Beritakota.id, Banyuwangi – Di tengah industri musik Indonesia yang kian riuh oleh formula viral dan estetika instan, Canti memilih jalur yang lebih sunyi—namun justru lebih jujur. Lewat single terbarunya, “Anggap Aku Ada”, ia tidak menawarkan ledakan emosi atau klimaks dramatik. Sebaliknya, lagu ini bergerak pelan, nyaris berbisik, seperti percakapan yang tak pernah benar-benar selesai dalam sebuah hubungan.
Nuansa R&B yang diusung terasa hangat dan intim, bukan sebagai gaya tempel, melainkan bahasa emosional yang menyatu dengan cerita. “Anggap Aku Ada” berbicara tentang jarak yang tak kasatmata: dua orang yang masih berdiri berhadapan, namun secara batin sudah saling menjauh. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada pintu dibanting. Yang tersisa hanya rasa kehilangan yang datang perlahan—dan justru itu yang paling menyakitkan.
Baca juga : DJ Floryn Sebarkan Energi Baik Lewat Musik dan Aksi Sosial
“Dia sebenarnya ada di depan mata, tapi rasanya jauh,” ujar Canti tentang lagu ini. Kalimat sederhana itu merangkum kekuatan utama Canti sebagai penulis lagu: kemampuannya menangkap emosi yang sering kita abaikan, lalu mengemasnya dalam lirik yang terasa personal tanpa menjadi melodramatis.
Secara musikal, “Anggap Aku Ada” dibangun dengan aransemen R&B yang bersih dan minimal. Groove bergerak halus, instrumen organik ditempatkan dengan penuh perhitungan, memberi ruang bagi vokal Canti untuk bernapas. Produksi Ivan Gojaya terasa matang—tidak berusaha mencuri perhatian, justru memperkuat nuansa reflektif lagu. Kehadiran Mohammed Kamga sebagai vocal director turut menjaga ekspresi vokal Canti tetap jujur, rapuh di titik yang tepat.
Kolaborasi penulisan lagu bersama Agustin Oendari menghasilkan narasi yang terasa dewasa: tentang rindu, kebingungan, dan kelelahan emosional yang tidak selalu punya kata-kata besar untuk dijelaskan. Di sinilah Canti menunjukkan konsistensinya sebagai storyteller—menempatkan emosi sebagai pusat, bukan sekadar estetika.
Lebih jauh, rilisan ini juga menyoroti realitas yang jarang dibicarakan: betapa sedikitnya penyanyi perempuan Indonesia yang secara konsisten berada di jalur R&B. Genre ini memang hidup—namun sering tersisih oleh pop arus utama atau sekadar dijadikan aksen sesaat. Canti justru memilih merawat R&B sebagai rumah artistik, bukan persinggahan.
R&B yang ia usung bukan tiruan mentah dari Barat, melainkan interpretasi personal yang kontekstual dengan pengalaman urban Indonesia hari ini: relasi yang renggang, komunikasi yang terputus, dan kesepian di tengah kedekatan semu. Dalam lanskap ini, Canti berdiri sebagai suara yang tenang namun tegas—tidak berteriak untuk didengar, tapi sulit diabaikan bagi mereka yang benar-benar mendengarkan.
“Anggap Aku Ada” juga menjadi penanda fase baru menuju album terbarunya. Jika ini adalah potongan awal, maka yang ditawarkan Canti bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan perjalanan emosional yang utuh dan jujur. Sebuah langkah berani di industri yang sering menuntut kepastian, sementara Canti justru merangkul keraguan sebagai kekuatan.
Di bulan ini, Canti bukan hanya merilis lagu. Ia mengingatkan kita bahwa dalam musik—seperti dalam hubungan—kadang yang paling kita butuhkan hanyalah diakui keberadaannya. (Lukman Hqeem)

