Beritakota.id, TOKYO – Yen melemah, terendah dalam hampir dua tahun. Ini membuat pemerintah Jepang kembali mengeluarkan peringatan keras kepada pasar valuta asing . Pelemahan terjadi di tengah menguatnya dolar Amerika Serikat menyusul perubahan sikap Federal Reserve .
Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara menegaskan pemerintah siap mengambil langkah yang diperlukan untuk merespons pergerakan mata uang apabila dibutuhkan.
“Kami siap merespons pergerakan nilai tukar secara tepat kapan pun diperlukan,” ujar Kihara dalam konferensi pers rutin pada Kamis.
Pernyataan tersebut muncul ketika yen kembali mendekati level yang sebelumnya memicu intervensi besar-besaran pemerintah Jepang di pasar valuta asing. Pada perdagangan Rabu, USD/JPY menyentuh 160,795 yen per dolar. Ini merupakan level tertinggi dalam hampir 2 tahun dan praktis menghapus seluruh penguatan yen yang sempat terjadi setelah intervensi Tokyo pada akhir April lalu.
Pelemahan yen sebenarnya memberikan keuntungan bagi perusahaan-perusahaan eksportir Jepang karena meningkatkan daya saing produk mereka di pasar internasional. Disisi lain, ini memperbesar biaya impor energi, bahan baku, dan kebutuhan konsumsi lainnya yang masih sangat bergantung pada impor.
Baca juga : Ketika Jepang Kembali ke 1995: Suku Bunga Naik, Yen Tetap Santai
Menurut Kihara, pemerintah harus mempertimbangkan secara menyeluruh dampak positif maupun negatif dari pergerakan mata uang tersebut terhadap dunia usaha dan rumah tangga Jepang.
Intervensi Triliunan Yen Belum Mampu Membalikkan Tren
Tekanan terhadap yen semakin kuat setelah pasar mulai memperkirakan bahwa langkah berikutnya Federal Reserve bukanlah pemangkasan suku bunga, melainkan kenaikan suku bunga tambahan pada tahun ini.
Perbedaan arah kebijakan moneter antara Amerika Serikat dan Jepang menjadi faktor utama yang terus menekan mata uang Negeri Sakura. Meskipun Bank of Japan (BOJ) baru saja menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun terakhir, tingkat suku bunga Jepang masih berada di kisaran 1 persen, jauh di bawah suku bunga Federal Reserve yang berada pada rentang 3,50 persen hingga 3,75 persen.
Kesenjangan tersebut membuat aset berdenominasi dolar AS tetap lebih menarik bagi investor global dibandingkan aset Jepang.
Data pemerintah menunjukkan otoritas Jepang telah menggelontorkan dana sekitar 11,7 triliun yen atau setara hampir US$73 miliar untuk melakukan intervensi pasar valuta asing pada periode akhir April hingga awal Mei. Nilai tersebut menjadi intervensi terbesar dalam sejarah Jepang.
Namun efektivitas langkah tersebut ternyata hanya bersifat sementara. Dalam beberapa pekan terakhir yen kembali melemah dan menghapus seluruh keuntungan yang diperoleh pasca-intervensi.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan baru mengenai sejauh mana pemerintah Jepang bersedia terus menghabiskan cadangan devisa untuk mempertahankan mata uangnya di tengah tekanan fundamental yang masih sangat kuat.
The Fed dan Harga Energi Jadi Penentu Arah Berikutnya
Perubahan besar dalam ekspektasi pasar terjadi setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada pertemuan terbaru, namun secara bersamaan memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga masih mungkin dilakukan karena tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda.
Bagi Jepang, perkembangan tersebut menjadi tantangan tambahan. Yen yang lemah meningkatkan biaya impor, sementara lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah sebelumnya telah memperbesar tekanan inflasi domestik.
Mantan kepala ekonom Bank of Japan, Seisaku Kameda, menilai perubahan terpenting dalam kebijakan BOJ pekan ini bukan sekadar kenaikan suku bunga, melainkan pengakuan bahwa bank sentral mulai khawatir tertinggal dalam menghadapi tekanan inflasi.
Menurut Kameda, apabila situasi Timur Tengah terus membaik dan harga minyak melanjutkan penurunan, urgensi kenaikan suku bunga tambahan mungkin berkurang. Namun ia tetap memperkirakan BOJ masih berpeluang menaikkan suku bunga sekali lagi pada Oktober atau Desember mendatang.
Meski demikian, pasar belum sepenuhnya yakin langkah tersebut akan cukup untuk mengubah tren pelemahan yen.
Data posisi spekulatif menunjukkan investor global saat ini memegang posisi jual terhadap yen pada level tertinggi sejak Juli 2024. Hal itu mencerminkan keyakinan pasar bahwa pelemahan mata uang Jepang masih belum berakhir.
Pasar Menunggu Langkah Berikutnya dari Tokyo
Strategis suku bunga senior SMBC Nikko Securities, Ataru Okumura, menilai pelemahan yen sejauh ini terutama disebabkan oleh semakin lebarnya perbedaan kebijakan moneter Jepang dengan negara-negara maju lainnya, khususnya Amerika Serikat.
Menurutnya, keberadaan ancaman intervensi dari pemerintah Jepang kemungkinan akan membatasi kenaikan pasangan dolar-yen jauh di atas level 160. Namun kondisi saat ini juga tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Karena itu, pasar mulai memperkirakan Bank of Japan pada akhirnya akan dipaksa menaikkan suku bunga lebih cepat dari yang sebelumnya diperkirakan.
Bagi investor global, situasi ini menciptakan pertarungan menarik antara dua kekuatan besar. Di satu sisi terdapat Federal Reserve yang semakin hawkish dan menopang penguatan dolar AS. Di sisi lain, Jepang berupaya mempertahankan stabilitas mata uangnya melalui kombinasi intervensi pasar dan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Selama kesenjangan suku bunga kedua negara masih lebar, tekanan terhadap yen tampaknya akan terus berlanjut. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Tokyo akan kembali turun tangan, melainkan kapan intervensi berikutnya akan dilakukan.(Lukman Hqeem)

