Beritakota.id, Jakarta – Gelombang demonstrasi besar-besaran bertajuk “No Kings” mengguncang Amerika Serikat. Jutaan warga dilaporkan turun ke jalan dalam lebih dari 3.000 aksi unjuk rasa yang tersebar di seluruh 50 negara bagian, menjadikannya salah satu demonstrasi terbesar dalam sejarah modern negara tersebut.

Aksi ini merupakan bentuk penolakan terhadap berbagai kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump yang dinilai semakin otoriter, mulai dari kebijakan imigrasi, perang di Iran, hingga pemangkasan anggaran publik dan kesehatan.

Demonstrasi berlangsung serentak di berbagai kota besar seperti New York, Dallas, hingga Washington D.C., bahkan meluas ke wilayah-wilayah konservatif yang sebelumnya jarang terjadi aksi besar. Di New York, puluhan ribu massa memadati jalanan Manhattan dalam aksi damai, sementara di Minnesota, aksi utama disebut sebagai salah satu yang terbesar dengan ratusan ribu peserta.

Baca juga: BUMN Energi Diuji Konflik AS-Iran, DPR: Mitigasi Harus Serius, Jangan Setengah Hati!

Tak hanya di dalam negeri, gerakan ini juga meluas secara global dengan aksi solidaritas di sedikitnya 15 negara.

Isu Besar: Dari Imigrasi hingga Ancaman Demokrasi

Gerakan “No Kings” awalnya muncul sebagai respons terhadap kebijakan imigrasi dan dugaan tindakan berlebihan aparat federal. Namun kini berkembang menjadi gerakan luas yang menyoroti berbagai isu:

– Operasi imigrasi dan penindakan oleh ICE
– Keterlibatan militer AS dalam konflik Iran
– Pemotongan anggaran kesehatan dan pendidikan
– Tuduhan penyalahgunaan kekuasaan eksekutif

Para demonstran menyuarakan kekhawatiran atas arah demokrasi di Amerika, dengan slogan utama menolak kepemimpinan yang dianggap “seperti raja”.

Meski sebagian besar aksi berlangsung damai, beberapa kota seperti Los Angeles, Dallas, dan Portland dilaporkan mengalami bentrokan antara demonstran dan aparat maupun kelompok kontra.

Namun di banyak lokasi lain, aksi berlangsung tertib dengan partisipasi tokoh publik, aktivis, hingga selebritas yang ikut menyuarakan kritik terhadap pemerintah.

Gerakan “No Kings” disebut sebagai salah satu mobilisasi sipil terbesar dalam sejarah AS, dengan estimasi partisipasi mencapai jutaan orang dalam satu hari aksi.

Meski menuai kritik dari pihak pemerintah, gerakan ini menunjukkan meningkatnya keterlibatan publik dalam isu politik dan demokrasi di Amerika Serikat.

(sumber: reuters)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *