya dihantam bom.

Informasi tersebut diterima Dompet Dhuafa dari mitra kemanusiaan yang berada di Gaza. Dalam laporan lapangan disebutkan bahwa sedikitnya lima anggota keluarga Hala meninggal dunia akibat serangan yang menghancurkan tempat tinggal mereka.

“Hala Labad adalah satu-satunya yang selamat dari seluruh anggota keluarganya yang menjadi korban. Lima orang keluarga tercintanya gugur seketika dalam serangan bom yang menghantam rumah mereka pada dini hari,” demikian laporan yang diterima Dompet Dhuafa dari mitranya di Gaza.

Krisis Kemanusiaan Gaza Kian Memburuk

Serangan terbaru tersebut kembali memperlihatkan kondisi kemanusiaan yang semakin memburuk di Gaza. Fasilitas publik, permukiman warga, hingga layanan kesehatan terus menghadapi tekanan akibat konflik yang berkepanjangan.

Tim kemanusiaan di lapangan melaporkan ambulans terus bergerak mengevakuasi korban luka dan jenazah di tengah situasi yang masih berisiko tinggi.

“Situasi di Gaza saat ini sangat sulit dan berat. Mobil ambulans terus mengangkut para korban luka dan jenazah,” ungkap mitra Dompet Dhuafa di Gaza.

Di tengah keterbatasan fasilitas kesehatan dan tingginya jumlah korban, keberadaan ambulans bantuan kemanusiaan menjadi salah satu penopang utama dalam proses evakuasi darurat.

Ambulans Bantuan Indonesia Terus Beroperasi

Dompet Dhuafa menyebut ambulans yang beroperasi di Gaza merupakan hasil dukungan dan solidaritas masyarakat Indonesia. Kendaraan tersebut hingga kini masih aktif membantu proses penyelamatan korban di berbagai wilayah terdampak.

General Manager Kesehatan Dompet Dhuafa, dr. Yeni, mengatakan ambulans tersebut menjadi simbol kepedulian masyarakat Indonesia terhadap warga Palestina yang menghadapi situasi darurat kemanusiaan.

“Bagi warga Gaza, kehadiran ambulans ini adalah bukti nyata bahwa mereka tidak berjuang sendirian. Di setiap putaran rodanya, ada doa, air mata, dan solidaritas dari jutaan rakyat Indonesia yang terus mengalir mendampingi perjuangan mereka,” ujarnya.

Solidaritas Internasional Terus Mengalir

Selain bantuan di lapangan, dukungan internasional terhadap warga Gaza juga terus berlangsung. Salah satunya melalui misi kemanusiaan laut Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 yang membawa bantuan logistik dan menyuarakan dukungan terhadap rakyat Palestina.

Misi tersebut melibatkan ratusan aktivis dari berbagai negara, termasuk sembilan delegasi Indonesia yang tergabung dalam Global Peace Convoy Indonesia (GPCI). Dua di antaranya merupakan perwakilan Dompet Dhuafa, yakni Ronggo Wirasanu dan Herman Budianto.

Dalam perjalanan misi tersebut, kapal sempat mengalami intersepsi dan para delegasi sempat ditahan oleh militer Israel. Namun seluruh delegasi Indonesia akhirnya berhasil dibebaskan dan kembali ke Tanah Air dengan selamat.

Ketua Pengurus Dompet Dhuafa sekaligus Pengarah GPCI, Ahmad Juwaini, mengatakan perjuangan kemanusiaan untuk Gaza tidak boleh berhenti meskipun menghadapi berbagai tantangan.

“Perjalanan luar biasa ini adalah bentuk nyata bahwa kita tidak akan pernah membiarkan saudara-saudara kita di Gaza berjuang sendirian. Kepulangan para delegasi ini justru menjadi pemantik semangat baru bagi kita semua untuk terus mengupayakan bantuan dengan cara-cara yang lebih kuat dan konsisten,” katanya.

Baca juga: LPM Dompet Dhuafa dan Anayatrans Ajak 45 Anak Yatim Rekreasi Edukatif ke Taman Safari Bogor

Anak-Anak Gaza Kehilangan Masa Depan

Berbagai lembaga kemanusiaan menilai anak-anak menjadi kelompok paling rentan dalam konflik yang berlangsung di Gaza. Banyak di antara mereka kehilangan keluarga, tempat tinggal, akses pendidikan, hingga layanan kesehatan dasar.

Kisah Hala Labad menjadi gambaran nyata dampak kemanusiaan yang harus ditanggung anak-anak di wilayah konflik. Di usianya yang masih sangat muda, ia harus menghadapi kehilangan seluruh anggota keluarganya dalam satu malam.

Dompet Dhuafa menegaskan bahwa kebutuhan bantuan darurat di Gaza masih sangat besar, mulai dari layanan kesehatan, makanan, tempat tinggal sementara, hingga dukungan psikososial bagi para korban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *