Beritakota.id, Jakarta – Konflik berkepanjangan Rusia-Ukraina terus memicu ketidakpastian di pasar energi global dan berpotensi berdampak ke Asia, termasuk Indonesia. Hal itu disampaikan analis geopolitik dan keamanan regional sekaligus mantan utusan khusus Amerika Serikat untuk Ukraina, Kurt Volker, di Munich Security Conference 2026. Ia menyoroti bagaimana agresi Rusia, perubahan rantai pasok energi, serta dinamika geopolitik kawasan menciptakan implikasi luas bagi stabilitas energi dan ekonomi global.
Volker menjelaskan, guncangan besar pada pasar energi terjadi sejak Rusia melancarkan agresi ke Ukraina yang berujung pada terputusnya akses negara tersebut ke pasar energi Uni Eropa dan Amerika Serikat. Dampaknya, Rusia harus mengalihkan penjualan minyak dan gas ke pembeli alternatif.
“Rusia menghentikan akses penjualan minyak dan gas ke Eropa. Mereka kini mencari pembeli alternatif seperti China, India, dan negara-negara di selatan global,” ujar Volker dalam keteramgan tertulis, dikutip Senin 16 Februari 2026.
Menurut dia, Washington dan Brussel kini meningkatkan tekanan diplomatik kepada negara-negara pembeli baru tersebut agar tidak memperpanjang ketahanan ekonomi Rusia melalui transaksi energi.
Perubahan Struktural Pasar Energi Global
Volker menilai gangguan suplai dari Rusia hanya satu bagian dari perubahan struktural yang lebih besar di pasar energi dunia. Ia menyoroti peningkatan produksi minyak dan gas alam dari Amerika Serikat yang akan memengaruhi keseimbangan pasokan global.
“Kita akan melihat lebih banyak gas alam memasuki pasar. Ini akan mengubah pilihan negara-negara Asia dalam menentukan sumber pasokan mereka,” katanya.
Dengan bertambahnya ketersediaan energi, harga berpotensi mengalami tekanan. Namun di sisi lain, negara-negara Asia diperkirakan akan semakin selektif dalam menentukan strategi impor energi jangka panjang, baik dari sisi harga maupun keamanan pasokan.
Baca juga: Potensi Perdamaian Ukraina-Rusia, Dorong Harga Minyak Jatuh
Dampak bagi Indonesia
Saat ditanya mengenai potensi dampak langsung terhadap Indonesia, Volker menilai faktor paling menentukan bukanlah ketegangan Barat–Rusia, melainkan dinamika kawasan Asia, khususnya terkait China.
“Indonesia akan lebih terdampak oleh dinamika dengan Cina, terutama jika Beijing memperkuat ambisi di Laut Cina Selatan,” jelasnya.
Ia menambahkan, Amerika Serikat berupaya mempertahankan kehadiran militernya di Asia guna menjaga keseimbangan kawasan. Namun kegagalan mempertahankan status quo dinilai dapat memicu konsekuensi strategis bagi negara-negara di sekitarnya, termasuk Indonesia.
Peluang Ekonomi di Tengah Disrupsi
Di tengah ketidakpastian geopolitik, Volker juga melihat adanya peluang ekonomi baru. Pemutusan hubungan bisnis dengan Rusia dinilai menciptakan ruang bagi negara lain untuk mengisi kekosongan pasar global.
“Ada pergeseran besar dari bisnis, investasi, dan uji coba teknologi yang sebelumnya terhubung dengan Rusia. Ini membuka ruang bagi negara lain untuk mengisi kebutuhan global, termasuk di sektor mineral kritis seperti lithium,” ujarnya.
Ia menambahkan, apabila China mulai membatasi ekspor mineral penting, arus investasi asing berpotensi beralih ke negara-negara alternatif pemasok sumber daya.
Menurut Volker, dinamika tersebut akan membentuk ulang peta perdagangan energi dan mineral global dalam beberapa tahun ke depan, sekaligus membuka peluang baru bagi negara berkembang untuk memperkuat posisi strategisnya di rantai pasok dunia. (***)

