Beritakota.id, Jakarta Timur – Sutradara Renny Harlin tampaknya tidak sedang berusaha menciptakan film hiu terbaik sepanjang masa. Ia hanya ingin membuat penonton duduk tegang selama hampir dua jam. Dan, sebagian besar waktunya, ia berhasil.
Premisnya sederhana. Sebuah penerbangan dari Los Angeles menuju Shanghai mengalami kerusakan fatal dan terpaksa mendarat di Samudra Pasifik. Selamat dari kecelakaan ternyata bukan akhir dari mimpi buruk. Laut terbuka menyimpan ancaman lain: sekawanan hiu yang perlahan mengubah proses evakuasi menjadi perjuangan hidup dan mati.
Konsep “plane crash + shark attack” memang terdengar seperti film kelas B. Namun justru di situlah daya tariknya.
Sekitar 30-40 menit pertama merupakan bagian terbaik film ini. Harlin membangun ketegangan melalui suasana di dalam pesawat sebelum akhirnya menyajikan salah satu adegan kecelakaan udara paling intens dalam film thriller tahun ini. Efek visual, desain suara, serta ritme penyutradaraan membuat penonton benar-benar merasakan kepanikan para penumpang.
Baca juga : Review Film Ip Man: Kung Fu Legend, Warisan Wing Chun Abadi
Ironisnya, setelah pesawat jatuh, intensitas film sedikit menurun.
Berbeda dengan kebanyakan film hiu yang langsung memamerkan monster laut sejak awal, Deep Water justru menahan kemunculan hiu cukup lama. Keputusan ini cukup efektif.
Setiap karakter yang harus turun ke air otomatis berubah menjadi taruhan. Penonton tahu bahaya ada di bawah permukaan, tetapi tidak pernah benar-benar tahu kapan serangan berikutnya datang. Sayangnya, ketika hiu mulai mendominasi cerita, naskah justru terasa terlalu konvensional.
Karakter-karakternya tidak terlalu berkembang. Dialog sering kali terdengar generik. Konflik antarmanusia pun terasa dibuat sekadar untuk mengisi durasi. Banyak kritikus menilai film ini mengandalkan formula lama tanpa menawarkan sesuatu yang benar-benar baru.
Aaron Eckhart Tetap Menjadi Sandaran
Aaron Eckhart tampil meyakinkan sebagai sosok yang mencoba menjaga ketenangan di tengah kepanikan. Ben Kingsley memang hadir sebagai nama besar, namun porsinya relatif terbatas.
Sebagian besar karakter lainnya berfungsi sebagai “calon korban”. Penonton tidak memiliki cukup waktu untuk benar-benar peduli kepada mereka sebelum satu per satu menghadapi nasib tragis.
Di sinilah pengalaman Renny Harlin berbicara. Laut terasa luas, pesawat terasa rapuh. Hiu tidak terlalu sering muncul, sehingga setiap kemunculannya tetap memiliki efek kejut. Film ini jelas mengingatkan pada karya-karya Harlin sebelumnya seperti Deep Blue Sea, walaupun tidak pernah mencapai level ikonik film tersebut.
Rangkuman Dari Eleman Film Lain
Masalah utama Deep Water bukanlah efek visual atau adegan aksi, namun di naskah. Film ini terasa seperti kumpulan elemen yang pernah kita lihat sebelumnya, kecelakaan pesawat, kelompok penyintas, konflik ego, pengorbanan, hiu lapar, dan penyelamatan di detik terakhir.
Tidak ada kejutan besar. Tidak ada karakter yang benar-benar membekas setelah lampu bioskop menyala.
Deep Water bukan film yang akan dikenang sebagai tonggak baru genre survival. Namun jika tujuan Anda hanyalah menikmati malam dengan popcorn, suara surround yang keras, serta ketegangan selama hampir dua jam, film ini memenuhi tugasnya.
Film ini tidak revolusioner, tidak juga konyol. Ia hanyalah thriller hiburan yang dibuat oleh sutradara berpengalaman yang tahu bagaimana menjaga denyut adrenalin penonton.
Sejumlah kritikus menyatakan film ini berhasil sebagai “unapologetic B-movie“—tidak mencoba menjadi lebih dari dirinya sendiri, tetapi cukup menghibur untuk penggemar thriller bencana dan film hiu.
Deep Water mungkin tidak akan masuk daftar film thriller terbaik dekade ini, tetapi cukup berhasil menjadi tontonan yang menegangkan, seru, dan menghibur bagi penikmat genre survival-disaster. Skor 7,8/10. (Lukman Hqeem)

