Beritakota.id, Sleman – Di tengah tren pariwisata yang semakin mengarah pada pengalaman autentik, desa wisata kini bukan sekadar destinasi, melainkan ruang tumbuh bagi ekonomi masyarakat. Salah satu contoh menarik datang dari Desa Wisata Pentingsari, yang terus berkembang sebagai model pemberdayaan berbasis komunitas.
Melalui kolaborasi antara Haisawit Indonesia dan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), upaya penguatan ekonomi desa kini diarahkan pada pengembangan UMKM berbasis potensi lokal, termasuk pemanfaatan produk turunan kelapa sawit.
Program ini tidak hanya menghadirkan pelatihan teknis, tetapi juga membuka cara pandang baru: bahwa komoditas seperti sawit dapat menjadi pintu masuk bagi inovasi ekonomi di tingkat desa.
Baca juga : Desa Wisata Pemuteran Bali Raih Penghargaan Best Tourism Village 2025 dari UN Tourism
UMKM sebagai Tulang Punggung Desa Wisata
Dalam ekosistem desa wisata, UMKM memegang peran krusial. Mereka bukan hanya pelengkap, tetapi menjadi inti dari pengalaman wisata itu sendiri—mulai dari kuliner, kerajinan, hingga produk khas yang dibawa pulang wisatawan.
Di Pentingsari, pelaku UMKM diperkenalkan pada berbagai produk turunan sawit yang memiliki nilai jual tinggi. Mulai dari lilin aromaterapi, sandal, hingga taplak meja, semuanya dirancang tidak hanya sebagai produk fungsional, tetapi juga sebagai bagian dari identitas desa.
Produk-produk ini kemudian terintegrasi langsung dengan aktivitas wisata. Homestay menggunakan hasil kerajinan lokal, sementara wisatawan memiliki opsi membeli suvenir yang benar-benar mencerminkan karakter desa. Di sinilah nilai tambah tercipta—bukan hanya dari kunjungan, tetapi dari perputaran ekonomi yang berkelanjutan.
Direktur Haisawit Indonesia, M. Danang MRQ, menekankan bahwa penguatan UMKM tidak bisa berdiri sendiri. Akses terhadap pasar dan jejaring menjadi faktor kunci agar produk desa tidak berhenti di tahap produksi.
Melalui platform digital yang mereka kembangkan, pelaku UMKM didorong untuk tidak hanya memproduksi, tetapi juga memahami strategi pemasaran dan kebutuhan pasar yang lebih luas, termasuk sektor perhotelan dan industri.
Menghubungkan Sawit dengan Pariwisata
Selama ini, sawit lebih dikenal sebagai komoditas industri besar. Namun melalui pendekatan yang lebih inklusif, BPDP mencoba menghubungkan sektor ini dengan ekonomi kerakyatan.
Dana yang dikelola BPDP, yang berasal dari kontribusi industri sawit, dikembalikan ke masyarakat melalui berbagai program, termasuk pemberdayaan UMKM. Dalam konteks desa wisata, pendekatan ini membuka peluang baru: menciptakan nilai tambah dari komoditas melalui inovasi produk.
Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menegaskan bahwa integrasi antara sektor perkebunan dan pariwisata menjadi strategi penting dalam memperluas manfaat ekonomi.
Melalui kemitraan antara UMKM dan koperasi petani, rantai pasok menjadi lebih terstruktur—dari bahan baku hingga distribusi produk. Bagi masyarakat desa, ini berarti adanya kepastian usaha sekaligus peluang peningkatan pendapatan.
Desa Wisata sebagai Motor Kemakmuran
Keberhasilan desa wisata tidak hanya diukur dari jumlah kunjungan, tetapi dari sejauh mana dampaknya dirasakan oleh masyarakat lokal. Dalam hal ini, Pentingsari menunjukkan perkembangan yang signifikan.
Menurut Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, desa ini telah mencapai status desa wisata mandiri, dengan sekitar 32 ribu kunjungan wisatawan sepanjang 2025. Angka tersebut bukan hanya statistik, tetapi indikator bahwa desa mampu menjadi motor penggerak ekonomi.
Setiap kunjungan wisatawan menciptakan efek berantai: homestay terisi, produk UMKM terjual, jasa lokal digunakan, hingga lapangan kerja baru terbuka. Inilah yang membuat desa wisata menjadi salah satu model pembangunan ekonomi yang inklusif.
Di balik semua pencapaian tersebut, ada satu faktor yang menjadi kunci: sumber daya manusia. Ketua Desa Wisata Pentingsari, Ciptaningtias, menegaskan bahwa pelatihan dan peningkatan kapasitas masyarakat adalah fondasi utama. Pelatihan pembuatan produk berbasis sawit, misalnya, tidak hanya memberikan keterampilan baru, tetapi juga membuka perspektif bahwa potensi lokal dapat diolah menjadi peluang ekonomi.
Dengan kemampuan tersebut, masyarakat tidak lagi hanya menjadi penonton dalam industri pariwisata, tetapi menjadi pelaku utama yang menentukan arah perkembangan desa.
Membangun Ekonomi dari Akar Rumput
Pendekatan yang dilakukan di Pentingsari menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi tidak selalu harus dimulai dari skala besar. Justru dari desa, dengan sumber daya yang ada, ekonomi dapat tumbuh secara lebih berkelanjutan. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem yang saling mendukung. Program seperti ini juga membuktikan bahwa literasi ekonomi dan akses terhadap peluang sama pentingnya dengan modal finansial.
Dengan mengintegrasikan UMKM, komoditas lokal, dan pariwisata, desa wisata tidak hanya menjadi destinasi, tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi baru. Pada akhirnya, ketika masyarakat diberdayakan dan memiliki akses terhadap peluang, kemakmuran bukan lagi sekadar konsep—melainkan sesuatu yang nyata dan dapat dirasakan bersama.

