Beritakota.id, Jakarta – Duka mendalam menyelimuti Tentara Nasional Indonesia (TNI) setelah tiga prajurit terbaik gugur saat menjalankan misi perdamaian dunia di Lebanon. Tragedi ini kembali membuka fakta bahwa penugasan dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) memiliki risiko tinggi, bahkan bagi pasukan yang telah terlatih sekalipun.
Eks anggota UNIFIL periode 2010–2011, Serma (Purn) Muhtar Efendi, mengungkapkan bahwa situasi di wilayah penugasan memang sangat kompleks dan berbahaya.
Menurut Muhtar, pasukan penjaga perdamaian berada di wilayah rawan konflik antara Israel dan Lebanon, sehingga ancaman selalu ada meskipun telah dibekali Standar Operasional Prosedur (SOP) dan Rules of Engagement yang ketat.
Baca juga: Prabowo Subianto Tak Kuasa Tahan Haru Saat Antar Tiga Prajurit TNI Gugur
“Penugasan di Lebanon itu memang mengandung risiko tinggi. Kita berada di tengah dua wilayah yang berkonflik, dan tidak boleh memihak ke salah satu pihak,” ujarnya dalam program Kompas Malam KompasTV, Minggu (5/4/2026).
Ia menegaskan bahwa misi utama UNIFIL adalah menjaga stabilitas dan memastikan implementasi Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701 yang bertujuan menghentikan permusuhan antara Israel dan Hizbullah sejak 2006.
Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Operasi Perdamaian, Jean Pierre Lacroix, mengonfirmasi bahwa dua personel UNIFIL yang gugur dalam ledakan tersebut berasal dari Indonesia.
Peristiwa ini menegaskan bahwa meskipun membawa mandat perdamaian, pasukan UNIFIL tetap berada dalam ancaman nyata konflik bersenjata.
Baca juga: 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Pemerintah Pastikan Repatriasi Aman di Tengah Konflik
Muhtar Efendi pun menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban dan seluruh prajurit TNI.
Ketiga jenazah prajurit TNI yang gugur telah dipulangkan ke Indonesia dan tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, pada Sabtu (4/4/2026).
Kepulangan mereka disambut dengan penghormatan militer sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian dalam menjaga perdamaian dunia.

