Beritakota.id, Banyuwangi – Ketika dunia pariwisata global menyoroti kembali peran desa dalam pembangunan berkelanjutan, nama Desa Kemiren, Banyuwangi, muncul di antara deretan penerima penghargaan Upgrade Programme of the Best Tourism Villages 2025 oleh UN Tourism. Pengakuan ini bukan sekadar sertifikat internasional, melainkan refleksi dari perjalanan panjang masyarakat desa yang menanam nilai budaya sebagai akar pembangunan.

UN Tourism, sebelumnya dikenal sebagai World Tourism Organization, WTO – mengggelar kegiatan tahunan Best Tourism Villages. Sebuah inisiatif yang dijalankan badan PBB ini untuk mengidentifikasi dan mendukung desa-wisata di pedesaan yang memiliki potensi budaya dan/atau alam yang signifikan, serta ingin dijadikan bagian dari strategi pembangunan pariwisata berkelanjutan.

Ada tiga komponen inti dari inisiatif ini, pertama adalah “Best Tourism Villages” sebagai penghargaan penuh untuk desa-wisata yang sudah memenuhi kriteria. Kedua, Upgrade Programme yakni pengakuan untuk desa-wisata yang belum sepenuhnya memenuhi semua kriteria, tetapi menunjukkan potensi tinggi — mereka mendapatkan pendampingan, mentoring, dan kesempatan “fast-track” untuk naik ke kategori pengakuan penuh. Ketiga adalah Best Tourism Villages Network sebagai jaringan global bagi desa-terpilih (baik yang sudah diberi pengakuan maupun yang dalam Upgrade Programme) untuk berbagi pengalaman, praktik baik, dan dukungan.

Sejak tahun 2021, Kementrian Pariwisata Indonesia tidak absen untuk mengirimkan sejumlah Desa Wisata untuk dikurasi. Desa Pemuteran, Buleleng Bali meraih penghargaan sebagai Best Tourism Villages 2025. Sementara Desa Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur meraih Upgrade Programme dalam malam penghargaan yang dilakukan pada Jumat (17/10/2025) di Huzhou, Zhejiang, Cina

Bagi Taufik, Kepala Dinas Pariwisata Banyuwangi, penghargaan ini menjadi bukti nyata bahwa upaya kolaboratif antara masyarakat, pemerintah, dan akademisi telah membuahkan hasil.

“Kami sangat bangga dan bersyukur. Salah satu desa wisata di Banyuwangi kini diakui di tingkat internasional. Penghargaan ini didapat setelah melalui tahapan-tahapan panjang: mulai dari lomba tingkat nasional, kemudian Asia, dan akhirnya tingkat internasional. Ini hasil kerja sama, sinergi, dan kolaborasi dari semua pihak—mulai dari pemerintah desa, Pokdarwis, masyarakat, hingga akademisi,” ujarnya dalam wawancara bersama Berita Kota.

Baca juga : Hari Pariwisata Dunia, Momentum Berbenah dan Berinovasi

Bagi Mohammad Arifin, Kepala Desa Kemiren, penghargaan dari UN Tourism menjadi momentum refleksi dan pembenahan.

“Otomatis pemerintah bersama masyarakat akan terus berbenah, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan kualitas sarana pariwisata yang ada,” ujarnya.

Budaya Osing, Fondasi yang Tak Tergantikan

Desa Kemiren memang bukan destinasi yang menawarkan kemewahan, melainkan keaslian budaya Osing, suku asli Banyuwangi yang masih hidup di tengah modernitas. Rumah-rumah kayu dengan bentuk khas, bahasa Osing yang tetap digunakan, hingga upacara adat seperti Barong Ider Bumi dan Tumpeng Sewu, menjadi simbol keteguhan masyarakat menjaga warisan leluhur.

Bagi UN Tourism, potensi seperti ini adalah inti dari konsep rural sustainability — pariwisata yang tumbuh dari budaya lokal tanpa kehilangan jati diri. Tak heran jika Kemiren dianggap memenuhi salah satu kriteria terpenting yakni Cultural & Natural Resources, serta Promotion & Conservation of Cultural Heritage.

Taufik menegaskan, kekuatan Kemiren terletak pada otentisitas budaya dan kesadaran masyarakat akan nilainya.

“Masyarakat Kemiren masih melestarikan adat dan budaya secara turun-temurun. Ini daya tarik yang luar biasa, karena tidak dibuat-buat. Kita hanya memfasilitasi agar budaya itu bisa menjadi kekuatan ekonomi,” jelasnya.

Hal ini dibenarkan oleh Arifin yang menyebutkan, keterlibatan generasi muda menjadi kekuatan baru dalam transformasi desa.

“Kami sangat berterima kasih kepada generasi muda, anak-anak milenial Kemiren yang aktif berkolaborasi. Mereka membantu promosi, dokumentasi, dan ikut terlibat dalam event BTV ini. Pemerintah desa sangat bangga,” katanya.

Sinergi Komunitas dan Tata Kelola

Kunci lain dari keberhasilan Desa Kemiren adalah pariwisata berbasis komunitas. Kelompok sadar wisata (Pokdarwis) menjadi motor penggerak pengelolaan homestay, kuliner tradisional, hingga paket wisata budaya. Semua dikelola secara gotong royong dengan sistem bagi hasil yang adil, menjadikan ekonomi desa berputar di tangan warga sendiri.

