Beritakota.id, Jakarta – Akhir tahun 2025 diwarnai rentetan bencana alam yang menambah rasa pesimisme di tengah masyarakat Indonesia yang telah berjuang menghadapi tekanan ekonomi dan politik sepanjang tahun. Namun, di balik bayang-bayang keputusasaan, jiwa optimisme rakyat Indonesia ternyata masih bersemangat.

Sebuah survei yang dilakukan oleh Good News From Indonesia (GNFI) pada tahun 2025 ini menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia tetap menyimpan rasa optimisme. CEO GNFI, Wahyu Aji, dalam sebuah diskusi mengungkapkan bahwa survei menunjukkan optimisme terhadap perbaikan ekonomi, dukungan untuk Timnas sepak bola, hingga harapan medali emas SEA Games, meskipun hasil aktualnya terkadang berbeda.

“Optimis itu bukan rasa optimis tapi lahir dari orang-orang yang mau mengatasi masalah. Berpikir keras bagaimana mengatasi pengangguran,” jelas Aji, menekankan bahwa optimisme ini lahir dari keinginan kuat untuk bangkit dari kesulitan.

Menyikapi kondisi ini, GM Marketing Communication Dompet Dhuafa, Suci Nuzleni Qadarsih, menekankan pentingnya komunikasi yang tidak hanya tepat dan bertanggung jawab, tetapi juga penuh empati, terutama saat bencana.

Pakar Komunikasi Bencana, Muhammad Hidayat, menambahkan bahwa komunikasi bencana seharusnya berjalan di tiga tahapan: sebelum, saat, dan pasca bencana. Ia menyoroti kecenderungan stakeholder hanya aktif saat bencana terjadi, padahal komunikasi proaktif sebelum bencana sangat krusial untuk mencegah kepanikan. Hidayat juga mendesak pemerintah untuk lebih jujur dalam menghadapi krisis dan tidak memberikan harapan palsu, serta pentingnya kehadiran juru bicara yang terverifikasi untuk menjaga konsistensi informasi.

Ketua Disaster Crisis Center Dompet Dhuafa, Udhi Tri Kurniawan, mengkritik pemerintah yang dinilainya lebih banyak beroposisi dengan realita di lapangan daripada lawan politik. Pernyataan pejabat yang tidak sesuai dengan kondisi nyata, seperti klaim listrik sudah menyala di daerah terdampak atau penanganan bencana yang dinilai memuaskan dunia, justru menimbulkan kemarahan publik.

Lambatnya respons pemerintah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat memunculkan ekspresi kekecewaan mendalam, termasuk simbol bendera putih sebagai bentuk advokasi. Sementara itu, jurnalis senior Kompas, Ahmad Arif, menyoroti tantangan hoaks yang tidak hanya datang dari masyarakat, tetapi juga dari pemerintah, menjadi masalah serius yang perlu dikawal oleh media massa.

Media dituntut tidak hanya mengejar traffic dari berita bencana, tetapi juga menjalankan fungsi pengawas (watchdog) untuk mengingatkan pentingnya mitigasi dan penanganan pasca bencana yang seringkali terlupakan setelah fase darurat usai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *