Beritakota.id, Jakarta – Kemudahan mengakses layanan keuangan digital di satu sisi membuka peluang bagi generasi muda untuk berkembang, namun di sisi lain juga menghadirkan ancaman serius berupa pinjaman online (pinjol) ilegal, investasi bodong, hingga judi online yang kian menyasar mahasiswa. Rendahnya literasi keuangan dibandingkan tingginya penggunaan layanan keuangan menjadi salah satu faktor yang membuat anak muda rentan terjebak persoalan finansial.
Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam Talkshow Edukasi Keuangan bertajuk “Money Moves: Smart Today, Secure Tomorrow” yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Koordinator Komisariat Universitas Indonesia di Jakarta Selatan, Jumat (10/7). Kegiatan ini bertujuan membekali mahasiswa dengan kemampuan mengelola keuangan secara sehat sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus kejahatan finansial di era digital.
Talkshow menghadirkan empat narasumber, yakni Analis Senior Badan Supervisi OJK (BSOJK) Ade Firman, Pegiat Sosial Malahayati Consultant Ahmad Maulana atau Bang Ujay, Head of Compliance & Corporate Legal, Customer Relation, RH Campaign of Financial Literacy & Inclusion Function Dandy Kusuma, serta Financial Content Creator Wasji Heryadi.
Dalam paparannya, Ade Firman mengungkapkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan tingkat inklusi keuangan Indonesia telah mencapai sekitar 80,51 persen, sedangkan tingkat literasi keuangan baru 66,46 persen. Menurutnya, kesenjangan tersebut menunjukkan masih banyak masyarakat menggunakan layanan keuangan tanpa memahami manfaat maupun risikonya.
“Masih terdapat gap antara inklusi keuangan yang sudah sekitar 80 persen dengan literasi keuangan yang baru sekitar 66 persen. Karena itu masyarakat harus memiliki pemahaman yang baik agar tidak mudah menjadi korban penipuan maupun penyalahgunaan produk keuangan,” ucap Ade.
Ia menekankan pentingnya menerapkan prinsip 2L, yakni Legal dan Logis, sebelum memanfaatkan produk keuangan atau melakukan investasi.
“Pertama, pastikan lembaganya legal atau sudah berizin OJK. Kedua, gunakan logika ketika menerima tawaran investasi. Kalau ada yang menjanjikan keuntungan sangat tinggi dalam waktu singkat, masyarakat harus mempertanyakan kewajarannya dan membandingkannya dengan instrumen investasi resmi,” jelasnya.
Sementara itu, Ahmad Maulana atau Bang Ujay menilai edukasi keuangan tidak cukup hanya mengajarkan cara mengatur uang, tetapi juga harus membangun kesadaran mengenai bahaya pinjaman online ilegal yang kerap berkaitan dengan persoalan sosial lainnya.
Menurutnya, masyarakat harus bersikap arif dan bijaksana sebelum memutuskan mengambil pinjaman daring. Ia juga mengingatkan adanya keterkaitan antara jeratan pinjol, judi online, hingga penyalahgunaan narkoba yang dapat memperburuk kondisi ekonomi dan sosial seseorang.
Bang Ujay mengatakan edukasi melalui contoh kasus nyata lebih mudah dipahami mahasiswa dibandingkan teori semata.
“Kami terus mengedukasi mahasiswa dengan menghadirkan contoh kasus nyata agar mereka memahami risiko keputusan finansial yang salah. Harapannya, pola pikir konsumtif dapat berubah menjadi lebih bijak dalam mengelola keuangan,” katanya.
Baca juga: Pinjol Tenor 14 Hari Disorot, Dugaan Skema Cicilan Tak Wajar Tuai Keluhan Nasabah
Ia juga menjelaskan pihaknya memberikan pendampingan kepada korban pinjol yang mengalami gagal bayar.
“Korban gagal bayar tidak boleh dibiarkan sendiri. Kami melakukan pendampingan melalui seminar bulanan, membantu membangun kembali mental mereka, sekaligus memberikan pelatihan UMKM agar memiliki peluang memperoleh penghasilan dan bangkit dari kesulitan ekonomi,” ujar Bang Ujay.
Pada kesempatan yang sama, Dandy Kusuma mengungkapkan bahwa gaya hidup konsumtif menjadi salah satu penyebab meningkatnya penggunaan pembiayaan multiguna di kalangan anak muda. Berdasarkan data yang dipaparkannya, sekitar 25 hingga 28 persen pengguna pembiayaan multiguna berasal dari Generasi Z, disusul generasi milenial.
“Sekitar 25 hingga 28 persen pengguna pembiayaan multiguna didominasi oleh Generasi Z. Banyak anak muda, termasuk mahasiswa, yang lebih mengutamakan gaya hidup daripada kebutuhan pokok sehingga mudah terjebak dalam pembiayaan konsumtif,” ujarnya.
Ia mengajak mahasiswa mulai membiasakan diri membuat anggaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menghindari utang untuk memenuhi gaya hidup.
“Mulailah mengatur keuangan sejak dini dengan membuat prioritas pengeluaran. Jangan sampai penghasilan maupun uang saku habis hanya untuk memenuhi gaya hidup yang sebenarnya tidak diperlukan,” katanya.
Sementara itu, Financial Content Creator Wasji Heryadi menekankan bahwa literasi keuangan harus diwujudkan dalam kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar memahami istilah investasi atau tabungan.
“Literasi keuangan bukan sekadar tahu istilah investasi atau tabungan, tetapi bagaimana kita mampu mengendalikan diri dalam mengelola uang. Pendapatan boleh terbatas, tetapi kalau dikelola dengan benar hasilnya akan jauh lebih baik,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah terpengaruh tren media sosial dalam mengambil keputusan finansial.
“Jangan membeli sesuatu hanya karena teman memilikinya atau sedang viral di media sosial. Keputusan keuangan yang baik adalah keputusan yang sesuai kebutuhan dan kemampuan, bukan demi pengakuan dari orang lain,” pungkas Wasji.
Melalui kegiatan ini, HMI Koordinator Komisariat Universitas Indonesia berharap mahasiswa memiliki bekal literasi keuangan yang lebih baik sehingga mampu mengambil keputusan finansial secara cerdas, menghindari pinjaman online ilegal, investasi bodong, maupun berbagai bentuk kejahatan keuangan digital yang semakin marak. (***)

