Beritakota.id, Jakarta Timur – Di tengah kesibukan merilis single terbaru, Viola Harahap justru memilih kembali ke ruang kuliah. Baginya, musik tidak lagi sekadar tentang menyanyikan emosi, melainkan memahami manusia yang merasakannya.
Banyak musisi mengukur langkah berikutnya dari panggung yang lebih besar, jumlah penonton yang lebih banyak, atau lagu yang berhasil menduduki tangga musik. Viola Harahap memilih ukuran yang berbeda. Di sela jadwal promosi single terbarunya, Candu, ia justru menghabiskan malam sebagai mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Pancasila.
Baca juga : Jennie BLACKPINK Ukir Rekor Baru, Headliner Dua Festival Musik Eropa Berturut-turut
Pilihan itu mungkin terdengar tidak lazim. Di saat karier musik mulai menemukan momentumnya, Viola kembali duduk di ruang kelas, mengerjakan tugas kuliah, mengikuti diskusi, hingga mempersiapkan ujian. Dua dunia yang tampak berjauhan itu justru berjalan berdampingan dalam hidupnya.
Bagi sebagian orang, keputusan tersebut mungkin dianggap sebagai jalan memutar. Namun bagi Viola, belajar psikologi bukanlah rencana baru. Itu adalah cita-cita lama yang sempat tertunda karena kehidupan membawanya lebih dulu ke dunia hiburan.
Pilihan itu juga menjawab satu pertanyaan yang jarang muncul di balik pemberitaan tentang single baru atau penampilannya di atas panggung: mengapa seorang penyanyi yang telah dikenal publik masih memilih kembali menjadi mahasiswa?
Jawabannya ternyata jauh lebih menarik daripada sekadar cerita tentang lagu baru.
Lagu Hanyalah Awal Cerita
Perjalanan musik Viola Harahap dimulai jauh sebelum publik mengenalnya lewat sejumlah single. Sejak kecil, perempuan kelahiran Medan itu telah akrab dengan panggung sekolah. Hampir setiap kegiatan, guru selalu menunjuknya untuk bernyanyi. Kecintaan terhadap musik kemudian membawanya mengikuti audisi Indonesian Idol di Medan dan meraih golden ticket.
Kesempatan demi kesempatan terus datang. Ia merilis beberapa karya hingga akhirnya memperkenalkan Candu, single keempat yang menjadi bagian dari album perdananya yang sedang dipersiapkan.
Berbeda dengan lagu-lagu sebelumnya, Candu mengangkat kisah cinta remaja yang ringan, ceria, dan penuh rasa penasaran. Lagu ini menggambarkan fase ketika seseorang mulai mengenal perasaan jatuh cinta dengan cara yang lincah dan penuh semangat. Meski demikian, Viola menegaskan cerita dalam lagu tersebut bukan berasal dari pengalaman pribadinya.
Baginya, lagu itu merupakan cara bercerita tentang dinamika emosi yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
Di waktu yang hampir bersamaan, Viola juga memilih menghidupkan kembali lagu legendaris Asmara, karya Chossy Pratama yang pernah dipopulerkan Novia Kolopaking. Bersama Dwiki Dharmawan, lagu tersebut diaransemen ulang dengan sentuhan orkestra yang megah namun tetap mempertahankan nuansa emosionalnya.
Pemilihan Asmara bukan keputusan spontan. Sejak remaja, Viola telah menyukai lagu tersebut. Ketika muncul kesempatan membawakannya, ia melihatnya sebagai cara mempertemukan dua generasi pendengar dalam satu karya.
Namun di balik cerita tentang lagu, ada perjalanan lain yang tak kalah menarik.
Mengapa Kembali Menjadi Mahasiswa?
Tidak semua orang mengetahui bahwa menjadi psikolog sebenarnya merupakan cita-cita masa kecil Viola Harahap.
Impian itu sempat tertunda. Dunia hiburan datang lebih dahulu. Kesibukan membangun karier membuat pendidikan tinggi harus menunggu waktu yang tepat.
Kesempatan itu akhirnya datang ketika ia memutuskan melanjutkan studi di Fakultas Psikologi Universitas Pancasila melalui program kelas karyawan. Sistem hybrid dan jadwal kuliah malam memberinya ruang untuk tetap menjalani profesi sebagai penyanyi tanpa meninggalkan dunia akademik.
