Beritakota.id, Jakarta – Industri makanan dan minuman (F&B) nasional masih menunjukkan optimisme di tengah tekanan ekonomi global yang berdampak terhadap kenaikan harga bahan baku, biaya logistik, hingga energi. Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) menilai sektor ini tetap memiliki peluang tumbuh dengan dukungan inovasi dan penguatan daya beli masyarakat.

Ketua Umum GAPMMI Adhi S. Lukman mengatakan kondisi inflasi yang meningkat saat ini memberikan tantangan besar bagi pelaku industri. Faktor geopolitik global dan perubahan iklim turut memengaruhi rantai pasok industri pangan.

“Inflasi ini cukup tinggi. Kita merasakan daya beli masyarakat juga terdampak karena adanya geopolitik dan climate change yang sedang berubah. Bahan baku meningkat, logistik meningkat, energi meningkat,” ujar Adhi kepada awak redaksi Beritakota.id, saat ditemui dalam acara konferensi pers Krista Interfood 2026, di Jakarta, Selasa (23/6/2026).

Baca juga: 27 Tahun Berkembang, KRISTAInterFOOD 2026 Hadir dengan Identitas Baru

Meski menghadapi berbagai tekanan, Adhi menyebut pelaku industri makanan dan minuman terus melakukan berbagai strategi agar tetap bertahan dan menjaga pertumbuhan bisnis. Salah satunya melalui inovasi bahan baku, pengembangan kemasan, hingga menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Menurutnya, kemampuan industri untuk beradaptasi menjadi kunci agar sektor makanan dan minuman tetap menjadi salah satu penggerak ekonomi nasional.

“Kami dari para produsen terus berusaha berinovasi mencari alternatif bahan baku, alternatif kemasan, termasuk mencari jenis-jenis produk yang harus disediakan untuk masyarakat,” katanya.

GAPMMI Dorong Pemerintah Jaga Daya Beli Masyarakat

Di tengah tantangan ekonomi, GAPMMI berharap pemerintah terus menjaga daya beli masyarakat, terutama kelompok kelas menengah bawah yang menjadi salah satu pasar utama industri makanan dan minuman.

Adhi menilai penguatan konsumsi domestik menjadi faktor penting agar pertumbuhan industri tetap terjaga.

“Kami berharap pemerintah bisa meningkatkan daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah bawah. Ini sangat penting sekarang,” ujarnya.

Ia juga mendorong keberlanjutan berbagai program pemerintah yang dapat memperkuat ekonomi masyarakat, mulai dari penciptaan lapangan kerja hingga bantuan sosial yang tepat sasaran.

“Kami berharap konsistensi pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat dengan berbagai program, termasuk penciptaan lapangan pekerjaan di kelas bawah, bantuan langsung tunai (BLT), serta program yang menciptakan lapangan pekerjaan di perdesaan,” kata Adhi.

Baca juga: YLKI Kritik Kenaikan Mendadak Pertamax, Peringatkan Risiko Inflasi dan Migrasi ke Pertalite

Target Pertumbuhan Industri F&B Tetap Positif

Meski menghadapi tekanan global, GAPMMI tetap optimistis industri makanan dan minuman mampu mencatatkan pertumbuhan positif hingga akhir tahun.

Adhi menyebut pertumbuhan sektor makanan dan minuman pada kuartal pertama masih berada di level yang kuat dan diharapkan dapat dipertahankan.

“Q1 sekitar 7 persen sampai 7,4 persen. Kami berharap bisa bertahan di sekitar 7 persen,” ungkapnya.

Menurutnya, keberlanjutan pertumbuhan industri makanan dan minuman akan sangat bergantung pada kemampuan pelaku usaha berinovasi, menjaga efisiensi, serta dukungan kebijakan pemerintah dalam memperkuat konsumsi masyarakat.

Dengan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional, industri makanan dan minuman dinilai tetap menjadi sektor strategis yang mampu menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *