Beritakota.id, Jakarta – Di tengah berbagai tantangan global dan persaingan antarbangsa yang semakin ketat, pembangunan sumber daya manusia menjadi faktor penentu masa depan Indonesia. Di tengah upaya menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045, SMA Pradita Dirgantara hadir sebagai salah satu model pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kepemimpinan, dan visi kebangsaan.

Sekolah berasrama yang berlokasi di Boyolali, Jawa Tengah, tersebut kembali menjadi sorotan setelah para siswanya menorehkan berbagai prestasi di tingkat internasional. Namun di balik berbagai capaian itu, terdapat sosok Nannie Hadi Tjahjanto, pendiri sekaligus penggerak utama yang sejak awal meyakini bahwa pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang memiliki cita-cita, karakter kuat, dan semangat pengabdian kepada bangsa.

Bagi Nannie, pendidikan bukan sekadar proses memperoleh ilmu pengetahuan atau mengejar nilai akademik setinggi mungkin. Pendidikan harus mampu membentuk manusia yang memahami tujuan hidupnya dan memiliki arah yang jelas dalam berkarya.

Karena itu, ia menetapkan satu prinsip sederhana yang menjadi fondasi SMA Pradita Dirgantara.

“Syarat pertama masuk sekolah ini adalah punya cita-cita. Kalau tidak punya cita-cita, pulang saja ke rumah,” ujarnya.

Pernyataan tersebut bukan sekadar kalimat motivasi. Di SMA Pradita Dirgantara, cita-cita dipandang sebagai titik awal dari seluruh proses pendidikan. Seorang siswa harus memahami untuk apa ia belajar, ke mana ia akan melangkah, dan bagaimana ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Sekolah bukan hanya teori. Anak-anak harus tahu untuk apa mereka belajar dan bagaimana ilmunya bisa digunakan,” kata Nannie.

Filosofi itulah yang kemudian membentuk budaya pendidikan di SMA Pradita Dirgantara. Sekolah tidak hanya mendorong pencapaian akademik, tetapi juga menanamkan kedisiplinan, kepemimpinan, kemandirian, serta kemampuan berpikir kritis dan adaptif dalam menghadapi perubahan dunia.

Mewujudkan Pesan Besar Habibie

Lahirnya SMA Pradita Dirgantara tidak dapat dilepaskan dari pemikiran Presiden ke-3 Republik Indonesia, almarhum Prof. Dr. B.J. Habibie. Saat meresmikan sekolah tersebut pada 11 Juli 2018, Habibie menyampaikan pesan yang hingga kini menjadi ruh pendidikan di sekolah tersebut.

Menurut Habibie, kemajuan bangsa tidak cukup hanya ditopang oleh kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan harus mampu melahirkan manusia yang memiliki keseimbangan antara kemampuan intelektual dan kekuatan moral.

Karena itu, Habibie menekankan pentingnya harmoni antara ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dengan iman dan takwa (imtak).

Lebih jauh, Habibie juga mengingatkan bahwa kekayaan terbesar Indonesia bukanlah sumber daya alam, melainkan sumber daya manusia yang unggul, kreatif, dan berkarakter.

Pesan itulah yang diterjemahkan oleh Nannie Hadi Tjahjanto ke dalam sistem pendidikan SMA Pradita Dirgantara. Sekolah ini menggabungkan disiplin, pembinaan karakter, kepemimpinan, penguatan nilai-nilai kebangsaan, serta kurikulum internasional Cambridge dan International Baccalaureate (IB).

Pendekatan tersebut dirancang untuk melahirkan generasi yang mampu bersaing di tingkat global tanpa kehilangan identitas, integritas, dan kecintaan terhadap tanah air.

Selaras dengan Arah Pembangunan SDM Nasional

Apa yang dibangun SMA Pradita Dirgantara sejak 2018 kini semakin relevan dengan arah pembangunan sumber daya manusia yang menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Prabowo berulang kali menegaskan bahwa pendidikan merupakan investasi paling strategis bagi masa depan bangsa. Menurutnya, kemajuan Indonesia sangat bergantung pada kualitas generasi muda yang dipersiapkan hari ini.

Karena itu, pemerintah terus memperluas akses pendidikan berkualitas melalui berbagai program, termasuk penguatan beasiswa dan pengembangan sekolah unggulan yang mampu menghasilkan lulusan berstandar global.

Salah satu program yang menjadi perhatian adalah Sekolah Garuda, yang dirancang untuk mencetak generasi muda Indonesia agar mampu bersaing dan diterima di perguruan tinggi terbaik dunia.

Dalam konteks tersebut, SMA Pradita Dirgantara dapat disebut sebagai salah satu institusi yang telah lebih dahulu mengimplementasikan konsep pendidikan unggul berbasis karakter, kepemimpinan, dan standar internasional.

Azka dan Bukti Nyata Pendidikan Berbasis Visi

Keberhasilan model pendidikan tersebut tercermin dari prestasi Azka Abdul Malik Albayroni.

Siswa SMA Pradita Dirgantara itu berhasil memperoleh 30 Letter of Acceptance (LoA) dari berbagai universitas ternama di tujuh negara dan empat benua. Di antara kampus yang memberikan tawaran kepadanya adalah Australian National University (ANU), University of Sydney, UNSW Sydney, Wageningen University, Nanyang Technological University (NTU), Chinese University of Hong Kong, University of Auckland, hingga University of Toronto.

Baca juga: Wow! 73,21 Persen Lulusan SMA Dharma Wanita 1 Pare Diterima PTN, Tertinggi di Kediri

Meski memiliki banyak pilihan, Azka memilih melanjutkan pendidikan di University of Amsterdam, Belanda, pada program Human Geography and Planning.

Pilihan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan global tidak selalu berorientasi pada prestise semata. Azka memilih bidang yang berkaitan dengan pembangunan wilayah, tata ruang, dan masyarakat karena meyakini bahwa masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas perencanaan pembangunan dan pengelolaan ruang hidup.

Sebelum menempuh pendidikan di SMA Pradita Dirgantara, Azka merupakan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor. Pengalaman pendidikan pesantren yang menanamkan disiplin, kemandirian, dan penguasaan bahasa asing berpadu dengan pendidikan global yang diterimanya di Pradita Dirgantara.

Perpaduan tersebut membentuk pribadi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat secara karakter.

Melahirkan Generasi Berdaya Saing Global

Prestasi Azka bukanlah pencapaian yang berdiri sendiri.

Dari 101 siswa kelas XII SMA Pradita Dirgantara tahun ini, sebanyak 65 siswa atau 64,35 persen berhasil memperoleh Beasiswa Garuda LPDP untuk melanjutkan pendidikan ke berbagai universitas luar negeri.

Angka tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan sekolah tidak hanya melahirkan individu-individu berprestasi, tetapi juga membangun budaya akademik yang mendorong para siswa berkembang secara optimal.

Dengan dukungan beasiswa yang mencakup biaya pendidikan, transportasi, visa, asuransi kesehatan, dan biaya hidup, para siswa memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi terbaik mereka di lingkungan pendidikan internasional.

Tantangan Baru bagi Generasi Muda Indonesia

Meski demikian, perjalanan menuju pendidikan global tidak selalu berjalan tanpa hambatan.

Dr. Rachma Fitriati, M.Si., M.Si. (Han), dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia sekaligus ibu Azka, menyoroti persoalan yang kerap dihadapi mahasiswa Indonesia yang baru pertama kali tinggal di luar negeri, terutama terkait hunian dan proses adaptasi.

Menurutnya, lulusan SMA yang berangkat ke luar negeri membutuhkan perhatian dan pendampingan yang berbeda dibandingkan mahasiswa pascasarjana yang umumnya sudah memiliki pengalaman hidup lebih matang.

Karena itu, ia berharap adanya sinergi antara LPDP dan Kementerian Luar Negeri melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia maupun Atase Pendidikan untuk membantu para penerima beasiswa mendapatkan informasi dan akses hunian yang aman serta layak.

Dukungan tersebut dinilai penting agar para siswa dapat lebih fokus menjalani pendidikan dan beradaptasi dengan lingkungan baru.

Investasi Terbaik untuk Indonesia Emas 2045

Bagi Nannie Hadi Tjahjanto, seluruh proses pendidikan yang dibangun di SMA Pradita Dirgantara pada akhirnya bermuara pada satu tujuan besar, yakni menyiapkan sumber daya manusia unggul sebagai fondasi Indonesia Emas 2045.

Menurutnya, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur atau pertumbuhan ekonomi, tetapi terutama oleh kualitas manusianya.

Karena itu, pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang cerdas, berintegritas, memiliki visi hidup yang jelas, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan negara.

“Satu keinginan saya adalah mengangkat SDM unggul untuk Indonesia Emas. Karena Indonesia Emas tinggal beberapa tahun lagi, maka pendidikan harus dipersiapkan sejak dini,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa ukuran keberhasilan pendidikan bukan semata jumlah siswa yang diterima di universitas ternama, melainkan kemampuan mereka untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.

“Harapan saya sederhana, bagaimana pendidikan bisa melahirkan generasi yang tahu tujuan hidupnya dan mampu memberikan manfaat bagi bangsa,” kata Nannie.

Prestasi Azka yang diterima di 30 universitas dunia, disusul keberhasilan puluhan siswa lainnya meraih beasiswa internasional, menjadi bukti bahwa investasi pada pendidikan berkualitas mampu menghasilkan dampak nyata.

Di SMA Pradita Dirgantara, pesan Habibie tentang pentingnya keseimbangan antara imtak dan iptek tidak berhenti sebagai semboyan. Pesan itu hidup dalam setiap proses pendidikan yang dijalankan, membentuk generasi muda yang siap bersaing secara global tanpa kehilangan karakter, nilai moral, dan jati diri kebangsaan.

Melalui pendidikan yang visioner, terarah, dan berkelanjutan, cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak lagi sekadar menjadi wacana. Ia sedang dipersiapkan hari ini, melalui investasi terbaik yang dimiliki sebuah bangsa: pendidikan. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *