Berita Kota, Kaltara – Dengue masih menjadi tantangan serius kesehatan masyarakat di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan RI mencatat hingga 1 Desember 2025 terdapat 139.298 kasus dengue secara nasional, dengan Incidence Rate (IR) 49,16 per 100.000 penduduk dan angka kematian mencapai 583 kasus atau Case Fatality Rate (CFR) sebesar 0,42 persen.
Merespons situasi tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara memperkuat strategi pencegahan melalui peluncuran program vaksinasi dengue bagi anak usia sekolah. Program ini menjadi pelengkap upaya pengendalian yang selama ini telah dijalankan, seperti penguatan surveilans dan pemberantasan sarang nyamuk.
Peresmian program vaksinasi dengue dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara di Kabupaten Bulungan, tepatnya di Kecamatan Tanjung Palas Utara, Kamis (8/1). Seluruh pembiayaan pengadaan vaksin bersumber dari APBD Provinsi Kalimantan Utara.
Pelaksanaan program melibatkan kolaborasi lintas pihak, antara lain Dinas Kesehatan Kabupaten Bulungan, Puskesmas Tanjung Palas Utara, serta dukungan mitra seperti PT Bio Farma dan PT Takeda Innovative Medicines. Sejumlah pemangku kepentingan turut mendukung, termasuk Komite Nasional dan Daerah Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), serta pemerintah kabupaten dan lintas sektor terkait.
Secara epidemiologis, dengue bersifat endemik di seluruh wilayah Kalimantan Utara. Pada 2024 tercatat 735 kasus dengue dengan IR 98,98 per 100.000 penduduk dan CFR 1,09 persen. Kabupaten Bulungan dan Malinau menjadi wilayah dengan beban kasus dan kematian tertinggi. Data menunjukkan hampir separuh kasus dengue (46,81 persen) terjadi pada kelompok usia 6–14 tahun, dengan tren penularan yang terus meningkat hingga pertengahan 2025.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara, Usman, menegaskan bahwa vaksinasi dengue didorong sebagai strategi pelengkap dalam pengendalian penyakit.
“Kami terus memperkuat surveilans, gerakan 3M Plus, serta edukasi masyarakat. Namun, tantangan dengue semakin kompleks. Vaksinasi kami dorong sebagai lapisan perlindungan tambahan, khususnya bagi kelompok anak usia sekolah yang paling rentan,” ujarnya.
Baca juga: Lindungi Keluarga dari Demam Berdarah Dengue dengan #Ayo3MplusVaksin
Ia menambahkan, langkah ini sejalan dengan kebijakan nasional dan target menuju nol kematian akibat dengue pada 2030. Pemerintah daerah optimistis pendekatan kolaboratif dapat memberikan dampak perlindungan yang lebih luas dan berkelanjutan.
Dari sisi pemerintah kabupaten, Bupati Bulungan Syarwani melalui Kepala Dinas Kesehatan setempat menekankan bahwa vaksinasi tidak menggantikan upaya pencegahan yang sudah berjalan.
“Vaksinasi merupakan perlindungan tambahan. Disiplin menjaga kebersihan lingkungan tetap menjadi kunci, terutama di tengah curah hujan dan cuaca yang tidak menentu,” disampaikan melalui pernyataan resmi.
Pada tahap awal, vaksinasi dengue ditargetkan kepada 725 anak usia 9–13 tahun atau siswa kelas 3, 4, dan 6 SD serta kelas 7 SMP di 13 sekolah di Kecamatan Tanjung Palas Utara. Pelaksanaan dilakukan dengan prosedur ketat, mulai dari skrining kesehatan, pemberian vaksin oleh tenaga terlatih, hingga observasi pasca imunisasi.
Dukungan juga disampaikan mitra industri. Presiden Direktur Bio Farma menyatakan komitmen perusahaan dalam memperluas akses vaksin dengue di Indonesia melalui dukungan terhadap program publik. Sementara Presiden Direktur Takeda Innovative Medicines mengapresiasi Kalimantan Utara sebagai salah satu wilayah pelopor vaksinasi dengue publik.
“Inisiatif ini menambah daftar menjadi 12 wilayah di Indonesia yang telah menerapkan program vaksinasi dengue. Beban dengue sangat besar, tidak hanya bagi sistem kesehatan, tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat,” ujarnya.
Dengan dimulainya program ini, Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara berharap dapat memperkuat perlindungan kesehatan anak usia sekolah sekaligus menekan risiko penularan dengue secara berkelanjutan di wilayah tersebut. (***)

