Beritakota.id, Jakarta – Setelah bertahun-tahun terbengkalai dan menjadi pemandangan tak sedap di kawasan bisnis Kuningan, Jakarta Selatan, tiang-tiang proyek monorel di Jalan Rasuna Said akhirnya resmi dibongkar. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, didampingi mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso atau akrab disapa Bang Yos, menyaksikan langsung pemotongan tiang pertama pada Rabu (14/1/2026) pukul 09.07 WIB.

Pembongkaran 109 tiang monorel ini menjadi penanda keseriusan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam menata ulang fasilitas publik yang mangkrak. Proyek ini ditargetkan rampung pada bulan September mendatang, dengan harapan dapat mengurangi kemacetan di salah satu arteri utama ibu kota.

Gubernur Pramono Anung mengklarifikasi bahwa anggaran yang digelontorkan untuk proyek ini mencapai Rp 102 miliar. Namun, ia menegaskan bahwa biaya pembongkaran tiang monorel itu sendiri hanya sekitar Rp 254 juta. Sebagian besar anggaran dialokasikan untuk penataan kawasan, termasuk perbaikan jalan, saluran drainase, trotoar, penerangan jalan umum (PJU), serta penataan taman dan estetika di sepanjang Jalan Rasuna Said.

Sutiyoso Ungkap Penyesalan dan Harapan

Mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, mengungkapkan rasa leganya atas dibongkarnya tiang-tiang monorel tersebut. Ia mengenang kembali gagasan pembangunan monorel yang muncul di awal tahun 2000-an sebagai solusi jangka panjang mengatasi kemacetan Jakarta. Namun, berbagai kendala, termasuk kondisi sosial ekonomi pasca-1998, membuat proyek ini tak kunjung terealisasi dan akhirnya terbengkalai.

Sejumlah pekerja mulai membongkar tiang monorel di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Rabu (14/1/2026). Pembongkaran 98 tiang monorel mangkrak selama lebih dari dua dekade ini dianggap mengganggu arus lalu lintas dan berpotensi menimbulkan kecelakaan, terutama di jalur lambat yang sering digunakan sepeda motor dan ojek online. (Beritakota.id)
Sejumlah pekerja mulai membongkar tiang monorel di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Rabu (14/1/2026). Pembongkaran 98 tiang monorel mangkrak selama lebih dari dua dekade ini dianggap mengganggu arus lalu lintas dan berpotensi menimbulkan kecelakaan, terutama di jalur lambat yang sering digunakan sepeda motor dan ojek online. (Foto: Beritakota.id)

“Jujur saja, hari ini hati saya lega sekali dengan adanya kepastian yang dicanangkan oleh Pak Gubernur Pramono,” ujar Sutiyoso. Ia sempat melakukan studi banding ke beberapa negara dan menilai monorel cocok untuk Jakarta, namun prioritas saat itu terpaksa beralih ke Busway karena membutuhkan investor yang lebih kecil.

Pembongkaran Dilakukan Malam Hari untuk Minimalisir Dampak Lalu Lintas

Untuk meminimalkan gangguan lalu lintas, proses pembongkaran tiang monorel dilakukan secara bertahap dan hanya pada malam hari, mulai pukul 23.00 hingga 05.00 WIB.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Syafrin Liputo, menjelaskan bahwa skema yang diterapkan adalah satu tiang per malam, tanpa penutupan jalan total. Hanya lajur lambat yang ditutup secara bertahap di titik pekerjaan, sementara arus dari lajur cepat tetap dapat mengakses lajur lambat. Sebanyak 30 personel gabungan dari Dishub dan Satpol PP disiagakan setiap malam untuk pengaturan lalu lintas dan pengamanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *