Beritakota,id, Jakarta – Harga minyak dunia kembali memasuki fase volatilitas tinggi setelah rangkaian perkembangan geopolitik di Timur Tengah memicu perubahan cepat dalam sentimen pasar. Dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, harga Brent dan West Texas Intermediate (WTI) bergerak naik-turun tajam, mencerminkan pasar yang masih berusaha menilai ulang risiko pasokan dari kawasan strategis Selat Hormuz.
Pada satu titik, Brent sempat mendekati level $79 per barel, sebelum kembali berfluktuasi seiring munculnya laporan gencatan senjata antara Israel dan Hezbollah yang sempat meredakan kekhawatiran eskalasi konflik. Namun, reli tersebut tidak bertahan lama. Pasar kembali tertekan setelah muncul laporan bahwa Iran memperketat aturan transit di Selat Hormuz, termasuk kewajiban pengajuan izin transit minimal 48 jam sebelum kapal memasuki wilayah tersebut. Kebijakan ini memperkuat persepsi bahwa risiko gangguan pasokan masih belum sepenuhnya hilang.
Di sisi lain, dinamika diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran masih berjalan dalam pola yang tidak stabil. Mediator seperti Qatar dan Pakistan melaporkan adanya kemajuan dalam pembicaraan menuju roadmap kesepakatan 60 hari, namun pada saat yang sama, pernyataan politik yang keras dan ketegangan militer di lapangan terus menciptakan ketidakpastian baru. Kondisi ini membuat pasar energi kesulitan membentuk arah harga yang konsisten.
Baca juga : Minyak Tak Lagi Takut Perang, Kini Takut China
WTI tercatat bergerak di sekitar $75–$77 per barel, sementara Brent bertahan di kisaran $79 per barel, dengan kecenderungan mingguan menunjukkan pelemahan lebih dari 8%. Penurunan ini mencerminkan proses risk premium removal, di mana pasar mulai mengurangi premi risiko geopolitik, meski secara fundamental ketidakpastian belum sepenuhnya terselesaikan.
Lembaga analis pasar menilai bahwa fase saat ini merupakan transisi dari geopolitical shock pricing menuju normalisasi bertahap. Namun, normalisasi ini bersifat tidak linear. Setiap pernyataan politik, gangguan jalur pelayaran, atau perubahan posisi militer di kawasan dapat dengan cepat mengembalikan premi risiko ke dalam harga minyak.
Selat Hormuz tetap menjadi pusat gravitasi utama dalam narasi pasar energi global. Dengan volume jutaan barel minyak yang melewati jalur tersebut setiap hari, setiap indikasi gangguan—baik aktual maupun potensial—langsung tercermin dalam pergerakan harga. Bahkan ketika arus kapal masih berlangsung, perubahan aturan transit dan pengawasan ketat sudah cukup untuk menjaga pasar dalam mode waspada.
Ke depan, arah harga minyak akan sangat bergantung pada dua variabel utama: stabilitas proses diplomasi AS–Iran serta konsistensi jalur pelayaran di Selat Hormuz. Selama kedua faktor ini belum mencapai kepastian struktural, pasar energi diperkirakan tetap berada dalam kondisi rentan terhadap lonjakan volatilitas jangka pendek.
Dengan demikian, pasar minyak saat ini tidak sedang berada dalam tren yang jelas, melainkan dalam fase ketidakpastian terkelola, di mana setiap penurunan risiko selalu diimbangi oleh potensi eskalasi baru. (Lukman Hqeem)

