Beritakota.id, Jakarta Selatan — Transformasi transportasi digital tidak lagi hanya diukur dari kecepatan layanan atau kemudahan memesan kendaraan melalui aplikasi. Di tengah berkembangnya ekonomi digital, perusahaan transportasi juga mulai dihadapkan pada tantangan baru, yakni bagaimana menghadirkan layanan yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.
Semangat tersebut menjadi dasar kolaborasi antara Maxim Indonesia dan Yayasan Cheshire Indonesia yang ditandai melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) di Jakarta, Rabu (24/6). Kerja sama ini bertujuan memperluas akses mobilitas sekaligus membuka kesempatan ekonomi bagi penyandang disabilitas melalui ekosistem transportasi digital.
Program yang mulai dijalankan pada Juli 2026 itu mencakup pemberian fasilitas transportasi gratis bagi penerima manfaat Yayasan Cheshire Indonesia serta pembukaan peluang kemitraan sebagai pengemudi Maxim bagi penyandang disabilitas dengan menggunakan kendaraan yang telah dimodifikasi sesuai kebutuhan.
Baca juga : Mitra Maxim Korban Tabrak Lari Terima Santunan Rp24 Juta
Inklusi Melalui Kesempatan Kerja
Development Director Maxim Indonesia, Dirhamsyah, mengatakan kolaborasi tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mendorong kemandirian ekonomi penyandang disabilitas melalui akses terhadap pekerjaan.
“Melalui kerja sama ini, kami ingin membuka lebih banyak kesempatan bagi penyandang disabilitas agar dapat hidup mandiri dan mengembangkan potensi yang dimiliki,” ujarnya.
Sebagai bagian dari kerja sama tersebut, Maxim memberikan saldo perjalanan senilai Rp18 juta kepada Yayasan Cheshire Indonesia guna mendukung mobilitas para penerima manfaat yayasan.
Di sisi lain, penyandang disabilitas yang bergabung sebagai mitra pengemudi Maxim akan memperoleh program bebas komisi, sehingga seluruh pendapatan perjalanan diterima secara penuh. Mereka juga memperoleh perlindungan melalui kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan tanpa biaya.
Menurut Dirhamsyah, kebijakan tersebut merupakan bentuk investasi sosial perusahaan dalam menciptakan kesempatan yang lebih setara di tengah berkembangnya ekonomi digital.
Kendaraan dan Teknologi yang Lebih Aksesibel
Tidak hanya menghadirkan peluang kerja, Maxim juga memperkenalkan kendaraan yang telah dimodifikasi agar dapat digunakan oleh pengemudi penyandang disabilitas.
Penyesuaian dilakukan mulai dari modifikasi pedal gas dan rem pada kendaraan roda empat hingga perubahan posisi tempat duduk pada kendaraan roda dua.
Perusahaan juga mengembangkan sejumlah fitur aksesibilitas di dalam aplikasi, antara lain dukungan TalkBack bagi pengguna tunanetra, fitur percakapan bagi pengguna dengan gangguan pendengaran, serta notifikasi khusus kepada pengemudi apabila penumpang memerlukan bantuan tambahan.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa konsep inklusivitas tidak hanya diwujudkan melalui perekrutan mitra pengemudi, tetapi juga melalui penyesuaian teknologi dan sarana pendukung agar layanan dapat digunakan oleh lebih banyak kelompok masyarakat.
Tantangan Besar Masih Terbuka
Meski demikian, tantangan penyandang disabilitas untuk memperoleh pekerjaan masih cukup besar.
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, tingkat partisipasi angkatan kerja penyandang disabilitas baru mencapai sekitar 44 persen, masih berada di bawah rata-rata nasional sebesar 69 persen.
Indonesia juga memiliki sekitar 22,97 juta penyandang disabilitas, atau sekitar 8,5 persen dari total populasi. Tingkat kemiskinan pada kelompok ini mencapai 11,42 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional.
Sementara itu, dari sekitar 720.748 penyandang disabilitas yang bekerja, sekitar 75 persen masih berada di sektor informal dan hanya 2,8 persen yang memiliki pendidikan tinggi.
Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan hanya soal akses transportasi, melainkan juga akses terhadap kesempatan kerja yang berkelanjutan.
Kolaborasi Lintas Sektor
Ketua Yayasan Cheshire Indonesia, Barbara Janthy Nihardjo, menilai kerja sama lintas sektor menjadi kunci dalam memperluas kesempatan bagi penyandang disabilitas.
“Kehadiran pemerintah, legislatif, dunia usaha, organisasi, dan masyarakat menjadi bentuk dukungan terhadap upaya membangun transportasi yang lebih inklusif dan berkelanjutan di Indonesia,” ujarnya.
Barbara berharap sinergi tersebut terus diperkuat agar mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan sektor transportasi sekaligus meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas.
“Kerja sama ini sangat berarti karena membuka akses yang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk bermobilitas, bekerja, dan hidup mandiri.”
Ia juga menyampaikan apresiasi atas seluruh bentuk kolaborasi yang telah terjalin dan berharap manfaat program dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Lebih dari Sekadar Seremoni
Dalam beberapa tahun terakhir, isu inklusivitas mulai menjadi bagian dari strategi keberlanjutan berbagai perusahaan transportasi digital. Sejumlah platform telah memperkenalkan berbagai program untuk meningkatkan akses layanan maupun peluang kerja bagi penyandang disabilitas.
Kolaborasi antara Maxim Indonesia dan Yayasan Cheshire Indonesia menambah daftar inisiatif tersebut. Namun keberhasilan program seperti ini pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh penandatanganan nota kesepahaman, melainkan oleh implementasi yang konsisten dan dampak nyata bagi penerima manfaat.
Berita Kota telah meminta informasi mengenai jumlah mitra pengemudi penyandang disabilitas yang saat ini telah bergabung di platform Maxim Indonesia. Perusahaan menjelaskan bahwa data tersebut bersifat dinamis karena jumlah mitra terus bertambah setiap hari, sehingga belum dapat menyampaikan angka spesifik.
Ke depan, transparansi mengenai perkembangan program, jumlah penerima manfaat, serta partisipasi mitra penyandang disabilitas akan menjadi indikator penting untuk menilai sejauh mana inklusivitas benar-benar menjadi bagian dari transformasi transportasi digital di Indonesia.

