Beritakota.id, Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menargetkan pembangunan hunian sementara (huntara) bagi korban banjir di Provinsi Aceh dapat rampung pada awal Februari 2026, tepat sebelum bulan Ramadan. Langkah ini diambil untuk memberikan tempat tinggal layak bagi ribuan pengungsi yang terdampak bencana banjir di wilayah tersebut.

Tidak hanya huntara, BNPB juga merencanakan pembangunan hunian tetap di sejumlah kabupaten di Aceh, termasuk Aceh Utara, Aceh Tengah, Bener Meriah, Pidie Jaya, Gayo Lues, dan Pidie. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan (Kapusdatin) BNPB, Abdul Muhari, menyatakan bahwa proses pemetaan lokasi pembangunan huntara dan hunian tetap telah dilakukan bersama pemerintah daerah dan institusi pendidikan setempat. Tujuannya adalah untuk memastikan seluruh pembangunan berada di kawasan yang aman dari potensi bencana di masa mendatang.

“Prinsip utamanya adalah kita membangun hunian, baik itu sementara maupun tetap, di kawasan yang bukan kawasan bencana,” tegas Abdul Muhari dalam konferensi persnya pada Selasa (23/12/2025). Ia juga menginformasikan bahwa di Sumatera Barat, pembangunan huntara di Kabupaten Agam dan Tanah Datar telah memasuki tahap pengecoran dan pemasangan tiang baja ringan, sementara di Kota Padang dan Padang Pariaman juga terus dikebut.

Aceh tercatat sebagai provinsi dengan jumlah pengungsi terbanyak pascabanjir yang melanda wilayah Sumatera. Berdasarkan data BNPB per 18 Desember 2025, Kabupaten Pidie Jaya menjadi wilayah dengan pengungsi terbanyak mencapai 29.047 jiwa, diikuti oleh Aceh Tamiang (25.473 jiwa) dan Bireuen (17.898 jiwa).

Sembari menunggu pembangunan hunian selesai, pemerintah telah mendirikan pusat pengungsian terpadu yang dilengkapi dengan fasilitas kesehatan, layanan psikososial, dan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *