Beritakota.id, Jakarta — Di tengah angka pencari kerja yang terus bertambah dan kebutuhan industri yang semakin kompleks, tantangan ketenagakerjaan Indonesia hari ini tidak lagi semata soal ketersediaan lapangan kerja. Persoalan yang kian mengemuka justru terletak pada kesiapan sumber daya manusia itu sendiri—terutama pada aspek soft skills yang sering kali luput dari perhatian sistem pendidikan dan pelatihan konvensional.
Wadhwani Foundation Indonesia melihat kesenjangan ini sebagai masalah struktural yang mendesak. Di banyak sektor, dunia usaha menghadapi paradoks: lowongan kerja tersedia, namun talenta yang benar-benar siap kerja masih terbatas. Kemampuan berkomunikasi, bekerja dalam tim, memecahkan masalah, hingga mengelola produktivitas menjadi penentu utama, tetapi belum terbangun secara sistematis.
Berangkat dari realitas tersebut, Wadhwani Foundation Indonesia dan Perhimpunan Manajemen Sumberdaya Manusia (PMSM) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) sebagai bentuk kolaborasi strategis untuk memperkuat pengembangan soft skills talenta Indonesia. Kerja sama ini menyatukan dua dunia yang kerap berjalan terpisah: jejaring HR Leaders lintas industri dan solusi pembelajaran berbasis teknologi.
Kolaborasi ini bertumpu pada platform AI-based JobReady, sebuah sarana pembelajaran gratis yang dirancang untuk melengkapi kompetensi teknis dengan keterampilan non-teknis yang relevan dengan kebutuhan kerja nyata. Platform ini tidak hanya membekali peserta dengan modul pembelajaran, tetapi juga membuka peluang kolaborasi langsung dengan HR sebagai hiring partners bagi talenta bersertifikat.
Vice President WSN & Country Director Wadhwani Foundation Indonesia, Herdian Mohammad, menegaskan bahwa kesenjangan soft skills merupakan salah satu hambatan terbesar dalam meningkatkan daya saing tenaga kerja nasional. “Riset menunjukkan bahwa hingga 85 persen kesuksesan seseorang di dunia kerja ditentukan oleh soft skills,” ujarnya, Rabu (17/12). Namun ironisnya, sebagian besar pelatihan kerja masih menitikberatkan aspek teknis semata. “Melalui kolaborasi ini, kami ingin memastikan persiapan talenta benar-benar selaras dengan kebutuhan industri.”
Komitmen Wadhwani Foundation tidak berhenti pada program jangka pendek. Organisasi ini menargetkan tiga juta penempatan kerja hingga 2030, sebuah ambisi besar yang ditempuh melalui kemitraan dengan dunia usaha, institusi pendidikan, dan berbagai pemangku kepentingan. Pendekatan ini menempatkan pengembangan SDM sebagai investasi sosial jangka panjang, bukan sekadar program pelatihan.
Jejaring Wadhwani Skilling Network (WSN), yang telah bekerja sama dengan SMK dan universitas di berbagai wilayah Indonesia, dinilai sejalan dengan misi PMSM. Bagi PMSM, kemitraan ini memperkuat peran strategis HR sebagai penghubung antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri yang terus berubah.
Cornelius Pantow, Head of Membership and Strategic Partnership PMSM, menilai kolaborasi lintas sektor sebagai prasyarat mutlak menuju Indonesia 2030. “Tantangan ketenagakerjaan tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak,” ujarnya. “Kolaborasi HR leaders, teknologi pembelajaran, dan ekosistem industri adalah langkah konkret untuk mempercepat kesiapan kerja tenaga kerja Indonesia.”
Penandatanganan MoU ini berlangsung dalam rangkaian HR Leaders & Media Breakfast Dialogue, sebuah forum yang mempertemukan HR Leaders, media, dan pemangku kepentingan untuk membahas tantangan riil dunia kerja. Selain diskusi dan talkshow, peserta juga menyaksikan demo langsung platform JobReady—sebuah gambaran bagaimana kecerdasan buatan mulai memainkan peran dalam pengembangan soft skills.
Diskusi diperdalam melalui Roundtable Discussion yang difasilitasi PMSM, menjadi ruang dialog terbuka antara HR Leaders dan media. Di forum ini, tantangan di lapangan diurai secara jujur: mulai dari kesenjangan ekspektasi industri hingga keterbatasan kurikulum pendidikan. Dari dialog tersebut, muncul gagasan kolaboratif yang diharapkan dapat ditindaklanjuti secara berkelanjutan.
Yanuar Kurniawan, People Development & Learning Director L’Oréal sekaligus perwakilan Learning & Development PMSM Indonesia, menekankan bahwa HR Leaders memegang peran strategis dalam perubahan ini. “Talenta tidak cukup hanya pintar secara teknis. Mereka harus siap berkontribusi sejak hari pertama,” katanya. Kolaborasi ini, menurutnya, memungkinkan perusahaan terlibat lebih awal dalam membentuk talenta yang benar-benar job-ready.
Dampak program ini juga tercermin pada pengalaman peserta. Stevani Julyanti, siswa SMK di Jakarta dan penerima manfaat Program JobReady, mengaku mendapatkan kepercayaan diri baru. “Saya belajar cara bicara, berpakaian, dan berinteraksi secara profesional. Itu sangat membantu saya mempersiapkan diri masuk dunia kerja,” ujarnya.
Secara teknis, Program JobReady dirancang komprehensif dan aplikatif: 79 jam pembelajaran, 75 micro-modul, 11 penilaian, serta pendekatan hybrid dan flipped classroom. Peserta didukung oleh Wadhwani GenieAI, copilot berbasis AI yang membantu simulasi wawancara, merangkum materi, dan memberikan umpan balik personal secara cepat. Seluruh pelatihan, sertifikasi, dan akses platform disediakan sepenuhnya gratis.
Ke depan, Wadhwani Foundation dan PMSM berkomitmen memperluas kolaborasi dengan perusahaan, SMK/SMA, universitas, serta penyedia pelatihan. Tujuannya jelas: mengintegrasikan pengembangan soft skills ke dalam proses rekrutmen dan pengembangan talenta secara berkelanjutan. Di tengah perubahan dunia kerja yang kian cepat, kolaborasi ini menjadi salah satu upaya menjembatani jurang antara pendidikan dan industri—menuju generasi Indonesia yang benar-benar siap kerja pada 2030. (Herman Effendi / Lukman Hqeem)

