Beritakota.id, Bogor — Momentum Syawal tidak sekadar dimaknai sebagai tradisi saling memaafkan, tetapi juga ruang konsolidasi arah gerakan. Hal ini tercermin dalam kegiatan silaturahmi dan halalbihalal yang diselenggarakan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Kota Bogor di Pondok Anhaarul Huffaadz, Kabupaten Bogor, Jumat (3/4/2026).
Namun, pertemuan ini membawa bobot yang lebih dalam dari sekadar agenda tahunan. Ia beririsan langsung dengan memori historis bangsa—tanggal 3 April, yang menjadi penanda lahirnya Mosi Integral Mohammad Natsir pada 1950, sebuah langkah politik yang mengakhiri fragmentasi negara dan mengembalikan Indonesia ke bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Baca juga : Menulis, Dakwah, dan Zaman Baru: Piknik Literasi Jendela Puspita di Bekasi
Ketua DDII Kota Bogor, Ustaz Abdul Khalim, secara eksplisit menautkan kegiatan ini dengan konteks tersebut. Dalam pandangannya, Mosi Integral bukan hanya peristiwa politik, tetapi juga cerminan visi kepemimpinan dan keberanian mengambil posisi strategis di tengah situasi yang tidak pasti.
“Silaturahmi ini terasa berbeda, bukan hanya karena tempatnya yang baru, tetapi juga karena bertepatan dengan momentum bersejarah,” ujarnya.
Digelar di lingkungan Pondok Anhaarul Huffaadz yang asri, kegiatan ini menjadi titik temu antara refleksi historis dan kebutuhan aktual gerakan dakwah. Dalam lanskap yang semakin kompleks—baik secara sosial, ekonomi, maupun geopolitik—organisasi dakwah dituntut untuk tidak hanya adaptif, tetapi juga memiliki arah yang jelas.
Dari Agenda Seremonial ke Konsolidasi Organisasi
Rencana awal kegiatan yang bertajuk “Kemah Mosi Integral” sebenarnya dirancang lebih ambisius, dengan melibatkan Akademi Dakwah Indonesia (ADI) dan seluruh struktur pengurus. Namun, keterbatasan waktu dan suasana Syawal membuat format tersebut disederhanakan menjadi silaturahmi keluarga besar DDII Bogor Raya.
Meski demikian, penyederhanaan format tidak serta-merta mengurangi substansi. Justru di ruang yang lebih cair, muncul pembicaraan strategis mengenai arah organisasi ke depan.
Abdul Khalim mengungkapkan, DDII Kota Bogor tengah menyiapkan sejumlah langkah penguatan internal, termasuk penambahan program berbasis peningkatan kapasitas kader. Salah satunya melalui sesi berbagi ilmu rutin dalam rapat pekanan.
Langkah ini mengindikasikan pergeseran pendekatan: dari sekadar aktivitas dakwah konvensional menuju model yang lebih sistematis dan berbasis penguatan sumber daya manusia.
Selain itu, dalam waktu dekat, organisasi juga akan memasuki fase transisi kepemimpinan melalui pelantikan pengurus baru. Momentum ini dinilai krusial untuk memastikan kesinambungan visi sekaligus membuka ruang regenerasi.
Menjaga Relevansi Dakwah di Tengah Perubahan
Dalam tausiyahnya, Kepala Biro Perpustakaan DDII, Ustaz Hadi Nur Ramadhan, mengingatkan kembali fondasi intelektual yang menjadi warisan para pendiri Dewan Dakwah. Ia menyoroti bahwa organisasi ini lahir dari rahim sejarah panjang perjuangan tokoh-tokoh besar seperti Mohammad Natsir, KH Taufiqurrahman, dan Prof. Rasjidi.
Namun, yang lebih penting dari sekadar mengenang nama, adalah memahami pesan yang mereka tinggalkan.
Hadi menekankan dua konsep kunci yang menjadi pesan Natsir kepada para kader: tafaquh fiddin (pemahaman mendalam terhadap agama) dan tafaquh finnas (pemahaman terhadap realitas sosial dan dinamika global).
“Seorang dai tidak cukup hanya memahami agama, tetapi juga harus mampu membaca kondisi umat dan perkembangan dunia,” ujarnya.
Pesan ini menjadi relevan dalam konteks hari ini, di mana dakwah tidak lagi berlangsung dalam ruang homogen. Perubahan teknologi, arus informasi global, hingga dinamika geopolitik menuntut pendekatan yang lebih kontekstual.
Bogor dalam Peta Sejarah Dakwah Nasional
Menariknya, diskusi juga mengarah pada posisi strategis Bogor dalam sejarah perkembangan dakwah di Indonesia. Hadi menyebut, sejumlah tokoh penting Dewan Dakwah memiliki keterkaitan erat dengan wilayah ini, mulai dari KH Didin Hafidhuddin hingga Prof. AM Saefuddin.
Tidak hanya tokoh, berbagai institusi penting juga lahir dan berkembang di Bogor, seperti Badan Kerja Sama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI), Pondok Pesantren Darul Falah, Tarbiyatun Nisa, hingga Universitas Ibn Khaldun (UIKA).
Fakta ini membuka ruang refleksi bahwa Bogor bukan sekadar lokasi geografis, melainkan simpul penting dalam jaringan dakwah nasional.
Dalam konteks itu, muncul gagasan untuk membangun museum sejarah keislaman di Bogor, khususnya yang merekam perjalanan Masyumi dan Dewan Dakwah. Usulan ini mencerminkan kebutuhan untuk merawat ingatan kolektif sekaligus memperkuat identitas gerakan.
Simbol Pembangunan dan Arah Ke Depan
Di ujung acara, simbolisasi masa depan ditandai melalui peletakan batu pertama pembangunan aula anjungan dan rumah asatidz di lingkungan Pondok Anhaarul Huffaadz. Prosesi ini dilakukan oleh Pembina Dewan Dakwah, KH Muhammad Abbas Aula, bersama jajaran pengurus.
Lebih dari sekadar pembangunan fisik, langkah ini merepresentasikan upaya memperkuat infrastruktur dakwah—baik sebagai pusat pembinaan umat maupun ruang konsolidasi gerakan.
Ketua Yayasan Anhaarul Huffaadz, Ustaz Istikhori, menjelaskan bahwa sejak berdiri pada 2021, pondok tersebut telah menjadi ruang aktif bagi berbagai kegiatan keislaman, mulai dari majelis ilmu hingga pusat kajian lintas kelompok dakwah.
“Tempat ini kami siapkan untuk pembinaan umat. Harapannya, ke depan bisa memberi manfaat yang lebih luas,” ujarnya.
Kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin KH Muhammad Abbas Aula, yang tidak hanya mencakup harapan bagi organisasi, tetapi juga bagi umat Islam secara global, termasuk mereka yang berada di wilayah konflik seperti Palestina.
Di tengah dinamika zaman yang terus bergerak, apa yang dilakukan DDII Bogor menunjukkan satu hal: dakwah tidak cukup hanya bertahan—ia harus bertransformasi. Dan seperti halnya Mosi Integral di masa lalu, arah yang diambil hari ini akan menentukan bentuk perjalanan ke depan. (Lukman Hqeem)

