Beritakota.id, Tangsel – Krisis sampah di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) telah mencapai titik darurat dan menjadi gambaran nyata ancaman lingkungan yang dihadapi kota-kota dengan pertumbuhan pesat di Indonesia.

Persoalan ini bukan semata kegagalan teknis pengelolaan, melainkan akumulasi dari pertumbuhan kota yang tidak diimbangi dengan sistem pengelolaan sampah yang kuat dan berkelanjutan, serta peran aktif partisipasi masyakarat.

Pengurus Besar Matahari Pagi Indonesia membuat forum sebagai ruang kolaborasi terbuka untuk menghimpun gagasan, pengalaman lapangan, serta solusi konkret dari berbagai elemen masyarakat dalam merespons krisis sampah di Tangerang Selatan.

“Ini adalah upaya kolektif MPI untuk turut serta hadir dalam menghimpun gagasan masyarakat Tangerang Selatan yang berbasis fakta dan pengalaman di lapangan, agar dapat dirumuskan menjadi rekomendasi yang solutif,” ujar Ketua Bidang Ekonomi dan Pemberdayaan Umat Pengurus Besar Matahari Pagi Indonesia, Faisal Alfansury (Alfan), Rabu

Baca juga: Dari Sampah ke Rupiah, Kisah Inspiratif Bank Sampah Binaan WINGS dan Waste4Change

Salah satu pemantik utama, Gusri Effendi, seorang praktisi lingkungan yang konsisten berjuang sejak tahun 1990-an hingga hari ini, menekankan bahwa persoalan sampah di Tangerang Selatan adalah akumulasi dari kegagalan sistemik yang dibiarkan terlalu lama.

“Sampah itu sebetunya tidak ada, sampah ada karena kita tidak bisa mengelolanya. Kalau dari hulunya tidak dibereskan, dari rumah tangga, pasar, hingga kebijakan, maka TPA mana pun pasti kolaps”. tegas Gusri Effendi.

Pandangan strategis dan tegas juga disampaikan oleh Ade Yunus, Ketua Banksasuci Foundation. Ia menilai persoalan sampah di Tangerang Selatan tidak bisa lagi diselesaikan dengan pendekatan tambal sulam.

“Relokasi adalah keniscayaan, bukan pilihan. Dan sekali lagi, persoalan sampah di kota seperti Tangerang Selatan tidak bisa diselesaikan hanya dengan memindahkan masalah ke TPA. Kuncinya ada di hulu: perubahan perilaku, pengurangan dari sumber, dan keberanian membangun system.” ujar Ade Yunus yang juga bagian dari Matahari Pagi Indonesia Wilayah Banten.

Sementara itu, Samsu, pelopor Kebun Rel Rawa Buntu yang juga aktif sebagai penggiat Bank Sampah, menyoroti pentingnya pembenahan TPS3R sebagai garda terdepan pengelolaan sampah harus lebih serius dan terbuka.

“TPS3R harus dikelola secara profesional, bukan sekadar tempat buang sementara. Dibutuhkan manajemen yang jelas, standar operasional yang tegas, serta faisiltas alat dan SDM. Kalau TPS3R berfungsi optimal dan dikerjakan secara profesional, beban TPA bisa ditekan signifikan,” jelas Samsu.

Selain Gusri Effendi, Ade Yunus, dan Samsu, diskusi ini juga dihadiri oleh Mukodas Syuhada, seorang praktisi lingkungan dan penggiat bambu yang juga Staf Ahli Wali Kota Tangerang Selatan, serta lintas elemen masyarakat Tangerang Selatan, seperti penggiat bank sampah, organisasi kemasyarakatan, akademisi, mahasiswa pecinta alam, pelaku kreatif, organisasi kepemudaan, dan perwakilan komunitas lainnya yang menghasilkan sejumlah catatan penting sebagai dasar rekomendasi kebijakan berbasis pengalaman publik yang akan diserahkan kepada para pemangku kebijakan di Tangerang Selatan.

Lebih jauh, MPI berharap, gagasan dan solusi yang lahir dari masyarakat Tangerang Selatan hari ini dapat diwakafkan kepada kabupaten dan kota lain di Indonesia sebagai bentuk mitigasi dini agar tidak mengulang krisis serupa.

“Darurat Sampah yang terjadi di Tangsel hari ini, jika tidak ditarik menjadi pembelajaran bersama, berpotensi menjadi wajah Indonesia dimasa depan,” kata Alfan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *