Beritakota.id, Jakarta – Perusahaan keamanan dan intelijen siber, Zentara, menilai skala ancaman digital di Indonesia semakin besar dan kompleks. Dalam pemaparan kepada media di kantor barunya di Baic Tower, Tangerang Selatan, Co-Founder dan CEO Zentara, Regal Rauniyar Star, mengungkapkan bahwa serangan siber yang tercatat secara nasional dapat mencapai sekitar 16 juta dalam periode tertentu, bahkan berpotensi terjadi dalam satu hari operasi.
“Bayangkan jika seorang analis harus memproses 16 juta notifikasi atau potensi serangan. Itu pekerjaan yang sangat besar,” ujar Regal.
Otomatisasi Jadi Kunci Efisiensi Penanganan Serangan Siber
Menurut Regal, besarnya volume ancaman menuntut pendekatan keamanan siber yang lebih efisien melalui otomatisasi. Dengan mengotomatisasi sebagian proses, misalnya 20 persen dari total notifikasi, efisiensi kerja analis akan meningkat signifikan.
Langkah ini membantu tim keamanan memilah serangan nyata dari peringatan palsu (false alarm), sehingga respons terhadap ancaman berisiko tinggi dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.
Zentara juga bekerja sama dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dalam pengembangan serta pengujian teknologi keamanan. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk memastikan solusi yang dibangun relevan dengan karakteristik ancaman siber di Indonesia.
“Untuk mengembangkan solusi yang tepat bagi Indonesia, kami memang harus bekerja sama dengan BSSN,” kata Regal.
Ancaman Siber Sasar Perbankan dan Infrastruktur Kritis
Regal menjelaskan bahwa motif pelaku serangan siber sangat beragam. Ada yang sekadar menguji kemampuan teknis, namun tidak sedikit yang menargetkan sektor perbankan dan institusi keuangan untuk mencuri dana atau memperoleh keuntungan ilegal.
“Hacker pada dasarnya mencari ‘pintu yang terbuka’. Jika sistem memiliki celah, mereka akan mencoba masuk,” ujarnya.
Karena itu, pendekatan keamanan harus mencakup strategi ofensif dan defensif secara bersamaan. Zentara menerapkan konsep red team dan blue team untuk menguji ketahanan sistem klien. Tim ofensif berupaya menemukan celah keamanan, sementara tim defensif memperkuat sistem agar kerentanan dapat ditutup sebelum dimanfaatkan pihak luar.
Baca juga: ITSEC Cybersecurity Summit 2025: Pengamanan Siber Pada Infrastruktur Kritis
Fokus pada Tiga Tier Pasar Strategis
Sebagai perusahaan teknologi keamanan siber, Zentara membagi bisnisnya dalam sejumlah divisi, mulai dari keamanan siber, intelijen, solusi perusahaan, hingga laboratorium riset dan pengembangan (R&D).
Dalam pemetaan pasar, klien dikelompokkan dalam tiga kategori utama:
- Tier 1: Perbankan, layanan keuangan, dan e-commerce dengan volume transaksi tinggi dan dampak publik luas.
- Tier 2: Infrastruktur kritikal seperti industri energi dan proyek strategis berdurasi enam hingga dua belas bulan.
- Tier 3: Proyek pembangunan infrastruktur bernilai nasional dengan siklus jangka panjang.
“Tier 1 menjadi prioritas karena perubahan di sektor ini sangat cepat dan berdampak luas. Namun kami tetap aktif di Tier 2 dan Tier 3,” jelas Regal.
SOC 24/7 dan Ambisi Standar Global
Di kantor barunya, Zentara juga menghadirkan fasilitas Security Operations Center (SOC) yang beroperasi 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Sistem ini memantau lalu lintas jaringan dan potensi serangan secara real time, termasuk visualisasi ancaman global.
Menurut Regal, tidak semua notifikasi merupakan serangan nyata. Tim analis bertugas menyaring alarm palsu dan memverifikasi tingkat risiko sebelum melakukan mitigasi. Pendekatan ini krusial mengingat banyak infrastruktur vital kini bergantung pada sistem digital.
Zentara juga melakukan investasi besar pada infrastruktur teknologi untuk membuktikan bahwa solusi keamanan siber buatan Indonesia mampu bersaing di tingkat global. Selain beroperasi di dalam negeri, perusahaan ini juga membangun entitas di Singapura guna memperkuat kepercayaan pasar internasional.
“Tujuan kami menjaga klien dengan standar global, tetapi tetap berbasis teknologi Indonesia,” tegas Regal.
Dengan perkembangan ekosistem digital nasional yang pesat, Regal optimistis kolaborasi antara pelaku industri dan pemerintah, serta penguatan implementasi regulasi, akan menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan siber nasional yang lebih kokoh di tengah meningkatnya ancaman digital. (***)

