Beritakota.id, Jakarta – Bursa saham unggulan Amerika Serikat mengalami tekanan jual setelah pasar was-was bahwa saham-saham terkait kecerdasan buatan dapat menganggu sector teknologi lain, termasuk software. Indek Dow Jones berakhir dibawah ambang batas 50.000 untuk pertama kalinya.

Risk Off terjadi di lantai bursa dimana para investor hanya memiliki sedikit tempat untuk berlindung dari kekhawatiran seputar potensi kecerdasan buatan. Penurunan tajam ini membuat Dow Jones berada di bawah angka 50.000, sementara S&P 500 dan Nasdaq masing-masing mencatat penurunan persentase harian paling tajam dalam tiga minggu.

Aksi jual memang membuat saham di sector teknologi dan perangkat lunak menanggung dampak terberatnya. Namun, penurunan tajam di hari Kamis ini juga menyapu saham-saham sektor energi, material, dan saham-saham berkapitalisasi kecil, serta sektor-sektor lain yang baru-baru ini diuntungkan dari perluasan pasar bullish di luar saham-saham teknologi berkapitalisasi besar.

Baca juga : Yen Naik Tajam Karena Melemahnya Carry Trade dan Risk Off

Sebaliknya, saham-saham sektor utilitas, barang konsumsi pokok, dan real estat diperlakukan seperti tempat berlindung di tengah badai, begitu pula obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun dan 30 tahun. Hal ini tidak selalu terjadi sejak Presiden Trump mulai menggunakan ancaman tarif terhadap mitra dagang utama AS tahun lalu.

Bahkan Indeks Dolar AS ICE yang terpukul pun naik tipis 0,1% pada hari Kamis terhadap sekeranjang mata uang saingan, setelah baru-baru ini diperdagangkan di dekat level terendah empat tahun.

Faktor lain yang membuat Wall Street gelisah adalah laporan penjualan rumah yang sudah ada pada bulan Januari yang buruk, meskipun suku bunga hipotek tetap 30 tahun baru turun menjadi sekitar 6,09%, dari sekitar 6,16% di awal tahun ini.

Namun, data ekonomi telah menjadi pemicu tambahan untuk volatilitas VIX akhir-akhir ini, dengan laporan pekerjaan minggu ini untuk bulan Januari yang mengejutkan karena menunjukkan hasil yang lebih baik dan membuat Wall Street lengah.

Pada perdagangan di akhir pekan ini, diyakini akan lebih banyak kejutan dimana para investor bersiap untuk data inflasi baru melalui indeks harga konsumen untuk bulan Januari. Datanya diperkirakan akan tetap di atas target inflasi tahunan Federal Reserve sebesar 2%.

Menyusul aksi jual pada hari Kamis, kenaikan pada indek S&P 500 untuk tahun ini telah lenyap bahkan kini tercatat dengan penurunan  0,9% pada tahun 2026. Sementara Nasdaq turun 2,8% dan Dow naik kurang dari 3%. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *