Beritakota.id, Jakarta Timur – Harga minyak mentah memasuki perdagangan Rabu (1/7) dengan kecenderungan stabil setelah mengalami tekanan tajam sepanjang kuartal II 2026. Harga kontrak minyak mentah WTI diperdagangkan di kisaran US$70 per barel, sementara Brent bertahan di atas US$73 per barel, didukung kombinasi penurunan stok minyak Amerika Serikat dan masih tingginya ketidakpastian di kawasan Timur Tengah.

Meskipun tekanan perang antara Amerika Serikat dan Iran mulai mereda, pelaku pasar masih menjadikan perkembangan di Selat Hormuz sebagai faktor utama yang menentukan arah harga minyak dalam jangka pendek. Kawasan tersebut tetap menjadi jalur strategis karena sekitar 20% perdagangan minyak dunia melewati perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.

Perkembangan terbaru menunjukkan arus kapal tanker mulai pulih setelah Amerika Serikat dan Iran menghentikan aksi saling serang beberapa waktu lalu. Namun pemulihan tersebut masih berlangsung secara bertahap. Iran tetap mempertahankan kebijakan agar kapal-kapal hanya menggunakan jalur pelayaran di sisi utara yang berdekatan dengan wilayahnya selama masa gencatan senjata 60 hari. Kebijakan tersebut membuat aktivitas pelayaran belum kembali normal meskipun ancaman perang terbuka telah berkurang.

Data pelayaran menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Hormuz kini hanya sekitar 20–25 kapal per hari, jauh di bawah puncak aktivitas yang sempat mencapai 59 kapal pada 24 Juni. Menariknya, sebagian besar kapal yang melintas saat ini merupakan kapal yang masuk menuju Teluk Persia, bukan kapal yang keluar membawa muatan minyak. Fenomena ini menunjukkan banyak perusahaan pelayaran masih memilih menunggu kondisi keamanan benar-benar stabil sebelum mengangkut kargo keluar kawasan.

Baca juga : Harga Minyak Turun ke $70 Risiko Inflasi Global Belum Hilang

Potensi Risiko Masih Ada, Menopang Harga Minyak Tetap Tinggi

Bagi pasar energi, kondisi tersebut berarti premi risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Perusahaan asuransi pelayaran masih membebankan biaya perang (war risk premium) yang relatif tinggi kepada kapal-kapal yang melintasi kawasan tersebut.

Analis memperkirakan setiap perkembangan baru dari perundingan Amerika Serikat dan Iran di Doha berpotensi memicu volatilitas harga minyak dalam waktu singkat. Selama ketidakpastian mengenai kontrol Selat Hormuz masih berlangsung, pasar diperkirakan akan tetap sensitif terhadap setiap pernyataan politik maupun perkembangan militer di kawasan tersebut.

Di sisi lain, fundamental pasokan mulai memberikan tekanan terhadap harga minyak. Iran mengklaim telah mengekspor lebih dari 40 juta barel minyak sejak Amerika Serikat mencabut blokade lautnya. Pada saat yang sama, ekspor Rusia juga meningkat ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.

Akumulasi minyak yang berada di atas kapal tanker (oil on water) kini mencapai sekitar 1,29 miliar barel, tertinggi sejak konflik Amerika Serikat-Iran kembali memanas. Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa pasokan global berpotensi tumbuh lebih cepat dibandingkan peningkatan permintaan, terutama jika jalur ekspor Timur Tengah terus kembali normal.

Persediaan Minyak AS Turun Tajam, Produksi Siap Naik

Di tengah kekhawatiran kelebihan pasokan global, pasar memperoleh sentimen positif dari Amerika Serikat. Data American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah komersial turun 6,07 juta barel pada pekan terakhir Juni. Dalam sebelas minggu terakhir, stok minyak komersial Amerika telah berkurang sekitar 59,4 juta barel, mencerminkan permintaan domestik yang masih cukup kuat.

Namun di sisi lain, produksi minyak Amerika kembali meningkat menjadi 13,82 juta barel per hari, mendekati rekor tertinggi sepanjang sejarah. Kenaikan produksi tersebut berpotensi mengimbangi penurunan persediaan apabila tren output tetap berlanjut dalam beberapa pekan mendatang.

Pasar juga mencermati perubahan kebijakan dari China. Pemerintah Beijing mulai melonggarkan pembatasan ekspor bensin dan solar yang sebelumnya diberlakukan sejak Maret lalu. Kebijakan tersebut diperkirakan akan meningkatkan suplai produk olahan minyak ke pasar Asia mulai Juli, sehingga dapat mengurangi tekanan harga bahan bakar di kawasan.

Sebaliknya, gelombang panas ekstrem yang melanda Amerika Serikat mendorong lonjakan konsumsi listrik dan meningkatkan permintaan gas alam. Harga gas Henry Hub bahkan berhasil menembus US$3,3 per MMBtu, level tertinggi sejak Februari.

Di kawasan Timur Tengah, sejumlah produsen utama mulai mempersiapkan peningkatan kapasitas produksi. Kuwait dan Irak dilaporkan telah mengembalikan produksi menuju sekitar 70–75% dari tingkat sebelum konflik, sementara ADNOC di Uni Emirat Arab melakukan perubahan skema penetapan harga minyak serta memperluas investasi gas bersama sejumlah perusahaan energi global. Langkah tersebut menunjukkan negara-negara produsen mulai bersiap menghadapi normalisasi perdagangan energi apabila situasi keamanan di Hormuz semakin membaik.

Prospek Pasar Memasuki Fase Volatilitas Baru

Memasuki kuartal III 2026, pasar minyak tampaknya memasuki fase baru. Risiko perang memang mulai mereda, namun belum sepenuhnya menghilang. Pada saat yang sama, peningkatan ekspor Iran, Rusia, dan negara-negara Teluk berpotensi menciptakan kelebihan pasokan apabila permintaan global tidak mengalami percepatan.

Bagi investor, perhatian kini tidak lagi hanya tertuju pada konflik geopolitik, tetapi juga pada kecepatan pemulihan arus ekspor melalui Selat Hormuz, perkembangan negosiasi Amerika Serikat-Iran, serta respons produksi dari negara-negara anggota OPEC+.

Selama ketiga faktor tersebut masih berubah dari hari ke hari, harga minyak diperkirakan akan tetap bergerak dalam volatilitas tinggi di kisaran US$69–73 per barel untuk WTI, dengan setiap perkembangan geopolitik berpotensi menjadi katalis pergerakan berikutnya. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *