Beritakota.id, Jakarta — Lanskap ekonomi kreatif Indonesia mulai bergerak ke fase baru: bukan lagi sekadar soal ekspansi industri, melainkan soal arah—apakah pertumbuhan akan berjalan selaras dengan prinsip keberlanjutan, atau justru menciptakan tekanan baru bagi lingkungan.
Di titik inilah Indonesia Creative Cities Network (ICCN) dan Greeneration Foundation menemukan irisan kepentingan. Pertemuan kedua entitas ini menjadi sinyal awal terbentuknya aliansi strategis yang berupaya mengunci posisi ekonomi kreatif dalam orbit ekonomi hijau.
Ketua Umum ICCN, Fiki Satari, melihat kolaborasi lintas sektor sebagai kebutuhan struktural, bukan agenda tambahan. Menurutnya, ekonomi kreatif tidak bisa lagi berdiri di ruang steril tanpa mempertimbangkan dampak ekologis.
“Ini bukan hanya ruang perkenalan, tapi upaya menyelaraskan visi dan membuka jalur kolaborasi yang lebih konkret,” ujarnya.
Hadir dalam pertemuan tersebut sejumlah pengurus inti ICCN, termasuk Mario Devys, Aldi N.K. Abidin, Suhud Trinahadi, dan Gian Rimba Nugraha. Sementara dari Greeneration Foundation, pendiri Mohammad Bijaksana Junerosano dan Direktur Eksekutif Vanessa Letizia memimpin langsung arah pembahasan.
Dari Wacana ke Desain Aksi
Jika banyak kolaborasi berhenti pada jargon, pertemuan ini justru menekankan desain implementasi. Greeneration Foundation memposisikan kerja sama ini sebagai pintu masuk untuk memperluas praktik keberlanjutan ke sektor yang selama ini dikenal dinamis, namun belum sepenuhnya “hijau”.
Bijaksana Junerosano menegaskan, kolaborasi dapat diterjemahkan ke dalam program konkret—mulai dari penguatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan inisiatif berbasis lingkungan, hingga integrasi prinsip keberlanjutan dalam rantai nilai ekonomi kreatif.
“Dampaknya harus terasa, baik bagi masyarakat maupun lingkungan,” katanya.
Nada ini menegaskan satu hal: kolaborasi tidak lagi cukup diukur dari seremoni, tetapi dari sejauh mana ia mampu menghasilkan model baru yang bisa direplikasi.
Ekonomi Kreatif di Persimpangan Arah
Secara makro, langkah ICCN dan Greeneration mencerminkan pergeseran yang lebih luas. Ekonomi kreatif Indonesia kini berada di persimpangan—antara mempertahankan pola lama berbasis pertumbuhan cepat, atau bertransformasi menuju model yang lebih berkelanjutan.
Tekanan global terhadap praktik produksi yang bertanggung jawab, ditambah meningkatnya kesadaran publik terhadap isu lingkungan, membuat integrasi aspek keberlanjutan menjadi keniscayaan. Dalam konteks ini, ekonomi kreatif justru memiliki keunggulan: fleksibel, inovatif, dan dekat dengan perubahan perilaku masyarakat.
Namun tanpa kerangka kolaborasi yang kuat, potensi itu berisiko terfragmentasi.
Aliansi ICCN dan Greeneration menjadi upaya untuk menutup celah tersebut—menghubungkan jejaring kreatif dengan pendekatan berbasis lingkungan, sekaligus mendorong lahirnya standar baru dalam praktik industri.
Ke depan, tantangannya bukan lagi pada membangun narasi, tetapi memastikan eksekusi. Sebab dalam ekonomi hijau, legitimasi tidak datang dari rencana, melainkan dari dampak yang terukur. (Lukman Hqeem)

