Beritakota.id, Jakarta – Anggapan bahwa kolesterol tinggi hanya dialami oleh orang bertubuh gemuk masih banyak dipercaya masyarakat. Padahal, seseorang dengan berat badan normal bahkan bertubuh kurus tetap berisiko mengalami dislipidemia, yaitu kelainan kadar lemak dalam darah yang menjadi salah satu faktor utama penyebab penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke.

Kesalahpahaman tersebut membuat banyak orang merasa tidak perlu memeriksakan kadar kolesterol karena menganggap tubuh langsing identik dengan kondisi sehat. Akibatnya, gangguan kolesterol sering kali baru diketahui setelah muncul komplikasi serius yang mengancam jiwa.

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, perusahaan kesehatan global Daewoong bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) kembali menggelar forum edukasi HEART TALK. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan literasi kesehatan jantung melalui penyampaian informasi medis yang akurat, berbasis bukti ilmiah, dan mudah dipahami masyarakat.

Melalui forum tersebut, Daewoong menegaskan komitmennya dalam mendukung edukasi kesehatan jantung di Indonesia. Media massa juga dilibatkan sebagai mitra strategis untuk menyebarluaskan informasi yang benar sekaligus meluruskan berbagai mitos mengenai kolesterol yang masih berkembang di tengah masyarakat.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari PERKI, dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, menegaskan bahwa kadar kolesterol tinggi tidak semata-mata dipengaruhi oleh berat badan.

Menurutnya, banyak faktor lain yang turut berperan, seperti faktor keturunan, pola makan tinggi lemak jenuh dan lemak trans, kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok, diabetes, hingga pertambahan usia.

“Memiliki tubuh langsing bukan berarti terbebas dari risiko kolesterol tinggi. Banyak pasien dengan indeks massa tubuh normal yang ternyata memiliki kadar LDL tinggi. Karena itu, pemeriksaan profil lipid tetap penting dilakukan sebagai bagian dari deteksi dini,” ujar dr. Susetyo dalam forum HEART TALK di Jakarta, Kamis (23/7).

Dr. Susetyo menjelaskan, kadar Low Density Lipoprotein (LDL) atau yang dikenal sebagai kolesterol “jahat” dapat menumpuk di dinding pembuluh darah dan membentuk plak aterosklerosis.

Penumpukan plak tersebut menyebabkan pembuluh darah menyempit bahkan tersumbat sehingga meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung koroner, serangan jantung, maupun stroke.

Sebaliknya, High Density Lipoprotein (HDL) atau kolesterol “baik” memiliki fungsi membantu membawa kolesterol berlebih kembali ke hati untuk diproses dan dikeluarkan dari tubuh.

Selain LDL, kadar trigliserida yang tinggi juga menjadi faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular apabila tidak dikendalikan dengan baik.

Baca juga: Jarang Makan Gorengan tapi Kolesterol Tetap Tinggi?

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan dislipidemia adalah penyakit ini umumnya berkembang tanpa gejala.

Banyak penderita baru mengetahui kadar kolesterolnya tinggi setelah mengalami komplikasi serius seperti serangan jantung atau stroke. Kondisi inilah yang membuat pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi sangat penting.

Pemeriksaan profil lipid secara rutin terutama dianjurkan bagi:

  • Orang berusia di atas 40 tahun.
  • Memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung.
  • Penderita hipertensi.
  • Penyandang diabetes.
  • Perokok aktif.
  • Individu dengan faktor risiko penyakit kardiovaskular lainnya.

Berbagai pedoman internasional juga menekankan bahwa pengendalian kadar LDL merupakan strategi utama dalam mencegah penyakit jantung. Semakin tinggi risiko seseorang, semakin rendah target kadar LDL yang harus dicapai.

Selain pemeriksaan rutin, pengelolaan kolesterol memerlukan perubahan gaya hidup secara menyeluruh.

Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain:

  • Mengurangi konsumsi lemak jenuh dan lemak trans.
  • Memperbanyak konsumsi buah, sayuran, serta makanan tinggi serat.
  • Berolahraga secara rutin sedikitnya 150 menit setiap minggu.
  • Menjaga berat badan tetap ideal.
  • Berhenti merokok.
  • Membatasi konsumsi minuman beralkohol.

Pada individu dengan risiko tinggi atau yang telah didiagnosis mengalami dislipidemia, dokter juga dapat memberikan terapi obat penurun kolesterol agar target kadar LDL sesuai rekomendasi medis dapat tercapai.

Melalui kolaborasi berkelanjutan bersama PERKI, Daewoong berharap masyarakat semakin memahami bahwa kesehatan jantung tidak dapat dinilai hanya dari penampilan fisik atau bentuk tubuh.

Pemeriksaan kesehatan secara berkala, deteksi dini, dan pengendalian faktor risiko menjadi investasi penting untuk mencegah penyakit kardiovaskular yang hingga kini masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia maupun dunia.

Forum HEART TALK diharapkan dapat meningkatkan literasi kesehatan masyarakat sekaligus menghapus anggapan keliru bahwa kolesterol tinggi hanya menyerang orang dengan berat badan berlebih. Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat diharapkan lebih proaktif melakukan pemeriksaan kolesterol dan menerapkan gaya hidup sehat untuk menurunkan risiko serangan jantung maupun stroke. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *