Beritakota.id, Jakarta Timur – Indeks Dolar Amerika Serikat (DXY) kembali bergerak menguat pada perdagangan Rabu (1/7), memulihkan sebagian pelemahan yang terjadi pada awal pekan. DXY diperdagangkan di kisaran 101,3, didukung kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan meningkatnya keyakinan bahwa Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga tahun ini.
Penguatan dolar terjadi ketika pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter. Fokus investor kini sepenuhnya tertuju pada rangkaian data tenaga kerja Amerika Serikat, terutama ADP Employment Change dan Non-Farm Payrolls (NFP) yang akan menjadi acuan utama arah kebijakan The Fed dalam beberapa bulan mendatang.
Momentum tersebut juga muncul setelah data ekonomi terbaru kembali menunjukkan bahwa perekonomian Amerika masih jauh dari kondisi yang membutuhkan stimulus moneter.
Baca juga : Dolar AS Makin Perkasa, Benamkan Emas Dibawah $4000
Data Tenaga Kerja Kembali Mengubah Sentimen Pasar
Pemicu utama penguatan dolar berasal dari laporan JOLTS Job Openings. Data Bureau of Labor Statistics menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan pada Mei meningkat menjadi sekitar 7,59 juta posisi, jauh di atas ekspektasi pasar yang berada di kisaran 7,30 juta. Kenaikan tersebut merupakan level tertinggi dalam hampir dua tahun. Data ini mengirimkan pesan penting kepada investor.
Permintaan tenaga kerja masih kuat. Perusahaan Amerika belum menunjukkan tanda-tanda melakukan pengurangan perekrutan secara besar-besaran. Dengan kata lain, ekonomi Amerika masih cukup tangguh untuk menghadapi kebijakan suku bunga tinggi.
Sejalan dengan data ekonomi yang solid, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat ikut bergerak naik. Yield Treasury tenor 10 tahun melonjak sekitar 10 basis poin dalam perdagangan sebelumnya sebelum ditutup menguat hampir lima basi s poin. Yield tenor dua tahun juga kembali meningkat menuju 4,17%.
Bagi pasar valuta asing, kenaikan yield memiliki arti sederhana. Aset berbasis dolar menjadi lebih menarik dibandingkan mata uang lainnya. Aliran modal global pun kembali masuk ke aset-aset Amerika Serikat. Kondisi tersebut mendorong permintaan terhadap dolar sekaligus memperkuat posisi DXY terhadap mayoritas mata uang utama dunia.
Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Terus Meningkat
Ekspektasi pasar terhadap langkah Federal Reserve juga berubah cukup signifikan. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada September kini telah meningkat menjadi sekitar 67%, jauh lebih tinggi dibandingkan hanya sekitar 20% satu bulan sebelumnya.
Sementara itu, untuk pertemuan Juli, pasar masih memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50%–3,75%, namun peluang kenaikan mulai kembali diperhitungkan apabila inflasi tetap bertahan tinggi. Perubahan ekspektasi tersebut menjadi salah satu alasan utama mengapa dolar mampu bangkit meskipun ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah belum sepenuhnya mereda.
Salah satu dampak paling nyata dari penguatan dolar terlihat pada pergerakan yen Jepang. Pasangan USD/JPY melonjak hingga menyentuh sekitar 162,8, level tertinggi sejak 1986. Posisi tersebut bahkan telah melampaui area yang sebelumnya mendorong pemerintah Jepang melakukan intervensi di pasar valuta asing.
Pelaku pasar mulai memperkirakan Kementerian Keuangan Jepang kembali memiliki peluang melakukan intervensi apabila pelemahan yen terus berlanjut. Sementara beberapa analis menilai libur nasional Amerika Serikat pada akhir pekan ini dapat menciptakan kondisi likuiditas yang lebih tipis, sehingga potensi intervensi Jepang menjadi lebih efektif apabila benar-benar dilakukan.
Tidak hanya yen, mayoritas mata uang utama dunia juga bergerak melemah terhadap dolar. Euro turun menuju kisaran US$1,14, sementara pound sterling bergerak di sekitar US$1,33. Dolar Australia dan dolar Selandia Baru juga kehilangan sebagian penguatannya. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa penguatan dolar kali ini lebih didorong faktor fundamental Amerika Serikat dibandingkan pelemahan spesifik pada mata uang tertentu.
Investor juga terus memantau perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran di Qatar. Delegasi Amerika telah tiba untuk membahas implementasi nota kesepahaman yang membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Meski demikian, kedua negara diperkirakan belum akan melakukan pertemuan langsung.
Pemulihan aktivitas pelayaran di Hormuz telah membantu menurunkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global. Harga minyak yang lebih stabil berpotensi mengurangi tekanan inflasi dari sisi energi. Namun hingga saat ini, dampak positif tersebut belum cukup besar untuk mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve.
Fokus Pasar Beralih ke Non-Farm Payrolls
Dalam jangka pendek, arah DXY akan sangat bergantung pada laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat. Apabila data Non-Farm Payrolls kembali menunjukkan penciptaan lapangan kerja yang kuat disertai pertumbuhan upah yang solid, peluang kenaikan suku bunga The Fed diperkirakan akan semakin besar. Skenario tersebut berpotensi mendorong yield obligasi naik lebih lanjut dan memperkuat dolar terhadap mayoritas mata uang global.
Sebaliknya, apabila data tenaga kerja mulai menunjukkan perlambatan yang signifikan, pasar dapat kembali membuka ruang bagi ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter. Kondisi itu berpotensi memicu aksi ambil untung pada dolar sekaligus memberi ruang pemulihan bagi mata uang utama lainnya.
Untuk saat ini, kombinasi yield Treasury yang meningkat, ketahanan pasar tenaga kerja, dan prospek suku bunga yang tetap tinggi masih menjadikan dolar Amerika Serikat sebagai aset yang paling diminati menjelang penutupan pekan perdagangan. (Lukman Hqeem)

