Beritakota.id, Jakarta – Pentingnya penanganan cepat pada pasien stroke kembali ditegaskan dalam acara Halal Bihalal & Stroke Survivor Gathering : Stronger than Ever! yang digelar di Aviary Hotel Bintaro, Jumat (10/4).
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi para penyintas stroke, tetapi juga sarana edukasi kesehatan yang menyoroti krusialnya waktu emas (golden period) dalam menyelamatkan fungsi otak pasien.
Dokter spesialis neurologi dari RS Premier Bintaro, dr. Meidianie Camellia, menjelaskan bahwa stroke merupakan kondisi kegawatdaruratan medis akibat terganggunya aliran darah ke otak, baik karena sumbatan maupun perdarahan.
“Stroke menyebabkan sel-sel otak kekurangan oksigen dan berisiko mengalami kerusakan permanen jika tidak segera ditangani,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa penanganan dini menjadi faktor penentu utama dalam proses pemulihan pasien. Terdapat periode kritis yang dikenal sebagai golden period, yakni dalam 24 jam pertama sejak serangan terjadi, khususnya 4,5 jam awal untuk pemberian terapi optimal.
“Pasien stroke akibat sumbatan yang mendapatkan penanganan dalam waktu kurang dari 4,5 jam memiliki peluang lebih besar untuk memulihkan fungsi tubuh secara signifikan,” ujarnya.
Seiring perkembangan teknologi medis, peluang pemulihan pasien stroke kini semakin terbuka. Jika sebelumnya kerusakan saraf dianggap permanen, berbagai metode terapi modern kini mampu membantu pemulihan fungsi tubuh secara bertahap.
Baca juga: Stroke Jadi Penyebab Kematian Tertinggi di Indonesia.
Namun, keberhasilan penanganan tidak hanya bergantung pada tenaga medis. Kesadaran masyarakat dalam mengenali gejala awal stroke juga menjadi faktor kunci. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain wajah menurun sebelah, kelemahan pada lengan atau kaki, serta gangguan bicara.
“Edukasi kepada masyarakat sangat penting agar pasien segera mendapatkan pertolongan medis saat gejala pertama muncul. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang pemulihannya,” tambah dr. Meidianie.
Selain penanganan medis, proses rehabilitasi juga memegang peran penting dalam pemulihan pasien. Dengan terapi yang tepat serta dukungan keluarga dan lingkungan, pasien memiliki peluang untuk kembali menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Di sisi lain, sistem layanan kesehatan di Indonesia masih menghadapi tantangan dalam mempercepat respons penanganan stroke. Oleh karena itu, kolaborasi antara tenaga medis, fasilitas kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas layanan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini dan penanganan cepat stroke semakin meningkat, sehingga angka kecacatan dan kematian akibat penyakit ini dapat ditekan.
“Dengan penanganan cepat dan tepat, serta dukungan dari keluarga, peluang pemulihan pasien stroke dapat meningkat secara signifikan,” pungkasnya. (***)

