Beritakota.id, Jakarta Selatan – Lagu tentang perselingkuhan hampir selalu hadir dengan kemarahan, penyesalan, atau keinginan untuk menyalahkan seseorang. Namun, penyanyi muda Ruth Garcia memilih jalur yang berbeda. Lewat single terbarunya, “Tak Ingin Salahkan Cinta”, ia menghadirkan kisah tentang luka yang tetap terasa, tetapi tidak lagi mencari siapa yang harus dipersalahkan.
Single yang menjadi bagian dari rangkaian EP terbaru Ruth ini melanjutkan perjalanan emosional yang telah dibangun melalui “Oh Cinta” dan “Belah Hati”. Jika lagu pertama menggambarkan manisnya jatuh cinta, sementara lagu kedua berbicara tentang mempertahankan hubungan, maka “Tak Ingin Salahkan Cinta” menjadi titik balik yang memperlihatkan sisi paling rumit dalam sebuah kisah asmara.
Alih-alih memosisikan diri sebagai korban, Ruth memilih sudut pandang yang tidak lazim. Lagu ini ditulis layaknya sebuah surat kepada perempuan lain yang juga mencintai orang yang sama.
Baca juga : DEWA 19 dan PADI Reborn Siap Guncang Kuala Lumpur
Bagi Ruth, gagasan tersebut lahir dari berbagai pengalaman yang ia dengar, kisah-kisah dalam film, hingga refleksi atas perjalanan hidupnya sendiri. Semua pengalaman itu kemudian dirangkai menjadi sebuah cerita yang berbicara tentang memaafkan, memahami, sekaligus menerima kenyataan bahwa tidak semua konflik memiliki batas yang tegas antara benar dan salah.
“Aku banyak mendengar cerita seperti ini dari orang lain, menonton film dengan kisah serupa, bahkan pernah berada di posisi itu. Semua pengalaman itu akhirnya menjadi sebuah cerita dengan sudut pandang yang jarang diangkat, yaitu memahami perempuan yang menjadi orang ketiga,” ujarnya.
Ketika Empati Menjadi Pilihan, Kesedihan Tanpa Kemarahan
Pendekatan tersebut juga memengaruhi cara Ruth membawakan lagu ini. Tidak ada ledakan emosi atau luapan amarah yang biasanya menjadi ciri lagu bertema perselingkuhan. Sebaliknya, Ruth memilih menyampaikan rasa sakit dengan suara yang lebih tenang, seolah sedang berbicara dari hati ke hati. Baginya, memahami seseorang tidak berarti rasa sakit itu hilang. Dua perasaan tersebut justru dapat hadir secara bersamaan.
“Di lagu ini aku tidak sedang marah atau menyalahkan siapa pun, tetapi bukan berarti aku tidak terluka,” kata Ruth.
Pendekatan vokal yang lebih subtil itu menjadi tantangan tersendiri selama proses rekaman. Sebelum mulai bernyanyi di Passion Vibe Compound, Jakarta, Ruth bahkan membutuhkan waktu hampir satu jam untuk menenangkan diri karena larut dalam emosi lagu yang dibawakannya.
Pop Retro yang Tetap Menjadi Identitas
Secara musikal, “Tak Ingin Salahkan Cinta” masih mempertahankan warna pop retro yang sejak awal menjadi identitas Ruth Garcia. Nuansa musik era 1990-an hingga awal 2000-an kembali menjadi inspirasi utama, menghadirkan atmosfer nostalgia yang terasa akrab bagi pendengar, sekaligus menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh lagu dalam EP yang tengah dipersiapkannya.
Lagu ini ditulis bersama Kaleb J dan Belanegara Abe, yang juga kembali dipercaya sebagai produser. Selain membangun karakter musikal, keduanya turut mengarahkan Ruth untuk lebih menghayati emosi di balik setiap lirik sehingga lagu terasa seperti sebuah percakapan yang intim, bukan sekadar pertunjukan vokal.
Di balik kisah cinta yang rumit, “Tak Ingin Salahkan Cinta” sesungguhnya berbicara tentang kedewasaan. Ruth melihat bahwa kehidupan tidak selalu menghadirkan jawaban hitam atau putih. Tidak semua orang yang melukai orang lain melakukannya dengan niat buruk, dan tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan menunjuk siapa yang paling bersalah.
Pandangan tersebut menjadi fondasi utama lagu ini. Bukan untuk membenarkan perselingkuhan, melainkan mengajak pendengar memahami bahwa ketenangan sering kali lahir ketika seseorang berhenti mencari kambing hitam dan mulai menerima kompleksitas hidup.
Melalui “Tak Ingin Salahkan Cinta”, Ruth Garcia tidak hanya memperkenalkan babak baru dalam perjalanan musikalnya. Ia juga menawarkan perspektif yang lebih dewasa tentang cinta, kehilangan, dan keberanian untuk tetap berempati, bahkan ketika hati sendiri sedang terluka.

