Beritakota.id, Jakarta – Di sebuah ruang pertemuan di Jakarta Pusat pada Jumat sore, menjelang waktu berbuka puasa, perwakilan berbagai organisasi sayap Partai Gerindra berkumpul dalam sebuah agenda yang disebut sebagai **Silaturahmi Kebangsaan**. Di tengah suasana Ramadan yang biasanya identik dengan refleksi dan kebersamaan, pertemuan itu membawa pesan yang lebih luas: seruan untuk memperkuat toleransi dan menjaga persatuan nasional.
Acara yang digelar di Sekretariat PP Gerakan Kristiani Indonesia Raya (GEKIRA) tersebut mengusung tema *“Persatuan Nasional Fondasi Keutuhan Bangsa.”* Para peserta datang dari berbagai organisasi yang berada di bawah ekosistem Partai Gerindra, termasuk Tunas Indonesia Raya (TIDAR), Perempuan Indonesia Raya (PIRA), Lembaga Advokasi Gerindra, Gerakan Masyarakat Sanatana Dharma Nusantara (Gemashadana), Pejuang Pergerakan Rakyat (Pepera), Satuan Relawan Indonesia Raya (Satria), Kesehatan Indonesia Raya (Kesira), Persatuan Purnawirawan Indonesia Raya (PPIR), hingga Gerakan Muslim Indonesia Raya (Gemira).
Baca juga : GEKIRA Bentuk Resimen Ekologi, Komitmen Jaga Bumi
Pertemuan lintas organisasi tersebut diposisikan sebagai ruang konsolidasi internal sekaligus pesan simbolik tentang keberagaman di dalam partai yang kini berada di lingkar kekuasaan nasional.
Ketua Umum PP GEKIRA, Nikson Silalahi, mengatakan bahwa Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang tidak hanya berasal dari dinamika ekonomi global atau perubahan geopolitik, tetapi juga dari meningkatnya polarisasi wacana di ruang publik.
Menurutnya, maraknya disinformasi, fitnah, dan ujaran kebencian di media sosial dan ruang publik dapat mengikis kohesi sosial jika tidak direspons secara bijak.
“Disinformasi, fitnah, dan ujaran kebencian masih marak di masyarakat. Maka tugas kita adalah menangkal semua itu dengan cara-cara yang beradab dan demokratis,” kata Nikson dalam sambutannya.
Pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran yang semakin sering muncul dalam percakapan politik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir: bahwa pertarungan wacana di ruang digital dapat memperdalam perpecahan sosial jika tidak diimbangi dengan narasi persatuan.
## Politik Persatuan di Tengah Dinamika Global
Dalam kesempatan itu, Nikson juga menyinggung sejumlah program pemerintah yang menurutnya menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas nasional di tengah situasi global yang tidak menentu.
Ia menyebut beberapa inisiatif yang sedang dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, seperti program **Makan Bergizi Gratis (MBG)**, pengembangan **Koperasi Desa**, serta program **Sekolah Rakyat**. Selain itu, ia juga menyinggung keterlibatan Indonesia dalam berbagai inisiatif perdamaian internasional sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi negara di panggung global.
Menurut Nikson, pendekatan kebijakan tersebut mencerminkan orientasi pemerintahan yang menempatkan kepentingan nasional sebagai prioritas utama.
“Pak Prabowo selalu mengutamakan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi, partai, dan golongan,” ujarnya.
Dalam pandangannya, kebersamaan berbagai organisasi sayap Gerindra dalam acara tersebut juga mencerminkan praktik toleransi dalam kehidupan politik. Ia menilai perbedaan latar belakang organisasi di dalam partai seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan kekuatan untuk memperkaya perspektif kebangsaan.
Narasi tentang persatuan ini juga menjadi pesan yang ingin ditegaskan oleh para pengurus organisasi sayap partai yang hadir. Dalam konteks politik nasional yang kerap diwarnai perdebatan tajam, agenda seperti silaturahmi kebangsaan diposisikan sebagai upaya menjaga komunikasi internal sekaligus memperkuat basis dukungan terhadap pemerintahan yang tengah berjalan.
## Menghadapi Disinformasi di Ruang Publik
Sekretaris Jenderal PP GEKIRA, Yeremias Ndoen, dalam kesempatan yang sama mengatakan bahwa kritik terhadap pemerintah merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang sehat. Namun ia menilai penyebaran informasi yang keliru atau menyesatkan dapat menimbulkan dampak yang lebih luas terhadap stabilitas sosial.
Menurutnya, pemerintah dan partai politik tidak seharusnya alergi terhadap kritik. Tetapi ia mengingatkan bahwa disinformasi dan ujaran kebencian yang berkembang di ruang publik dapat mencederai kehidupan berbangsa.
“Karena itu kami hadir untuk meluruskan informasi-informasi yang keliru dan mengajak bangsa Indonesia untuk bersatu,” ujar Yeremias.
Pesan tersebut mencerminkan upaya untuk menempatkan organisasi sayap partai bukan hanya sebagai mesin politik, tetapi juga sebagai saluran komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.
Dalam praktiknya, organisasi-organisasi ini kerap berfungsi sebagai jaringan sosial yang menyampaikan program-program pemerintah kepada konstituen di tingkat akar rumput.
## Pesan Kebangsaan di Bulan Ramadan
Nuansa religius dalam acara tersebut muncul melalui tausiyah kebangsaan yang disampaikan oleh KH Misbahul Munir Cholil. Dalam ceramahnya, ia menekankan bahwa kesejahteraan dan rasa aman merupakan dua kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh negara.
Menurutnya, masyarakat membutuhkan stabilitas ekonomi sekaligus jaminan keamanan untuk dapat menjalani kehidupan secara layak.
“Bangsa ini butuh makan dan butuh aman,” kata Misbahul.
Ia menilai sejumlah program pemerintah yang berfokus pada kesejahteraan masyarakat harus didukung dan disosialisasikan secara luas agar benar-benar dipahami oleh publik.
Di akhir ceramahnya, Misbahul juga menyoroti simbolisme kebersamaan yang terlihat dalam pertemuan berbagai organisasi dengan latar belakang yang berbeda.
“Kebersamaan kita hari ini adalah simbol kerukunan dan toleransi yang mencerminkan kebhinekaan Indonesia,” ujarnya.
Silaturahmi kebangsaan tersebut akhirnya ditutup dengan buka puasa bersama—sebuah ritual sederhana yang dalam konteks politik Indonesia sering kali menjadi momen mempererat hubungan sosial.
Bagi para peserta yang hadir, pertemuan itu bukan sekadar agenda internal partai. Ia juga dimaknai sebagai pesan bahwa di tengah dinamika politik dan perubahan global, gagasan tentang persatuan nasional masih menjadi narasi yang terus dihidupkan dalam ruang publik Indonesia.

