Beritakota.id, Jakarta — Gerakan Kristiani Indonesia Raya (GEKIRA) menegaskan komitmennya dalam menjaga toleransi, kerukunan, dan persatuan nasional menyusul polemik penyegelan rumah ibadah di wilayah Tangerang.
Komitmen tersebut disampaikan dalam rapat bersama antara pimpinan pusat GEKIRA dengan perwakilan Gereja POUK Tesalonika, yang membahas penyelesaian persoalan penyegelan gereja secara konstruktif dan berkeadilan.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh Ketua Umum GEKIRA Nikson Silalahi, Sekretaris Jenderal Yeremias Ndoen, jajaran pengurus pusat, perwakilan gereja yang dipimpin Michael Siahaan, serta Staf Khusus Menteri Agama Gugun Gumilar.
Dalam pernyataannya, Nikson menegaskan bahwa GEKIRA sebagai bagian dari Partai Gerindra memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga nilai-nilai kebangsaan, termasuk kebebasan beragama.
“GEKIRA harus selalu hadir memperjuangkan toleransi dan persatuan nasional sebagai bagian dari komitmen kebangsaan,” tegasnya.
Ia menilai persoalan penyegelan rumah ibadah harus disikapi secara tegas, namun tetap mengedepankan pendekatan dialogis dan rasional. Menurutnya, penyelesaian yang tidak tepat justru berpotensi memicu konflik sosial baru.
“Pendekatan dialog dan akal sehat harus dikedepankan agar solusi yang dihasilkan tidak merusak harmoni sosial,” ujarnya.
GEKIRA juga menekankan bahwa penyelesaian persoalan rumah ibadah tidak cukup dilakukan secara reaktif, tetapi harus melalui pendekatan sistemik yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan tokoh masyarakat.
“Kami tengah menyiapkan kajian komprehensif agar persoalan ini dapat dilihat secara menyeluruh dan menghasilkan solusi yang adil bagi semua pihak,” tambah Nikson.
Sementara itu, Kementerian Agama melalui Gugun Gumilar mengapresiasi langkah GEKIRA dalam mendorong penguatan toleransi beragama di Indonesia. Menurutnya, inisiatif tersebut sejalan dengan upaya pemerintah dalam menjaga kerukunan di tengah keberagaman masyarakat.
“Kami mengapresiasi peran aktif GEKIRA dalam mendorong toleransi. Ini sejalan dengan program pemerintah dalam menjaga harmoni dan persatuan bangsa,” ujarnya.
GEKIRA menegaskan bahwa tantangan intoleransi yang masih muncul di sejumlah daerah harus direspons dengan pendekatan inklusif dan menyejukkan, bukan konfrontatif. Organisasi ini juga berkomitmen untuk terus menjadi jembatan dialog lintas kelompok demi memperkuat persatuan nasional. (***)

