Beritakota.id, Jakarta – Harga emas dunia kembali berada di bawah tekanan setelah menembus level psikologis US$4.000 per troy ons, level yang terakhir kali terlihat pada November 2025. Pelemahan ini terjadi seiring menguatnya dolar AS dan meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve masih akan menaikkan suku bunga beberapa kali hingga akhir tahun.
Pada perdagangan Kamis pagi (25/06/2026), harga spot emas bergerak di kisaran US$3.971 per ons sebelum kembali pulih mendekati US$3.995 per ons. Meski demikian, logam mulia tersebut masih berada dalam tren bearish yang kuat setelah terkoreksi sekitar 29% dari rekor tertinggi US$5.594,82 per ons yang dicapai pada Januari 2026.
Baca juga : Sentimen Pasar Berselisih, Perdagangan Emas Fluktuatif
Tekanan utama datang dari perubahan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat. Pelaku pasar kini memperkirakan The Fed berpotensi menaikkan suku bunga hingga tiga kali sepanjang tahun ini, dengan peluang kenaikan pada September mencapai sekitar 67%.
Kondisi tersebut membuat daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil semakin berkurang. Ketika suku bunga meningkat, investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang menawarkan yield lebih tinggi seperti obligasi pemerintah AS.
Di sisi lain, indeks dolar AS masih bertahan di dekat level tertinggi dalam 13 bulan. Penguatan greenback membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain sehingga menekan permintaan global.
Pasar kini menantikan rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat, indikator inflasi favorit Federal Reserve. Data tersebut berpotensi menjadi penentu arah kebijakan suku bunga berikutnya sekaligus menentukan apakah tekanan terhadap emas akan berlanjut atau mulai mereda.
Dari perspektif teknikal, level US$4.000 yang sebelumnya menjadi area dukungan utama kini berubah menjadi zona resistensi jangka pendek. Selama harga bertahan di bawah area tersebut, risiko penurunan menuju US$3.900 hingga US$3.850 masih terbuka dalam beberapa sesi perdagangan mendatang.
Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mengalami tekanan. Perak turun mendekati level terendah tujuh bulan, sementara platinum dan palladium bergerak di dekat titik terendah dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ini menunjukkan sentimen investor terhadap sektor logam mulia secara keseluruhan masih cenderung defensif.
Untuk horizon 4–8 jam ke depan, fokus pasar akan tertuju pada data inflasi AS dan pergerakan dolar. Apabila data PCE kembali menunjukkan tekanan inflasi yang tinggi, ekspektasi kenaikan suku bunga berpotensi menguat dan membuka ruang bagi emas untuk melanjutkan fase koreksi. Sebaliknya, data yang lebih lunak dapat memicu rebound teknikal setelah penurunan tajam dalam beberapa hari terakhir. (Lukman Hqeem)

