Beritakota.id, Jakarta – PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), perusahaan produsen alat kesehatan yang merupakan bagian dari Grup Prodia, resmi mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (9/7/2026). Kehadiran emiten baru sektor kesehatan ini langsung mendapat respons positif dari pelaku pasar.

Pada perdagangan perdana, saham PRDL melonjak hingga menyentuh batas Auto Rejection Atas (ARA) setelah naik 35 persen atau 42 poin dari harga penawaran umum sebesar Rp120 menjadi Rp162 per saham.

Dalam aksi penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO), perseroan menerbitkan sebanyak 522,9 juta saham baru atau setara 30 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Dari aksi korporasi tersebut, PRDL berhasil menghimpun dana segar sebesar Rp62,75 miliar.

Direktur Utama PRDL, Cristina Sandjaja, mengatakan prospek industri alat kesehatan nasional masih terbuka lebar, terutama untuk memenuhi kebutuhan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang dinilai masih belum terlayani secara optimal.

“Kami melihat peluang pertumbuhan yang sangat besar di industri alat kesehatan. Dengan kualitas produk yang unggul, kapasitas produksi yang memadai, jaringan distribusi yang luas, serta tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang tinggi, kami optimistis dapat memperluas pangsa pasar sekaligus mendukung penguatan layanan kesehatan nasional,” ujar Cristina dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (9/7/2026).

Menurutnya, perseroan juga berkomitmen mendukung program pemerintah dalam meningkatkan kemandirian industri alat kesehatan melalui pengembangan produk-produk diagnostik buatan dalam negeri.

Dana IPO Difokuskan untuk Perkuat Struktur Keuangan

Sebagian besar dana hasil IPO akan dimanfaatkan untuk memperkuat fundamental keuangan perusahaan.

Sekitar Rp35,67 miliar dialokasikan untuk melunasi sebagian pokok pinjaman kepada PT Bank Central Asia Tbk. dan PT Bank Pan Indonesia Tbk.. Sementara sisa dana akan digunakan sebagai modal kerja, termasuk mendukung kebutuhan operasional serta pengembangan usaha.

Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan fleksibilitas keuangan sekaligus memperkuat ekspansi bisnis perseroan di tengah meningkatnya kebutuhan alat diagnostik medis di Indonesia.

Dari sisi kinerja, PRDL sempat membukukan laba bersih sekitar Rp35,8 miliar pada 2023. Pada 2024, laba perusahaan mengalami penurunan menjadi sekitar Rp10 miliar, sebelum kembali menunjukkan tren perbaikan dengan membukukan laba sekitar Rp17 miliar sepanjang 2025.

Perbaikan tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya permintaan terhadap produk diagnostik medis seiring pertumbuhan sektor layanan kesehatan nasional.

PRDL merupakan perusahaan yang bergerak di bidang produksi alat kesehatan, khususnya in vitro diagnostics (IVD) atau perangkat diagnostik medis yang digunakan untuk pemeriksaan sampel biologis di laboratorium.

Perseroan mengoperasikan fasilitas produksi di Kawasan Industri Jababeka III, Cikarang, Jawa Barat, yang memasok berbagai kebutuhan alat diagnostik bagi rumah sakit, laboratorium, klinik, dan fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia.

Dengan dukungan kapasitas produksi, jaringan distribusi nasional, serta produk yang memiliki tingkat kandungan dalam negeri tinggi, PRDL menargetkan dapat memperkuat posisinya sebagai salah satu produsen alat kesehatan nasional sekaligus menangkap peluang pertumbuhan industri kesehatan dalam beberapa tahun ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *