Beritakota.id, Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membukukan pencapaian bersejarah dengan mencatat laba bersih tertinggi sepanjang berdirinya perseroan. Di tengah tekanan ekonomi global dan tingginya volatilitas pasar sepanjang 2025, BEI berhasil menjaga pertumbuhan pasar modal sekaligus memperkuat fondasi industri keuangan nasional.
Capaian tersebut disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BEI 2026 yang digelar secara hybrid pada Senin (29/6). Rapat dihadiri seluruh pemegang saham yang memiliki hak suara dan menyetujui seluruh agenda yang diajukan, mulai dari pengesahan laporan keuangan, penunjukan akuntan publik hingga pengangkatan jajaran direksi periode 2026–2030.
Direksi BEI mengungkapkan, sepanjang 2025 pasar modal Indonesia menghadapi tantangan berat akibat meningkatnya ketegangan perang dagang global, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga ketidakpastian geopolitik yang sempat menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Namun, koordinasi intensif antara BEI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Self-Regulatory Organization (SRO) melalui berbagai kebijakan stabilisasi pasar mampu menjaga kepercayaan investor.
Memasuki paruh kedua 2025, kondisi pasar mulai pulih. IHSG bahkan mencetak 24 kali rekor tertinggi (all time high) dengan level puncak mencapai 8.711, sementara kapitalisasi pasar menyentuh rekor baru sebesar Rp16.004 triliun.
Tidak hanya itu, aktivitas perdagangan juga menunjukkan pertumbuhan signifikan. Rata-rata nilai transaksi harian saham mencapai Rp18,1 triliun, sedangkan transaksi produk non-saham mencapai Rp7,6 triliun.
Di sektor pembiayaan, sebanyak 26 perusahaan berhasil melaksanakan Initial Public Offering (IPO) sepanjang 2025 dengan total dana yang dihimpun sekitar Rp18,1 triliun, meningkat 26 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Penghimpunan dana melalui obligasi dan sukuk juga mencapai Rp217,4 triliun, sedangkan aksi korporasi melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dan waran mencapai Rp43,7 triliun.
Laba Bersih Tembus Rekor Rp1,07 Triliun
Sejalan dengan meningkatnya aktivitas pasar, BEI membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp3,66 triliun, naik hampir 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan pendapatan jasa transaksi efek dan jasa kliring yang masing-masing meningkat lebih dari 41 persen.
Meski beban operasional juga naik, BEI tetap berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp1,07 triliun, atau meningkat 59,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut menjadi laba tertinggi sepanjang sejarah Bursa Efek Indonesia.
Total aset perseroan juga meningkat menjadi Rp14,78 triliun, sedangkan total ekuitas mencapai Rp9,45 triliun, mencerminkan kondisi fundamental keuangan yang semakin kuat.
Selain pertumbuhan transaksi, jumlah investor pasar modal Indonesia juga terus meningkat.
Hingga akhir 2025, jumlah investor tercatat mencapai 20,3 juta Single Investor Identification (SID) atau tumbuh hampir 37 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut didukung oleh lebih dari 49 ribu kegiatan edukasi pasar modal, bertambahnya jumlah Galeri Investasi menjadi 1.015 lokasi, serta meningkatnya pengguna aplikasi IDX Mobile menjadi sekitar 463 ribu pengguna.
RUPST Tetapkan Direksi Baru
Dalam agenda ketiga, RUPST juga menetapkan susunan Direksi BEI untuk masa jabatan 2026–2030.
Posisi Direktur Utama dipercayakan kepada Jeffrey Hendrik, didampingi jajaran direksi yang membidangi perdagangan, pengawasan transaksi, teknologi informasi, pengembangan, hingga keuangan dan sumber daya manusia.
Melalui keputusan tersebut, BEI menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat integritas, meningkatkan daya saing pasar modal nasional, memperluas inklusi investasi, serta mempercepat transformasi menuju bursa yang modern, transparan, dan berdaya saing global.

