Beritakota.id, Cilacap – Pada sebuah pagi yang teduh di bulan November, ketika angin pesisir membawa aroma garam dan harapan baru, Blibli Tiket Action menegaskan langkahnya: 16.000 bibit mangrove disiapkan untuk mengembalikan denyut kehidupan di kawasan pesisir Indonesia. Momentum Hari Menanam Pohon Indonesia menjadi panggung yang tepat bagi perusahaan untuk memperlihatkan wujud paling konkret dari komitmen keberlanjutannya—sebuah komitmen yang tak hanya berwujud kampanye, tetapi gerak nyata bersama pelanggan, komunitas, mitra bisnis, hingga pemerintah.
Di balik angka besar itu, terdapat cerita gotong royong yang tak kalah kuat. 10.500 bibit mangrove terkumpul dari gerakan Langkah Membumi Ecoground—ruang kolaborasi yang tiap tahun menjadi penghubung berbagai lapisan masyarakat. Sementara 5.500 bibit lainnya hadir dari kontribusi pelanggan melalui program Tukar Tambah, Misi Tanam Pohon, hingga take back packaging yang rutin dijalankan sepanjang tahun. Setiap bibit adalah simbol kolaborasi kecil yang ketika dipersatukan, menjelma kekuatan besar untuk bumi.
Gelaran Langkah Membumi Ecoground 2025 yang memasuki tahun keempat berlangsung selama dua hari di Taman Kota PERURI, Jakarta Selatan. Sebuah perayaan hidup yang mempertemukan komunitas lari, pesepeda, mitra bisnis, anak muda, dan keluarga yang datang dengan semangat yang sama: memberikan kembali kepada bumi. Dari konversi tiket, community run, community cycling, hingga antusiasme Fresh Track dalam rangka ulang tahun Ranch Market—semuanya merangkai kontribusi konkret untuk menghadirkan 10.500 mangrove yang siap menancap akar di tepi laut.
Baca juga : PLN Tanam 5.000 Mangrove dalam Memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia 2025
Lisa Widodo, COO dan Co-Founder Blibli, menyebut capaian ini sebagai “buah nyata dari gotong royong,” sebuah gambaran tentang bagaimana tindakan sederhana mampu memberi dampak ekologis yang luas. Dan dampak itu kini mengalir menuju Segara Anakan, Cilacap, tempat fase pertama penanaman dilakukan bersama Jejakin. Kawasan ini telah lama mengalami tekanan ekologis, membuat nelayan setempat kehilangan sebagian sumber penghidupan. Di sanalah mangrove kembali ditanam, tak sekadar untuk menyerap karbon atau menahan abrasi, tetapi untuk mengembalikan keberlimpahan ikan, udang, dan kepiting—denyut ekonomi sebuah komunitas pesisir.
Tahun ini, Langkah Membumi Ecoground mengangkat tema “CollaborAction for The Earth”—pesan yang menjelaskan bahwa keberlanjutan hanya dapat dicapai ketika banyak tangan terlibat. Program ini berada di bawah naungan Blibli Tiket Action, payung ESG ekosistem Blibli Tiket yang menaungi Blibli, tiket.com, Ranch Market, hingga Dekoruma. Fokusnya terang: pengelolaan sampah, circularity, dan udara bersih. Dan untuk memastikan dampaknya terukur, evaluasi dilakukan oleh Life Cycle Indonesia dengan acuan ISO 14040/44, mencatat dampak lingkungan serta aspek sosial festival tersebut.
Dalam festival dua hari itu, ribuan pengunjung bergerak, berdiskusi, dan bereksperimen. Booth keberlanjutan menghadirkan inovasi eco-packaging, fasilitas daur ulang, hingga edukasi jejak karbon yang dikemas interaktif. Ada pula program fashion waste take-back yang mengubah pakaian bekas dan seragam karyawan menjadi material dekoratif—sebuah bukti bahwa circularity bukan konsep abstrak, tetapi praktik yang dapat dihadirkan dalam keseharian.
Menariknya, survei independen menunjukkan 50,26% peserta terdorong mengubah kebiasaan pribadi setelah mengikuti rangkaian acara. Sebuah angka yang menggambarkan bahwa edukasi lingkungan yang menyentuh sisi emosional masyarakat jauh lebih efektif daripada sekadar imbauan formal.
Tahun ini, lebih dari 40 sesi workshop digelar. Dari wellness, olahraga, pengolahan material ramah lingkungan, hingga praktik circularity, semuanya dirancang untuk generasi muda yang haus ruang belajar baru. Hadir pula prototype kinetic floor, teknologi yang mengubah pijakan langkah menjadi energi—dipakai selama 210 menit dalam sesi Eco Motion dan konser. Sebuah pengalaman yang tidak hanya menghibur, tetapi menyadarkan bahwa energi alternatif bisa datang dari gerakan tubuh manusia.
Gelombang semangat ini meluas ke kampus melalui Langkah Membumi Goes to University yang menyentuh lebih dari 800 mahasiswa di UMN, President University, dan Universitas Indonesia. Diskusi-diskusi dengan changemakers seperti Cinta Laura dan para pakar keberlanjutan menyalakan kesadaran baru di kalangan muda bahwa masa depan bumi tidak bisa menunggu.
Kesuksesan program ini lahir dari kolaborasi lintas sektor: lembaga lingkungan, merek teknologi, brand gaya hidup, institusi keuangan, hingga rumah sakit dan media. Mereka hadir bukan sekadar sebagai sponsor, tetapi sebagai bagian dari gerakan yang percaya bahwa keberlanjutan adalah tanggung jawab bersama.
“Terima kasih kepada seluruh pihak yang melangkah bersama,” tutur Lisa mengakhiri festival. Taman Kota PERURI hari itu menjadi bukti bahwa ketika berbagai sektor bersatu, ruang hijau dapat tumbuh di tengah hiruk pikuk kota—hidup, bergerak, dan memberi harapan. Dengan semangat CollaborAction for the Earth, perjalanan ini masih panjang, namun langkahnya kini lebih mantap: melangkah membumi demi masa depan yang lebih hijau. (Lukman Hqeem)

