Beritakota.id, Jakarta – Harga emas dunia memasuki awal pekan dengan nada yang masih berhati-hati. Setelah berhasil menutup perdagangan akhir pekan lalu kembali di atas level psikologis US$4.000, logam mulia tersebut belum mampu membangun momentum penguatan yang lebih meyakinkan.

Pada perdagangan Jumat, emas spot ditutup di kisaran US$4.088 per troy ounce. Memasuki perdagangan Senin, harga dibuka di sekitar US$4.075 sebelum bergerak melemah ke area US$4.067, bahkan sempat menyentuh level intraday di sekitar US$4.053. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar masih menimbang berbagai katalis global yang saling bertolak belakang.

Baca juga : Suku Bunga Tinggi, Emas Dikisaran Harga Psikologis $4.000

Di satu sisi, emas tetap memperoleh dukungan dari tingginya ketidakpastian geopolitik. Namun di sisi lain, kenaikan harga minyak serta meningkatnya ekspektasi suku bunga Amerika Serikat kembali menjadi faktor yang membatasi ruang penguatan logam mulia.

Ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi perhatian pasar setelah Amerika Serikat dan Iran kembali melancarkan aksi militer selama akhir pekan. Serangan tersebut sempat mendorong harga minyak mentah menguat karena meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global, khususnya di kawasan Teluk.

Meski demikian, perkembangan terbaru memberikan sedikit ruang optimisme. Laporan Axios menyebutkan Washington dan Teheran telah menyepakati penghentian sementara aksi militer serta membuka kembali jalur diplomasi terkait sengketa Selat Hormuz. Langkah tersebut membantu meredakan kekhawatiran pasar, meskipun risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang.

Bagi pasar emas, lonjakan harga minyak justru menghadirkan tantangan baru. Harga energi yang bertahan tinggi berpotensi mempertahankan tekanan inflasi, sehingga membuka peluang Federal Reserve mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Kondisi tersebut mengurangi daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset). Ketika suku bunga meningkat, investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi seperti obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Ekspektasi tersebut kini semakin menguat. Berdasarkan proyeksi pasar yang tercermin dalam CME FedWatch Tool, investor memperkirakan Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga hingga tiga kali sepanjang tahun ini, dengan probabilitas sekitar 80 persen untuk kenaikan pada pertemuan Desember.

Karena itu, perhatian investor sepanjang pekan ini diperkirakan akan tertuju pada rangkaian data ketenagakerjaan Amerika Serikat, mulai dari ADP Employment Change hingga laporan Nonfarm Payrolls (NFP). Kedua indikator tersebut akan menjadi acuan penting dalam membaca arah kebijakan moneter The Fed pada sisa tahun ini.

Apabila data tenaga kerja kembali menunjukkan kondisi ekonomi yang solid, peluang suku bunga bertahan tinggi akan semakin besar. Skenario tersebut berpotensi memperkuat dolar AS dan imbal hasil Treasury, sekaligus membatasi kenaikan harga emas dalam jangka pendek.

Sebaliknya, apabila data mulai menunjukkan perlambatan pasar tenaga kerja, ekspektasi pengetatan moneter dapat berkurang sehingga membuka ruang bagi emas untuk kembali melanjutkan pemulihannya di atas level US$4.000.

Dalam jangka menengah, prospek emas juga masih dipengaruhi perkembangan geopolitik dan pergerakan harga energi. Chief Market Analyst KCM Trade, Tim Waterer, menilai emas masih memiliki peluang menguji level US$5.000 tahun ini apabila konflik di Timur Tengah terus mereda, harga minyak kembali ke level sebelum konflik sehingga tekanan inflasi berangsur turun, serta dolar AS kehilangan momentum penguatannya.

Dengan demikian, arah pergerakan emas dalam beberapa pekan mendatang akan ditentukan oleh empat faktor utama, yakni perkembangan konflik geopolitik, dinamika harga minyak dunia, kekuatan data ekonomi Amerika Serikat, dan ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Bagi pelaku pasar, kombinasi keempat faktor tersebut akan menjadi penentu apakah emas mampu mempertahankan pijakannya di atas US$4.000 atau kembali menghadapi tekanan menuju area support berikutnya. Di tengah ketidakpastian yang masih tinggi, volatilitas diperkirakan tetap menjadi karakter utama perdagangan emas sepanjang pekan ini. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *