Beritakota.id, Jakarta Timur – Pasar keuangan global menutup perdagangan pekan lalu dengan kecenderungan lebih berhati-hati setelah dolar Amerika Serikat kembali menguat dan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertahan di level tinggi. Perhatian investor kini sepenuhnya tertuju pada rangkaian data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan depan, yang berpotensi menjadi penentu arah baru bagi emas, pasar valuta asing, Wall Street, hingga aset berisiko lainnya.
Indeks Dolar AS (DXY) bertahan di 100,90, sementara imbal hasil Treasury tenor 10 tahun berada di 4,561% dan tenor 2 tahun di 4,212%. Kombinasi tersebut menunjukkan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve masih relatif hawkish. Di sisi lain, indeks volatilitas VIX berada di 15,02, mengindikasikan sentimen pasar masih terkendali meskipun kewaspadaan mulai meningkat menjelang rilis data ekonomi penting.
Di pasar komoditas, minyak mentah masih mampu mempertahankan tren positif. WTI diperdagangkan di US$72,03 per barel, sedangkan Brent berada di US$75,98 per barel. Kenaikan harga minyak didukung oleh berlanjutnya kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait risiko gangguan distribusi melalui Selat Hormuz. Selama ketegangan geopolitik belum menunjukkan tanda-tanda mereda, harga energi diperkirakan tetap memperoleh dukungan fundamental.
Baca juga : 4 Cara Tading Emas saat Pasar Bergejolak
Dolar Menguat, Emas Kehilangan Momentum
Pasar emas kembali menghadapi tekanan setelah gagal mempertahankan penguatan yang sempat terjadi pada awal pekan. XAU/USD ditutup di sekitar US$4.120 per troy ounce, sedikit lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya di US$4.123. Selama sesi perdagangan, harga sempat menyentuh level tertinggi US$4.134 sebelum terkoreksi hingga US$4.072, mencerminkan tingginya volatilitas menjelang pekan yang sarat data ekonomi.
Di pasar mata uang, euro diperdagangkan di 1,1415 terhadap dolar AS, sementara pound sterling berada di 1,3402. Yen Jepang kembali mengalami tekanan dengan USD/JPY bertahan di level 161,70, meskipun sempat menguat setelah muncul laporan bahwa pemerintah Jepang mempertimbangkan langkah untuk mendorong dana pensiun meningkatkan investasi pada aset domestik.
Penguatan dolar juga didorong oleh komentar Presiden Donald Trump terkait kebijakan perdagangan serta munculnya kembali peluang dimulainya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Kombinasi sentimen tersebut menjaga permintaan terhadap dolar AS sebagai aset lindung nilai menjelang pekan penuh data ekonomi.
Wall Street Masih Bertahan di Area Rekor
Bursa saham Amerika Serikat tetap menunjukkan ketahanan meskipun investor mulai mengurangi aktivitas menjelang rilis data inflasi. Indeks Dow Jones ditutup di 52.956, S&P 500 berada di 7.575, sementara Nasdaq bertahan di 29.825.
Kinerja Wall Street masih didukung oleh optimisme terhadap laba perusahaan dan prospek pertumbuhan ekonomi AS. Namun, valuasi yang semakin tinggi membuat ruang kenaikan menjadi lebih terbatas apabila data inflasi kembali menunjukkan tekanan harga yang kuat. Dalam kondisi tersebut, pasar saham berpotensi menghadapi aksi ambil untung jangka pendek.
Rupiah Masih Berada di Bawah Tekanan
Di dalam negeri, rupiah masih bergerak lemah dengan nilai tukar mencapai Rp18.064 per dolar AS, sejalan dengan penguatan dolar di pasar global. IHSG ditutup di level 5.924, mencerminkan sikap investor yang cenderung menunggu kepastian arah kebijakan moneter global.
Tekanan terhadap mata uang regional diperkirakan masih akan berlanjut apabila data inflasi AS kembali melampaui ekspektasi pasar. Sebaliknya, angka inflasi yang lebih rendah berpotensi membuka ruang penguatan bagi aset-aset emerging markets, termasuk rupiah dan IHSG.
Fokus Pasar Pekan Ini
Pekan depan akan menjadi salah satu periode terpenting bagi pasar keuangan global. Investor akan mencermati data Core Inflation (CPI) dan Inflation Rate Amerika Serikat pada Selasa malam, disusul kesaksian Ketua Federal Reserve di hadapan Kongres. Rangkaian data kemudian berlanjut dengan Producer Price Index (PPI) pada Rabu, Retail Sales pada Kamis, serta Michigan Consumer Sentiment pada Jumat.
Data-data tersebut akan menjadi dasar baru bagi pasar dalam memperkirakan arah suku bunga Federal Reserve pada paruh kedua tahun ini. Dampaknya diperkirakan tidak hanya terasa pada dolar AS dan emas, tetapi juga pasar obligasi, saham global, hingga nilai tukar di negara berkembang.
Memasuki pekan baru, pasar tampak berada dalam fase “wait and see“. Dolar masih memegang kendali, imbal hasil obligasi tetap tinggi, sementara emas belum mampu keluar dari fase konsolidasi. Wall Street masih bertahan di dekat rekor tertinggi, tetapi ruang kenaikannya semakin bergantung pada hasil data inflasi Amerika Serikat.
Bagi pelaku pasar, fokus utama bukan lagi pada pergerakan harga harian, melainkan pada bagaimana data ekonomi pekan ini akan mengubah ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve. Selama belum ada kejutan dari sisi inflasi, pasar kemungkinan tetap bergerak dalam kisaran terbatas. Namun, begitu data dirilis, volatilitas diperkirakan meningkat tajam dan berpotensi menentukan arah tren baru untuk emas, dolar AS, pasar saham global, maupun aset-aset berisiko lainnya. (Lukman Hqeem)