“Tidak mudah membagi waktu. Kadang jadwal kuliah, pekerjaan, dan urusan keluarga datang bersamaan. Semuanya sama-sama penting,” ungkapnya.
Di tengah kesibukan itu, Viola justru mampu menunjukkan prestasi akademik yang membawanya terpilih sebagai Duta Fakultas Psikologi Universitas Pancasila. Gelar tersebut bukan diberikan karena popularitasnya sebagai publik figur, melainkan melalui syarat akademik, nilai yang baik, dan proses wawancara.
Pencapaian itu memiliki makna yang berbeda dibandingkan tepuk tangan di atas panggung. Sebagai penyanyi, ia memperoleh apresiasi dari penonton. Sebagai mahasiswa, ia mendapatkan pengakuan karena kemampuan berpikir, kedisiplinan, dan komitmennya dalam belajar. Dua penghargaan itu lahir dari dunia yang berbeda, tetapi sama-sama menuntut kerja keras.
Musik Ternyata Tidak Cukup
Di sinilah perjalanan Viola menjadi menarik untuk dipahami. Selama bertahun-tahun, ia menggunakan musik sebagai medium menyampaikan emosi. Setiap lagu memiliki cerita, setiap lirik membawa perasaan, dan setiap penampilan berusaha menyentuh hati pendengar.
Namun setelah mempelajari psikologi, ia mulai melihat emosi dari sudut yang berbeda.
Musik memang mampu membuat seseorang menangis, tersenyum, atau jatuh cinta. Akan tetapi, psikologi mengajarkan bahwa setiap emosi memiliki akar yang lebih dalam. Ada pengalaman hidup, pola pikir, memori, dan lingkungan yang membentuknya.
Perlahan, musik dan psikologi tidak lagi berdiri sebagai dua dunia yang terpisah. Musik menjadi cara mengekspresikan emosi. Psikologi membantu memahami mengapa emosi itu hadir.
Pemahaman tersebut ikut memengaruhi cara Viola memandang profesinya sebagai penyanyi. Lagu bukan lagi sekadar rangkaian nada dan lirik, melainkan ruang dialog antara pencipta lagu, penyanyi, dan pendengarnya.
Mungkin karena itulah Candu tidak hanya menjadi lagu tentang cinta remaja. Di balik melodinya yang ringan, lagu itu berbicara mengenai salah satu emosi paling universal yang pernah dialami manusia: rasa tertarik kepada orang lain.
Dari sudut pandang psikologi, jatuh cinta bukan hanya soal romantisme. Ia juga menyangkut proses mengenali diri, membangun kedekatan, mengelola harapan, hingga memahami respons emosional. Di titik itu, perjalanan Viola sebagai penyanyi dan mahasiswa mulai menemukan irisan yang sama.
Belajar Tidak Mengenal Usia
Kisah Viola Harahap sesungguhnya bukan hanya tentang industri musik. Ia juga berbicara mengenai keberanian memulai kembali.
Di Indonesia, masih banyak orang yang menganggap pendidikan memiliki batas waktu. Setelah bekerja, menikah, atau memiliki tanggung jawab lain, keinginan untuk kembali belajar sering kali disimpan rapat karena dianggap sudah terlambat.
Viola justru mengambil jalan yang berlawanan. Ia memilih kembali menjadi mahasiswa saat kariernya sedang berkembang. Keputusan itu menunjukkan bahwa belajar bukanlah aktivitas yang berhenti setelah seseorang memasuki dunia kerja. Justru pengalaman hidup membuat proses belajar menjadi lebih bermakna karena setiap teori dapat langsung dipertemukan dengan realitas sehari-hari.
Pilihan tersebut juga mengingatkan bahwa kesuksesan tidak selalu harus dibangun secara linier. Seseorang dapat menjadi penyanyi sekaligus mahasiswa. Seorang seniman dapat bercita-cita menjadi psikolog. Karier dan pendidikan tidak harus saling mengorbankan.
Mungkin suatu hari nanti masyarakat mengenal Viola Harahap sebagai penyanyi, aktris, pebisnis, atau psikolog. Namun dari seluruh identitas itu, ada satu benang merah yang tampaknya tidak berubah: keinginan untuk terus belajar.
Sebab bagi Viola Harahap, memahami manusia ternyata sama pentingnya dengan menyanyikan perasaannya. (Lukman Hqeem)