Menurut Taufik, sejumlah hal dilakukan oleh pemerintah daerah dalam mendukung pariwisata di Desa Kemiren ini. Salah satunya dengan menggelar Banyuwangi Festival, di mana Desa Kemiren memiliki agenda tetap tahunan sebagai pesertanya. Festival ini menjadi salah satu cara untuk terus mengangkat daya tarik Kemiren dan menarik wisatawan untuk berkunjung.

“Event seperti Banyuwangi Festival juga memberi ruang bagi Desa Kemiren untuk tampil. Masyarakat tidak hanya jadi penonton, tapi ikut menjadi pelaku. Ini salah satu cara kami mengembangkan potensi dan menjaga agar wisata tetap berbasis budaya,” tambah Taufik.

Bagi UN Tourism, struktur tata kelola seperti ini menunjukkan kesesuaian dengan kriteria Social & Economic Sustainability serta Governance & Prioritisation of Tourism — dua aspek penting dalam penilaian Best Tourism Villages.

Taufik Rohman, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Banyuwangi. (dok. pribadi)

Jalur Strategis dan Daya Tarik Alam

Secara geografis, Desa Kemiren juga memiliki posisi yang strategis. Ia berada di jalur wisata menuju Kawah Ijen, destinasi andalan Banyuwangi yang dikenal dengan fenomena api birunya. Bagi wisatawan, Kemiren bukan hanya tempat singgah, tapi pengalaman hidup: tidur di rumah tradisional, belajar membuat kopi Osing, atau sekadar mendengarkan musik kentongan di sore hari.

“Banyak wisatawan yang mampir sebelum atau setelah ke Ijen. Bahkan beberapa desa wisata lain dari Indonesia datang untuk studi banding ke Kemiren,” ujar Taufik.

Konektivitas ini menjadi nilai tambah besar dalam kriteria Tourism Value Chain Integration dan Infrastructure & Connectivity versi UN Tourism.

Sementara menurut Arifin, arah pengembangan berikutnya adalah memperkuat potensi alam dan lingkungan desa.

“Ke depan, selain kearifan lokal, kami juga akan mengangkat sisi lingkungan. Sawah-sawah yang luas bisa dijadikan destinasi wisata edukatif, untuk mengenalkan pertanian tradisional dan keindahan alam Kemiren,” jelasnya.

Ia menilai, dampak sosial dan ekonomi dari pariwisata sudah terasa nyata.

“Masuknya Kemiren dalam program BTV meningkatkan kesejahteraan warga. Pasar kuliner semakin ramai, homestay berkembang, dan sanggar seni banyak memiliki paket wisata edukatif—mulai dari belajar menari sampai membatik,” tutur Arifin.

Menurutnya, “ Bagi warga Kemiren, dampak sosial ekonomi menjadi desa wisata ini sangat terasa, mendapatkan penghargaan ini tentu akan menambah kepercayaan diri masyarakat dalam mengembangkan sektor pariwisata lokal. Termasuk membangun obyek pendukungnya”,

“Pasar kuliner dan home stay misalnya, ini akan menggerakkan perekonomian masyarakat. Bahkan kini telah muncul sanggar-sanggar seni yang memiliki paket wisata, seperti belajar menarik dan membatik”, jelasnya.

Meski belum masuk kategori “Best Tourism Village” penuh, status Upgrade Programme justru menjadi peluang emas. Melalui program ini, UN Tourism memberikan mentoring, asesmen teknis, dan pendampingan agar desa dapat memperbaiki aspek-aspek yang masih lemah — mulai dari digitalisasi promosi, manajemen limbah, hingga peningkatan infrastruktur pariwisata ramah lingkungan.

Desa yang berada di program ini memiliki waktu sekitar tiga tahun untuk memenuhi seluruh standar internasional sebelum kembali diajukan untuk pengakuan penuh.

Taufik optimistis, Kemiren siap naik kelas.

“Kami akan terus meng-upgrade diri sesuai rekomendasi UN Tourism. Tantangan ke depan tentu semakin besar, tapi dengan kolaborasi masyarakat dan dukungan pemerintah, kami yakin bisa memenuhi ekspektasi global,” katanya.

Pengakuan PBB Sebagai Simbol dari Sebuah Upaya Perubahan

Pengakuan dari UN Tourism memberi makna lebih dari sekadar prestise. Ia menunjukkan bahwa desa bisa menjadi pusat inovasi pariwisata berkelanjutan, bukan sekadar objek wisata. Kemiren menjadi wajah baru pariwisata Indonesia yang berpihak pada masyarakat, mengakar pada budaya, dan menatap dunia dengan kepala tegak.

Seperti diungkapkan Taufik menutup wawancara,

“Penghargaan ini bukan akhir, tapi awal. Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, dampaknya akan langsung dirasakan masyarakat: homestay ramai, kuliner laku, kesejahteraan meningkat. Semua aktivitas itu memberi multiplier effect terhadap ekonomi warga. Jadi, penghargaan ini bukan hanya soal prestasi, tapi juga tentang peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pariwisata berbasis budaya. Dari sini, kita belajar bahwa menjaga budaya adalah cara terbaik untuk maju.”

Desa Kemiren mungkin kecil di peta dunia, tapi besar dalam semangatnya menjaga identitas di tengah arus global. Dari rumah-rumah Osing hingga kafe sederhana di pinggir sawah, semuanya bercerita tentang satu hal: bahwa kemajuan tidak selalu datang dari perubahan, kadang justru dari keberanian mempertahankan yang asli. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *