Beritakota.id, Jakarta Selatan – Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Selasa (30/6) setelah perhatian pelaku pasar beralih ke rencana dimulainya kembali pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran di Doha, Qatar. Meski demikian, para ekonom menilai harga energi berpotensi tetap bertahan di atas level sebelum konflik Timur Tengah, sehingga risiko inflasi global diperkirakan belum sepenuhnya mereda.
Kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun menuju kisaran US$70 per barel setelah sebelumnya sempat menguat pada awal pekan. Pelemahan terjadi seiring meningkatnya optimisme bahwa jalur diplomasi antara Washington dan Teheran dapat meredakan ketegangan di kawasan Teluk Persia.
Baca juga : Geopolitik Dinamis, Minyak Bergerak di Zona Ketidakpastian
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Iran telah mengajukan pertemuan yang dijadwalkan berlangsung di Doha. Pernyataan tersebut memicu harapan bahwa stabilitas pasokan energi global akan berangsur pulih setelah beberapa pekan terakhir dibayangi kekhawatiran terhadap keamanan distribusi minyak melalui Selat Hormuz.
Namun, situasi di lapangan masih menyisakan ketidakpastian. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan negaranya tetap akan mengawasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz, meskipun Oman tidak ikut dalam mekanisme pengawasan tersebut. Berdasarkan kesepakatan sementara, Iran memang tidak akan mengenakan biaya transit selama 60 hari, tetapi membuka peluang penerapan tarif setelah periode tersebut berakhir. Usulan itu mendapat penolakan dari Amerika Serikat, negara-negara Eropa, dan negara-negara Teluk Arab.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Hampir seperlima perdagangan minyak global melewati kawasan tersebut setiap hari. Akibat meningkatnya ketegangan dalam beberapa hari terakhir, arus pengiriman sempat melambat setelah dua kapal dilaporkan mengalami kerusakan. Meski demikian, mulai kembalinya kapal tanker melintasi jalur tersebut memberikan sinyal bahwa distribusi minyak dunia secara bertahap mulai kembali normal.
Di tengah meredanya ketegangan geopolitik, Kepala Ekonom Bank Sentral Eropa (ECB), Philip Lane, mengingatkan bahwa dunia belum tentu akan kembali menikmati harga energi murah seperti sebelum konflik Timur Tengah. Menurutnya, perusahaan energi dan berbagai negara kemungkinan akan meningkatkan kembali cadangan minyak strategis setelah sempat terkuras selama periode ketidakpastian.
Permintaan tambahan untuk mengisi kembali stok tersebut diperkirakan akan menjaga harga minyak tetap berada di atas level prakonflik selama beberapa tahun ke depan. Kondisi itu berpotensi mempertahankan tekanan biaya produksi dan menghambat penurunan inflasi, meskipun harga minyak telah turun dari puncaknya.
Bagi bank-bank sentral, termasuk ECB maupun Federal Reserve, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri. Penurunan harga minyak memang membantu meredakan tekanan inflasi dalam jangka pendek, tetapi apabila harga energi tetap bertahan di level yang relatif tinggi akibat permintaan restocking, ruang untuk menurunkan suku bunga dapat menjadi lebih terbatas.
Dengan demikian, perhatian investor kini tidak hanya tertuju pada perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, tetapi juga pada seberapa cepat pasokan minyak global benar-benar pulih. Selama ketidakpastian di Selat Hormuz belum sepenuhnya berakhir dan kebutuhan pengisian kembali cadangan energi masih tinggi, harga minyak diperkirakan tetap bergerak volatil meskipun risiko perang mulai mereda. (Lukman Hqeem)

