Beritakota.id, Jakarta – Harga emas dunia menunjukkan upaya pemulihan pada perdagangan Kamis (18/06/2026) setelah mengalami tekanan tajam sehari sebelumnya. Namun, pelaku pasar masih memandang kenaikan yang terjadi saat ini sebagai pemulihan teknikal semata, bukan awal dari tren bullish baru yang berkelanjutan.
Emas (XAU/USD) diperdagangkan di sekitar level US$4.310 per troy ounce setelah sempat menyentuh puncak intraday di area US$4.329 pada sesi Asia. Penguatan tersebut terjadi setelah harga emas anjlok hampir 2 persen menyusul hasil pertemuan Federal Reserve yang dinilai lebih hawkish dibanding ekspektasi pasar.
Baca juga : Emas Rebound, Tetapi Ujian Sesungguhnya Baru Dimulai
Sentimen utama yang membebani emas berasal dari meningkatnya dukungan di kalangan pejabat Federal Reserve terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan tahun ini. Separuh anggota Federal Open Market Committee (FOMC) menilai inflasi berpotensi tetap tinggi akibat dampak konflik Timur Tengah terhadap harga energi, sehingga ruang untuk kebijakan moneter yang lebih ketat masih terbuka.
Kondisi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau Treasury Yield. Bagi investor, kenaikan yield meningkatkan daya tarik instrumen berbunga dan secara otomatis memperbesar opportunity cost memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil. Akibatnya, arus dana ke logam mulia cenderung tertahan meskipun risiko global belum sepenuhnya hilang.
Selain tekanan dari kebijakan moneter, berkurangnya tensi geopolitik juga mengurangi permintaan terhadap aset safe haven. Kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran untuk menghentikan eskalasi konflik serta pembukaan kembali Selat Hormuz membantu menenangkan pasar energi global. Kondisi ini membuat sebagian investor mulai mengurangi posisi defensif yang sebelumnya mendukung reli emas.
Meski demikian, prospek jangka menengah emas belum sepenuhnya kehilangan pijakan. Permintaan dari bank-bank sentral dunia masih menjadi faktor penopang yang cukup kuat. Sejumlah survei terbaru menunjukkan banyak bank sentral tetap berencana meningkatkan cadangan emas mereka sebagai bagian dari strategi diversifikasi aset dan perlindungan terhadap ketidakpastian ekonomi global.
Dalam jangka pendek, pasar diperkirakan memasuki fase konsolidasi sambil menunggu arah baru dari data ekonomi Amerika Serikat dan perkembangan inflasi global. Pergerakan yield Treasury dan indeks dolar AS masih akan menjadi indikator utama yang menentukan arah harga emas beberapa sesi ke depan.
Dengan kata lain, reli yang terjadi pagi ini masih lebih tepat dipandang sebagai technical recovery setelah tekanan besar pasca-Federal Reserve. Pasar masih membutuhkan katalis baru yang cukup kuat untuk mengubah sentimen menjadi bullish secara lebih meyakinkan. (Lukman Hqeem)

