Beritakota.id, BOGOR – Penutupan rangkaian Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 bukan hanya ditandai dengan dua penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Di balik capaian tersebut, Pemerintah Kabupaten Bogor berupaya mengirimkan pesan tentang arah pembangunan daerah: pelestarian budaya lokal dan penguatan kapasitas aparatur pemerintahan diposisikan sebagai dua agenda yang berjalan beriringan.

Dua rekor yang diterima pada Minggu (28/6) mencakup permainan alat musik tradisional karinding oleh 2.000 Aparatur Sipil Negara (ASN) secara bersamaan serta penyelenggaraan webinar dengan jumlah peserta ASN tingkat kabupaten terbanyak. Jika dilihat sekilas, kedua penghargaan itu mungkin hanya menjadi catatan seremonial penutup Hari Jadi Bogor. Namun, keduanya merepresentasikan dua pendekatan pembangunan yang berbeda tetapi saling melengkapi.

Di satu sisi, permainan karinding secara massal menjadi simbol bahwa pelestarian budaya tidak lagi hanya berada di ruang komunitas seni. Pemerintah daerah mencoba menghadirkan identitas budaya Sunda ke dalam lingkungan birokrasi melalui keterlibatan ribuan ASN. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat menjadi bagian dari identitas aparatur sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap warisan daerah.

Di sisi lain, rekor webinar ASN mencerminkan upaya membangun birokrasi yang lebih adaptif terhadap perubahan. Pengembangan kompetensi aparatur kini tidak lagi bergantung pada pelatihan konvensional, tetapi mulai memanfaatkan pembelajaran digital yang mampu menjangkau peserta dalam jumlah besar secara bersamaan.

Baca juga : Kadin Soroti Kenaikan Pajak Air Tanah hingga Ratusan Persen di Bogor

Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik

Meski demikian, tantangan berikutnya tidak berhenti pada pencapaian rekor. Efektivitas pelatihan ASN pada akhirnya akan diukur dari kualitas pelayanan publik yang dirasakan masyarakat, sementara pelestarian budaya akan dinilai dari keberhasilannya hidup dalam keseharian warga, bukan sekadar tampil dalam sebuah peringatan.

Bupati Bogor Rudy Susmanto mengatakan, penghargaan tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh ASN, Forkopimda, dan masyarakat Kabupaten Bogor.

“Penghargaan ini bukan hanya tentang pencapaian semata, tetapi menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dan semangat inovasi dapat berjalan seiring,” ujar Rudy.

Menurutnya, prestasi tersebut diharapkan menjadi pemicu lahirnya kolaborasi dan berbagai inovasi baru dalam penyelenggaraan pemerintahan maupun pembangunan daerah.

Penutupan HJB ke-544 akhirnya tidak hanya meninggalkan catatan berupa dua Rekor MURI. Yang lebih penting adalah bagaimana semangat menjaga budaya lokal sekaligus memperkuat kapasitas birokrasi dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat Kabupaten Bogor dalam jangka panjang. (Momo SN/Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *