Beritakota.id, Banyuwangi – Di era ketika algoritma TikTok sering lebih menentukan arah musik pop ketimbang kegelisahan artistik, lahirlah “Cegil”—single terbaru Nabila Taqiyyah yang tampaknya lebih sibuk mengejar relevansi digital ketimbang menawarkan refleksi emosional yang benar-benar tajam.

“Cegil”, akronim dari Cewek Gila, adalah istilah yang sudah kenyang dipakai di linimasa: setengah bercanda, setengah pembenaran. Ia lahir dari budaya meme yang gemar menertawakan perilaku obsesif dalam relasi, lalu menghalalkannya dengan dalih “namanya juga cinta”. Nabila mengambil istilah itu, membersihkannya dari konotasi negatif, lalu membungkusnya menjadi pop ceria yang aman dikonsumsi semua umur. Di sinilah persoalan dimulai.

Alih-alih membedah kegilaan cinta sebagai sesuatu yang problematik—posesif, timpang, atau melelahkan—“Cegil” justru memilih jalur paling nyaman: merayakannya. Obsesi diterjemahkan sebagai kesetiaan, ketergantungan dibungkus sebagai komitmen, dan keinginan sepihak dijual sebagai romantisme. Lagu ini tidak mengkritik fenomena “cegil”; ia memeluknya dengan senyum manis.

Baca juga : Kolaborasi Qodir dan Arya Novanda Hasilkan Single Logila

Secara lirik, “Cegil” nyaris tanpa konflik. Semua berjalan lurus, polos, dan bisa ditebak. “Cewek ini cuma mau sama cowok ini”—kalimat semacam itu mungkin terdengar relatable bagi sebagian pendengar, tetapi juga menandakan kemiskinan sudut pandang. Tidak ada ruang untuk ambiguitas, tidak ada pertanyaan kritis, apalagi keberanian untuk mengatakan bahwa cinta yang terlalu obsesif sering kali justru tidak sehat. Ini pop yang memilih aman, bukan jujur.

Dari sisi produksi, kerja sama Nabila dengan S/EEK menghasilkan aransemen pop yang rapi, groovy, dan sangat sesuai standar industri saat ini. Beat-nya ceria, nadanya ringan, dan semuanya terdengar seperti playlist-ready. Tidak ada yang salah secara teknis—justru terlalu benar. Lagu ini terdengar seperti produk yang sudah lolos uji pasar sebelum benar-benar diuji secara artistik.

Musik video “Cegil” memperkuat kesan tersebut. Latar halaman rumah yang asri, tone visual yang hangat, dan kehadiran aktor populer Adzando Davema menjadikan video ini nyaman ditonton, tetapi juga steril. Tidak ada kegilaan di sini. Tidak ada kekacauan emosi. Tidak ada risiko visual. Semua terasa seperti iklan gaya hidup—rapi, sopan, dan sangat sadar kamera.

Yang menarik justru bukan apa yang ditampilkan, melainkan apa yang dihindari. Kata “cegil” sejatinya menyimpan potensi kritik sosial: bagaimana perempuan sering distigmatisasi saat mengekspresikan emosi secara intens, sementara perilaku serupa pada laki-laki sering dianggap wajar. Namun alih-alih menggali isu itu, lagu ini memilih jalur paling mudah: menjadikannya gimmick lucu tanpa konsekuensi.

Di titik ini, “Cegil” terasa lebih sebagai produk budaya viral ketimbang karya musik yang punya posisi. Ia hadir tepat waktu, memakai istilah yang sedang tren, dan dikemas dengan estetika yang ramah algoritma. Universal Music Indonesia jelas tahu apa yang mereka lakukan. Tapi pertanyaannya: apakah musik pop hanya perlu tahu cara laku, atau juga berani bertanya?

Nabila Taqiyyah sebenarnya punya modal besar: vokal yang kuat, persona yang relatable, dan basis penggemar yang loyal. Justru karena itu, “Cegil” terasa seperti peluang yang setengah matang. Lagu ini bisa saja menjadi komentar cerdas tentang cinta obsesif di era digital, tetapi memilih berhenti sebagai lagu manis yang tidak mau mengganggu siapa pun.

“Cegil” akan diputar, dibagikan, dan mungkin viral. Tapi setelah itu? Ia kemungkinan besar akan lewat begitu saja—seperti istilah slang lain yang lahir dari internet, ramai sebentar, lalu hilang tanpa jejak pemikiran. Dan untuk musisi muda dengan potensi sebesar Nabila Taqiyyah, itu mungkin bukan kegilaan yang patut dirayakan. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *