Beritakota.id, Jakarta -Tidak semua kekerasan terdengar keras. Sebagian justru hidup rapi di balik rumah besar, senyum sopan, dan rutinitas domestik yang tampak normal. Housemaid bekerja di wilayah itu—wilayah abu-abu di mana kekuasaan tidak selalu hadir dalam bentuk pukulan, melainkan dalam kontrol, manipulasi, dan ketakutan yang dikelola dengan tenang. Film ini tidak mengajak penonton berteriak marah; ia mengajak menahan napas, lalu bertanya: siapa sebenarnya yang berkuasa di dalam rumah?

Housemaid menceritakan tentang pengalaman Millie, seorang perempuan dengan masa lalu kelam yang menerima pekerjaan sebagai pembantu di rumah pasangan kaya, Nina dan Andrew Winchester. Rumah itu tampak sempurna, nyaris steril dari konflik. Namun perlahan, relasi kuasa di dalamnya terkuak. Millie tidak sekadar menjadi saksi; ia terseret ke pusaran manipulasi, kekerasan psikologis, dan permainan kendali yang jauh lebih kompleks dari sekadar perselingkuhan atau drama domestik.

Baca juga : Review Film Wildcat: Kate Beckinsale Kembali Mengaum

Sydney Sweeney tampil sebagai Millie dengan wajah yang menyimpan dua emosi sekaligus: takut dan siaga. Amanda Seyfried sebagai Nina menghadirkan sosok yang rapuh namun penuh lapisan—korban yang belajar bertahan lewat kecerdikan. Brandon Sklenar sebagai Andrew justru paling mengganggu karena ketenangannya. Ia adalah potret pelaku kekerasan yang tidak merasa dirinya pelaku.

Disutradarai Paul Feig dan diadaptasi dari novel Freida McFadden, Housemaid menarik karena Feig menahan ego penyutradaraan. Ia tidak menjadikan film ini thriller penuh ledakan, melainkan permainan psikologis yang lambat dan menekan. Pertanyaannya: apakah ini film feminis? Feig sendiri bukan sineas yang secara eksplisit mengusung agenda feminisme, namun pilihannya untuk menempatkan pengalaman perempuan—trauma, ketakutan, dan strategi bertahan—sebagai pusat narasi membuat film ini bekerja selaras dengan gagasan feminisme, meski tanpa slogan.

Kekuatan film ini ada pada relasi, bukan aksi. Karakter berkembang melalui gestur kecil: tatapan yang ditahan, kalimat yang digantung, dan keputusan yang tampak sepele namun menentukan. Millie tidak berubah menjadi pahlawan; ia belajar membaca situasi. Nina tidak sepenuhnya bebas dari manipulasi; ia hanya menemukan cara bertahan yang lain. Film ini memahami bahwa dalam relasi abusif, “menang” jarang berarti bebas sepenuhnya.

Berbeda dari thriller domestik lain yang mengandalkan twist besar, Housemaid unggul karena kesabaran. Ia memahami bahwa kekerasan dalam rumah tangga jarang berlangsung eksplosif. Ia repetitif, sistematis, dan sering dilegitimasi oleh status sosial. Di sinilah film ini terasa lebih dekat dengan kenyataan.

Kesabaran itu sekaligus menjadi titik lemah. Beberapa bagian terasa terlalu aman, seolah film enggan menggali trauma lebih dalam. Penyelesaian konflik terasa lebih cepat dibanding kompleksitas luka yang ditampilkan sebelumnya—sebuah kelemahan klasik film bertema kekerasan domestik.

Dalam ranah psikologi, pelaku kekerasan domestik sering kali tidak tampil sebagai sosok brutal, melainkan figur yang tampak rasional, karismatik, bahkan “masuk akal”. Andrew mencerminkan banyak ciri Narcissistic Personality Disorder (NPD): rasa superioritas, kebutuhan akan kontrol, minim empati, dan kecenderungan memanipulasi realitas orang lain. Kekerasan di sini tidak selalu berupa fisik, melainkan gaslighting, isolasi emosional, dan penciptaan ketergantungan. Housemaid bekerja efektif karena memperlihatkan bahwa kekerasan domestik sering disamarkan sebagai perhatian, perlindungan, atau stabilitas ekonomi.

Film ini menjadi lebih menarik jika dibaca lewat lensa feminisme struktural. Kekerasan yang dialami Nina dan Millie bukan semata akibat karakter Andrew, tetapi hasil dari sistem yang memberi ruang bagi relasi kuasa timpang: kelas sosial, ketergantungan ekonomi, dan norma yang menormalisasi dominasi laki-laki di ranah domestik. Dalam kerangka ini, Housemaid tidak sedang menunjuk satu penjahat, melainkan menunjukkan bagaimana sistem memungkinkan kekerasan berlangsung lama tanpa suara.

Sedianya, film ini akan beredar di jaringan bioskop tanah air pada 31 Desember 2025. Menjadi salah satu tontonan menarik di akhir tahun yang sering kali identik dengan hiburan ringan, pelarian dari rutinitas, atau rekreasi bersama keluarga dan teman.

Housemaid memang bisa dinikmati sebagai thriller psikologis di masa liburan, meski ia menawarkan lebih dari sekadar hiburan. Ia akan mengajak penonton pulang dengan percakapan—tentang relasi, kuasa, dan batas antara cinta dan kontrol. Sebuah tontonan yang mungkin tidak ringan, tetapi relevan untuk direnungkan di penghujung tahun.

Housemaid mengingatkan kita pada satu kebijaksanaan penting bahwa membebaskan diri dari tekanan kekuasaan tidak selalu harus dilawan dengan kekuatan. Kadang, pembebasan lahir dari membaca situasi dengan jernih, menolak permainan, dan mengambil jarak dari mereka yang hidup dari kendali atas orang lain.

Film ini memang tidak sempurna, tetapi jujur. Dan dalam isu kekerasan serta kekuasaan domestik, kejujuran sering kali lebih berharga daripada sensasi. ⭐️⭐️⭐️⭐️☆ (4 dari 5). (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *